[BOOK REVIEW] Cadas Tanios by Amin Maalouf #MBRCKBI2015



Judul: Cadas Tanios
Pengarang: Amin Maalouf
Penerjemah: Ida Sundari Husen
ISBN: 979-461-322-3
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun Terbit: 1999
Tebal Buku: xiv + 262 hlm.


BLURB

Novel karangan Amin Maalouf dan mendapat penghargaan Prix Gouncourt 1993 dan Grand Prix des Lecteurs 1996 ini membawa kita ke sebuah desa di pegunungan Lebanon dan mempertemukan kita pada Tanios, putra Lamia, istri Kepala Rumah Tangga Istana yang cantik jelita, idaman setiap pria. Kelahiran Tanios disambut gembira ayah dan bundanya, sanak saudara, dan seluruh penduduk desa, karena sudah lama di tunggu-tunggu. Namun, ada desas-desus, ayah Tanios adalah Cheikh, Penguasa desa itu. Tetapi Sang Penguasa bersumpah dengan jari terkembang di atas Injil di depan bibi Tanios, bukanlah dia yang membuahi Tanios. Namun nasi sudah jadi bubur, gunjingan orang tak kian reda, melainkan menjalar kemana-mana. Ketiadapastian mengenai siapa ayahnya sebenarnya menjadi titik awal dari semua peristiwa yang menimpa Tanios semasa kecil, dan mencapai puncaknya ketika pada suatu hari ayahnya, anak buah kesayangan sang Penguasa, anak buah yang penurut, rajin, pendiam tanpa keinginan yanh lebih tinggi selain mengabdi pada majikannya, menghadang Pemimping Gereka di sebuah hutan pinus di lembah desa dan meremuk kepalanya dengan sebutir peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan hadiah seorang utusan pemerintah Inggris bagi Sang Penguasa, untuk membela anaknya dan kehormatan dirinya sendiri. Tanios dan ayahnya lari bersama dari desanya, dikejar-kejar ketakutan siang dan malam. Kisah yang berlatar belakang keadaan zaman 1830-an ini, zaman pertarungan seru adu pengaruh antara negara-negara besar pada waktu itu, menghanyutkan kita dan sekaligus membuat kita terpana betapa nasib seseorang ditentukan oleh tangan-tangan yang tidak tampak dan kekuatan yang lebih besar.
---

Bahasa asli buku ini adalah bahasa Prancis, yang sebelumnya berjudul Le Rocher de Tanios, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Secara keseluruhan, buku ini penuh dengan unsur politik dan pemerintahan. Judul Cadas Tanios pasti akan membuat kita berpikir bahwa buku ini bercerita tentang asal usul batu cadas yang diberi nama Tanios, seperti tokoh dalam buku ini. Namun, isinya tidak demikian adanya, meskipun cerita tentang hal itu tetap ada dalam porsi yang tidak banyak.

Cadas Tanios diceritakan menggunakan sudut pandang ketiga, dari berbagai sumber yang didapat, namun dalam penulisannya, Amin Maalouf menuliskan dengan sudut pandang orang pertama, setelah sebelumnya menuliskan dari siapa cerita tersebut didapat. Sehingga di dalam buku ini murni merupakan cerita dari berbagai sumber, seperti pendeta, pedagang keliling, maupun seseorang yang dianggap tahu tentang cerita ini di desanya.

Bab-bab awal buku ini terasa membosankan, karena hanya menceritakan bagian sebelum Tanios lahir, yaitu kisah kehidupan ibunya, Lamia, dan penguasa yang berkuasa saat itu. Cerita ini berlatar belakang di pegunungan Lebanon. Cheikh, sebutan bagi kepala desa/wilayah/suku di Timur Tengah, diceritakan adalah seorang yang gemar menggoda gadis-gadis pelayan di istananya. Hal ini tetap berlaku, meskipun kemudian pada akhirnya Cheikh dinikahkan dengan alasan agar perilakunya dapat berubah setelah memiliki seorang istri (red--Cheikha). Penduduk desa Kfaryabda sangat menghormati Cheikh mereka, sehingga setiap kali berhadapan dengan Cheikh, mereka selalu melakukan tradisi cium tangan sebagai bukti penghormatannya.

