[BOOK REVIEW] Shadow and Bone by Leigh Bardugo



Judul: Shadow and Bone
Pengarang: Leigh Bardugo
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-979-433-785-1
Tebal Buku: 350++ hlm.

BLURB

Terkepung musuh, Negara Ravka yang pernah berjaya, saat ini terbagi dua oleh wilayah terselubung kabut kegelapan penuh monster pemburu daging manusia. Nasib Ravka berasa di pundak seorang pengungsi kesepian, Alina Starkov.

Yatim piatu, kesepian, dan merasa tidak istinewa, hidup Alina benar-benar suram jika saja tak ada Mal, satu-satunya sahabat Alina yang tersisa. Ketika resimennya diserang di Shadow Fold, sahabatnya terluka parah. Semua yang ia miliki nyaris terenggut darinya.

Alina dibawa ke istana untuk dilatih sebagai anggota Grisha, pasukan sihir pimpinan Sang Kelam yang misterius. Sang kelam percaya bahwa di balik masa lalunya yang mencekam, Alina memegang kunci yang bisa membebaskan negaranya dari peperangan. Namun, itu berarti Alina harus berpisah dengan Mal.

Dengan kegelapan yang terus membayangi dan seluruh kerajaan bergantung pada kekuatannya, Alina harus berhadapan dengan rahasia Grisha ... dan rahasia hatinya.
---

Buku ini bercerita tentang petualangan Alina Starkov dari seorang asisten kartografer (pembuat peta) yang yatim piatu, kemudian menjadi seorang Grisha sang pemanggil cahaya. Dalam buku ini, di halaman awal disuguhkan peta Shadow Fold yang nantinya akan muncul nama-nama daerah di dalam cerita. Juga ada pengertian tentang Grisha, Corporalki, Etherealki, dan Materialki, yang merupakan kelompok-kelompok yang membedakan diri berdasarkan dari jenis kekuatan yang mereka miliki.

Peta Shadow Fold


Alina dan Mal adalah teman kecil di sebuah panti asuhan yang dirawat oleh seorang perempuan bernama Ana Kuya. Alina dan Mal merasa dekat dan senasib karena memiliki latar belakang yang sama. Suatu hari Alina dan Mal yang merupakan bagian dari tentara melakukan perjalanan menyebrang dari Os Alta (Ravka) melewati Vy hingga ke Kribirsk. Namun, ketika dalam perjalanan melewati Fold, sekumpulan Grisha datang, pasukan Alina pun diserang oleh volcra; monster yang memiliki cakar tajam dan panjang, sayap berbulu, dan sederet gigi setajam gergaji untuk mencincang daging manusia. Volcra ini buta, hidup di Fold, namun bisa mencium darah manusia dari kejauhan.

Mal terserang volcra hingga bagian bahunya terkoyak akibat gigitan volcra. Alina pun tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Mal. Namun, akhirnya tanpa disadari, Alina mampu mengusir volcra itu dengan cahaya putih yang keluar dari dirinya. Mengetahui Alina bisa memanggil cahaya, Sang Kelam, pemimpin pasukan Grisha kemudian membawa Alina untuk ikut bersamanya. Pada awalnya Alina tidak mau karena ia harus meninggalkan Mal dengan pasukannya. Ia tetap dibawa Sang Kelam ke Tenda Perwira. Disana Alina diberikan kefta (pakaian khas yang digunakan oleh para Grisha) untuk mengganti pakaiannya yang lusuh.

Alina yang merasa ragu karena dirinya bukan Grisha sempat tercengang saat masuk ke Istana Kecil yang juga megah. Ia berkenalam dengan Genya, seorang Penjahit yang bertugas membuat kefta bagi para Grisha dan membuat penampilan Grisha menjadi lebih baik lagi. Di Istana Kecil, Alina tidak bisa bermain-main. Ia dilatih oleh Baghra untuk memaksimalkan kekuatannya memanggil cahaya. Selain Baghra, Alina juga dilatih oleh Botkin untuk melatih kekuatan fisiknya. Alina menjadi anak kesayangan Sang Kelam, karena dialah satu-satunya Pemanggil Cahaya yang mereka punya.

Ada suatu kejanggalan yang terjadi. Alina dibiarkan berlatih seperlunya. Sang Kelam membuatnya merasa bahwa ia dibela, bukan dimanfaatkan. Pada akhirnya Alina tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Sang Kelam atas dirinya. Dengan segala rahasia yang diberitahukan oleh Baghra, Alina kabur dari istana kecil ke daerah pegunungan. Hingga akhirnya ia bertemu lagi dengan Mal dan bertahan hidup seperti buronan.

Di tengah perjalanan, Sang Kelam berhasil menemukan mereka juga sekelompok Morozova, kawanan Rusa Putih besar yang apabila diambil tanduknya mampu meningkatkan kekuatan hingga berkali-kali lipat. Ya, tanduk itu milik Alina dan Sang Kelam telah membunuh rusa itu dan memasangkan tanduknya sebagai kalung ke leher Alina. Dengan begitu, Sang Kelam mampu mengendalikan kekuatan Alina yang susah meningkat. Namun, di saat terdesak akhirnya Alina mampu mengalahkan Sang Kelam.
---

Buku ini sebenarnya mengasyikkan. Cerita fantasi yang dihadirkan mampu membuat imajinasi saya semakin berkembang. Namun, saya kesulitan menghapal nama daerah dalam buku ini, mungkin sedikit asing untuk saya. Satu hal yang saya pikirkan adalah soal pakaian para grisha, kefta. Saya berpikir bahwa kefta ini semacam jubah atau baju kaftan. Entahlah. Hahaha.

Rate: 3/5.

Purwokerto, 21 Juni 2015. 16:47.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)