Perihal Kerinduan

Semakin malam, semakin menghujam. Hari ini berisikan ingatan tentang rindu yang berulang kali berbisik di telinga. Aku mengaduh di sela-sela hening, meskipun dengan suara kipas angin yang berbising. Halo, Tuan, sampai dimanakah perjuanganmu kini? Aku masih berdoa. Masih mendoakan setiap langkahmu untuk sampai kepada keinginan. Hanya itu. Memang hanya itu saja.

Pada malam-malam sebelumnya aku tidak mempedulikan rindu yang merajam. Bukan lagi tentang kisah yang kemarin, tapi ini tentang sebuah tujuan yang nanti akan aku hadapi. Tuan, aku bahkan tidak berniat bertemu denganmu meski doa-doa itu senantiasa mengalir bersama hembusan angin pagi.

Tuan, bisakah kita bicara lagi perihal ini? Dengan kenyataan yang aku tahu bahwa aku tidak semudah itu melepas angan-anganku tentang kamu dan segalanya. Juga dengan kenyataan yang membuatku bisa berdiri sampai di sini meskipun aku seringkali terjebak dalam pikiranku. Aku sesungguhnya ingin sekali bicara padamu. Bisakah? Aku bisa apa?

Waktu tidak berbaik hati memang. Atau kitalah yang tidak ditakdirkan. Bagaimana caranya melawan laju takdir? Tidak bisa, kan? Baiklah, aku datang bukan karena aku ingin bertemu kamu meskipun aku rindu. Aku datang dengan niat baik seorang gadis yang ingin bercengkrama dengan orang-orang terdekatmu. Demikian adanya aku.

Sekali lagi kukatakan, "Aku rindu".

Cileungsi, 28 April 2015. 00:26.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)