Meskipun sudah memiliki istri, kebiasaan Cheikh menggoda perempuan tak kunjung reda. Semua penduduk desanya sudah tahu tabiat Cheikh mereka. Maka dari itu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para pelayan perempuan berusaha untuk tidak dandan ketika harus bekerja di istana. Namun, tidak bagi Lamia, tanpa berdandan pun kecantikannya akan terus terpancar. Maka suatu hari saat ia disuruh mengantar buah ke kamar Cheikh, ia nampak ketakutan. Sedangkan suaminya, Gerios, telah diperintahkan untuk mengambil pakaian musim dingin milik Cheikh di luar desa.

Dan entah apa yang terjadi, beberapa bulan kemudian lahirlah Tanios. Desas-desus yang beredar di penduduk adalah bahwa Cheikh adalah ayah Tanios dikarenakan sebelumnya Cheikh ingin memberi nama "Abbas" kepada anak tersebut. Dengan rasa hormat Gerios menyetujui usul tersebut meskipun hatinya berontak. Namun setelah beberapa hari, Gerios menyampaikan maksudnya bahwa ia ingin memberi nama anak itu dengan nama "Tanios". Desas-desus itupun belum mereda sepenuhnya. Kelahiran Tanios membuat istri Cheikh, Cheikha, dan anaknya memilih pulang ke tempat orang tuanya. Demi memperbaiki citra positif di masyarakat, akhirnya Cheikh menyusul istrinya ke tempat mertuanya.

"Mungkin kau telah berusaha agar ia tidak kekurangan apa-apa, tetapi kau telah merendahkannha. Aku tidak menikahkan anakku agar ia tidak kekurangan apa-apa! Aku menikahkannya dengan putra keluarga ternama, agar ia dihormati di rumah suaminya sama seperti ia dihormati di rumah ini." (p. 37).

Setelah melakukan perundingan dengan mertuanya, Cheikh kembali ke Kfaryabda dengan sebuah janji bahwa mertuanya itu akan mengantarkan istrinya pulang.

"Ketika Cheikha kembali ke Kfaryabda pada minggu pertama bulan Agustus, ia diantar oleh ayahnya, kelima saudaranya, enam puluh orang penunggang kuda serta tiga ratus prajurit, dan juga penjaga kuda, inang, pelayan perempuang dan laki-laki---seluruhnya mencapai hampir enam ratus orang." (p.45).
Dengan orang yang sebanyak itu, tentu penduduk Kfaryabda harus menjamu tamu Cheikhnya itu dengan segala macam persediaan yang mereka miliki. Karena persediaan hampir habis, penduduk  mengusir mereka secara halus dengan lelucon-lelucon yang mereka buat. Ternyata kedatangan mertua dengan "pasukannya" itu adalah sebuah cara untuk menyadarkan Cheikh mereka.

Bab tentang Tanios dimulai ketika anak itu mulai masuk ke sekolah pendeta Inggris. Ia belajar dengan giatnya, berbeda dengan anak Cheikh, Raad, yang selalu hanya bermain, menjahili orang, dan haus kekuasaan, hingga pada akhirnya Raad dikeluarkan dari sekolah itu. Ketika Raad dikeluarkan, mau tidak mau Lamia dan Gerios harus menyuruh Tanios berhenti sekolah juga, sebagai tanda bukti kehormatannya pada Cheikh. Namun, Tanios membantahnya, melakukan aksi mogok makan hingga tubuhnya terus melemah dan anehnya rambutnya memutih seperti uban pada orang tua. Karena putus asa, Lamia dan Gerios menyerahkan Tanios kepada istri pendeta Inggris dengan alasan kemungkinan Tanios akan mau makan dan sembuhsembuh.

