[Parodi Cerita Rakyat] Gadis Korek Api

Gadis Korek Api

Di suatu malam yang dingin, ada dua orang gadis yang sedang menjajakan korek api. Udara malam itu sangat dingin, sehingga mereka berdua menggunakan pakaian yang tebal. Menjual korek api sudah menjadi pekerjaan sehari-hari mereka. Gadis pertama bernama Lili dan gadis kedua bernama Lulu. Meskipun memiliki nama yang mirip, mereka tidak memiliki keturunan kembar.

“Aku jualan di sana ya. Kamu di situ aja,” ujar Lili. Lulu pun menyetujui usul Lili. Mereka memisahkan diri sembari berteriak, “Korek api… korek api…”.

Sudah hampir satu jam, udara semakin dingin. Namun belum ada satupun yang membeli korek api mereka. Lili memutuskan untuk duduk di depan sebuah toko karena merasa lelah. Tak lama kemudian ada seorang bapak yang mendekatinya.

“Korek apinya, Pak?” Lili mencoba menawarkan.

“Berapa harga satuannya?”

“Seribu saja, Pak. Kalau beli dua, gratis tiga,” ujar Lili tersenyum manja.

Si Bapak terheran-heran. “Lho, kok banyak banget? Kan lumayan tiga bungkus bisa dijual lagi.”

Lili juga mulai heran. “Siapa yang bilang gratis tiga bungkus?”

Si Bapak semakin heran. “Lho, tadi kamu yang bilang kok.”

Lili menepuk jidatnya. “Walah, maksud saya gratis tiga batang, bukan tiga bungkus!”

Si Bapak terlihat sedikit kesal, akhirnya ia hanya membeli satu bungkus korek.

Malam semakin dingin. Lili mencoba menyalakan sebatang korek api untuk menghangatkan tubuhnya. Ia menggumamkan sesuatu. Keinginan untuk menghilangkan rasa laparnya. Namun tiba-tiba angin memadamkan nyala api di tangannya. Lili mendengus kesal. Suasana semakin dingin menggigit tulang. Kemudian, ia terkejut karena di dalam keranjangnya ada sebungkus roti. Padahal ia tidak membawa apapun selain korek-korek yang dijualnya.

“Jangan-jangan… tadi itu korek ajaib? Waaah! Aku punya korek ajaib!!!” serunya.
---

Keesokan harinya Lili kaget mendengar bahwa banyak orang yang membicarakannya, terutama soal kepemilikan korek ajaibnya. Tak lama kemudian, semakin banyak orang yang mendekati Lili, mereka membentak-bentak Lili, tak sabar ingin melihat korek ajaib miliknya.

“Kamu punya korek ajaib, kan? Coba saya mau lihat!” seru seorang ibu-ibu.

“Ayo, saya mau lihat juga!” kata seorang bapak-bapak.

Lili menggeleng dan hampir menangis. Orang-orang itu tidak ada yang percaya bahwa ia tidak memiliki korek api ajaib. Lili mulai menangis ketika ada seorang bapak yang berbaik hati menolong dirinya dari seruan para ibu-ibu dan bapak-bapak yang penasaran pada korek api ajaibnya.

Akhirnya orang-orang itu pergi. Kemudian Lulu mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi. “Tadi kenapa, sih? Kok rame?” ujar Lulu.

“Mereka bertanya soal korek ajaibku.”

“Hah? Kamu beneran punya… KOREK API AJAIB?” seru Lulu histeris. “AKU MAU LIHAT!”

“Ssst! Jangan berisik! Yuk kita coba.”

Lili menyalakan korek api ajaibnya dan mengatakan keinginannya, kemudian meniup nyala apinya hingga padam.

Lulu terbengong-bengong karena tidak ada apapun yang terjadi setelah Lili meniupkan apinya. Tiba-tiba Lili berteriak, “Lihat di kakimu, Lu!” Lulu menoleh dan menemukan sebungkus cokelat di dekat kakinya.

“Wah, itu benar-benar korek api ajaib, Li!”
---
Tak berapa lama ada seorang bapak-bapak yang datang untuk membeli korek api. Karena Lili dan Lulu sedang sibuk dengan cokelat yang baru didapatkannya, Lili menyuruh bapak tersebut mengambil koreknya sendiri. Setelah membayar, bapak itu langsung pergi. Barulah Lili menyadari bahwa yang diambil bapak tersebut adalah kotak korek api ajaibnya. Mereka berdua panik dan tak tahu harus berbuat apa.

“Bruk!” suara orang terjatuh mengagetkan mereka berdua. “Duh, kok bisa nggak pas begini, sih?” ujar seorang perempuan bersayap.

Lili dan Lulu yang masih terbengong-bengong kemudian ketakutan. “Ka…Ka…kamu siapa?!”

Ternyata  perempuan itu adalah ibu peri yang akan berusaha menolong mereka. Lili pun bertanya, “Kamu siapa? Kamu darimana? Datang dari langit? Atau darimana? Terbang pakai sayap ya?”

Ibu Peri itu hanya menggelengkan kepalanya lagi. “Banyak tanya sekali kalian ini. Saya ibu peri. Saya datang dari langit, tapi saya nggak bisa terbang karena sayap saya ini cuma pajangan! Saya bisanya menghilang!”

Lili bertanya lagi seolah-olah tak mendengar penjelasan sang ibu peri, “Kamu mau apa ke sini? Kamu malaikat pencabut nyawa, ya?” 

“Yaampun, saya nggak salah dengar? Saya sudah cantik begini dibilang malaikat pencabut nyawa? Halo! Saya ibu peri. I-B-U P-E-R-I!”

“Oh, jadi kamu itu ibu peri? Bukan malaikat pencabut nyawa? Baiklah, saya mau panggil kamu… Emak Peri!” ujar Lili. Ibu Peri terkaget-kaget mendengar panggilan dari Lili. Kemudian Lili menceritakan kesedihannya karena kehilangan korek api ajaibnya. Namun ternyata, hal mengagetkan terjadi. Korek api itu tidak ajaib, melainkan ibu perilah yang melakukan semua hal itu.

Di sisi lain, bapak yang tadi membawa kotak korek ajaib itu merasa amat gembira dan mencoba satu demi satu korek ajaibnya. Namun, tak satupun hal ajaib terjadi pada bapak tersebut. Lalu ia melemparkan kotak korek api tersebut sambil mendengus kesal.
---

Ada seorang pemuda yang mengambil kotak korek api tersebut. Ia membukanya dan menemukan selembar foto yang terselip di dalamnya. Pemuda itu bernama Bani. Akhirnya ia cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk menunjukkan foto gadis tersebut pada ibu dan ayahnya.

“Ma…Pa… tadi saya nemu kotak korek api nih di jalan!”

“Ah, nemu kotak korek api aja pake heboh segala. Buang aja. Nggak penting!”

Bani memberitahu ibunya bahwa ada foto seorang gadis di dalamnya yang sangat cantik menurutnya. Ibunya mengambil foto yang masih dipegang anaknya. “Wah, ini mah foto gadis yang jualan korek api di ujung jalan itu, kan, Pak?” ujar ibunya sembari memperlihatkan pada ayahnya.

“Wah, iya. Ini yang jualan korek ajaib itu kan?”

“Yang bener, Pak?” seru Bani bergairah. “Nggak bohong kan? Kalo bohong hidungnya panjang kayak pinokio!” Ayahnya mengangguk, Bani pun berlari menuju tempat gadis yang dimaksud.
Bani datang ke tempat Lili dengan membawa seikat daun.

“Kamu Lili, kan?” tanya Bani berbasa-basi.

“Iya, kok kamu tahu?” Lili bertanya balik. Bani menunjukkan kotak korek apinya. “Wah, ini kan foto yang ada di kotak korek api saya. Kamu menemukannya dimana?”

“Di jalan,” ujarnya, nyengir.

“Kamu bawa daun untuk apa?”

“Saya nggak punya uang untuk beli bunga, jadi bawa daun saja. Hehehe,” Bani nyengir kembali. “Setelah melihat fotomu, saya ternyata menyukaimu. Kamu mau jadi pacar saya?”

“Nggak ah.”

“Kenapa?” Bani terlihat muram.

“Karena saya maunya menikah denganmu.” Lili tersenyum malu.

“Serius? Ayo deh!”

Lili dan Bani kemudian menikah hingga menjadi juragan korek api. Mereka hidup bahagia selamanya.

-THE END-
---

Cerita parodi ini diadaptasi dari dongeng anak-anak karya H.C. Andersen dengan judul yang sama. Dan pernah digunakan dalam tugas drama Bahasa Sunda sewaktu saya SMA. Naskah aslinya dalam bahasa sunda.

Naskah Cerita Parodi ini diikutsertakan dalam Giveaway Parodi Cerita Rakyat.

Purwokerto, 18 Mei 2015. 23:18.




Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)