Kisah percintaan Tanios pun tidak bisa dipungkiri, sebagai remaja, ia tentu merasakan perasaan semacam itu. Dan perempuan yang dijatuhcintai olehnya adalah Asma, puteri mantan Kepala Rumah Tangga, Roukoz, yang sudah dipecat karena dianggap menggelapkan hasil panen. Kehidupan percintaan itu berlangsung diam-diam. Namun, permasalahan muncul ketika Raad juga menyukai Asma dan berniat untuk menikahinya. Roukoz yang juga menginginkan kekuasaan, dengan serta merta menerima lamaran Raad. Pada akhirnya dikarenakan patah hati, Tanios memulai aksinya lagi. Dengan sangat terpaksa, ayahnya, Gerios, mencoba bicara pada Cheikh agar membatalkan lamaran Raad pada Asma. Cheikh kemudian meminta tolong pada seorang Pimpinan Gereja agar menyampaikan maksud tersebut pada Roukoz. Alih-alih menjadi penyambung lidah, Pimpinan Gereja tersebut malah melamar Asma untuk keponakannya dengan alasan Asma memiliki kecantikan yang akan sangat pantas apabila disandingkan dengan keponakannya tersebut.

Rasa geram kemudian menyelimuti Gerios sehingga ia membunuh pimpinan gereja tersebut demi membela anaknya. Tanios yang mengetahui hal itu segera menyusul ayahnya dan kabur ke negeri seberang. Kehidupan menjadi buronan tak semudah itu mereka lewati. Di negeri yang baru itu mereka hidup di losmen dengan identitas baru. Sehari setelahnya Kfaryabda diserbu oleh pasukan yang terdiri dari ratusan serdadu Wakil Raja Mesir dan Emir (sebutan kepala pemerintahan emirat di Timur Tengah-red) demi mencari Gerios dan Tanios yang sudah membunuh pimpinan gereja.

Perjalanan cinta Tanios juga menemukan titik terang. Setelah mencoba melupakan Asma, di negeri yang baru itu ia menemukan gadis berambut oranye yang membawa buah jeruk dan tinggal di lantai lima di losmen yang sama bernama Thamar. Beberapa kali bertemu, Thamar sudah mempercayakan dirinya pada Tanios.

"Ia (Thamar) telah menaruh kekayaan dan hidupnya pada orang yang tak dikenal (Tanios)." (p.178).

Konflik dalam buku ini berlanjut ketika ayahnya, Gerios, diajak pergi ke Lattaquieh oleh Fahim, kenalannya di Fatmagouste, setelah sebelumnya mendengar kabar bahwa Emir sudah wafat dan itu membuat desanya aman. Tanios tak ikut serta karena teringat janjinya pada Thamar. Ayahnya yang pergi dengan Fahim ternyata ditahan dan dibunuh sebagai hukuman karena telah membunuh pemimpin gereja. Tanios sendiri tak bisa menemukan Thamar. Pada akhirnya ia kembali ke Kfaryabda dan menggantikan Cheikh yang ditahan karena dianggap melindungi seorang pembunuh.

Cadas Tanios--batu cadas yang diberi nama Tanios itu dikarenakan Tanios tiba-tiba menghilang saat tengah duduk di atasnya. Penduduk Kfaryabda tidak ada yang melihat dirinya turun dari atas batu itu. Sehingga semua masih menjadi misteri.

"Mengikuti jejak Tanios yang tak berbekas, betapa banyak laki-laki yang meninggalkan desa itu sejak saat itu." (p. 257).
---

Berdasarkan hasil diskusi di grup whatsapp Klub Buku Indonesia, ada beberapa versi yang saya tangkap mengenai buku ini. Kisah dibalik penamaan batu Cadas Tanios ini tidak diulas secara mendalam.

"Batu itu sendiri menjadi simbol kekuasaan, kebengisan, keserakahan, dll. Cadas Tanios jadi "corong" kisah yang sifatnya mendominasi desa tersebut." - Nia Fajriyani.

Menurut Tante Alena, lenyapnya Tanios bisa dibuktikan melalui catatan puisi di halaman 256.

"Untuk semua orang lain, kau tidak ada, tetapi aku sahabat yang mengetahui.
Tanpa setahu mereka, kau berlari menelusuri jalan yang ditempuh ayah yang pembunuh, ke arah pantai.
Ia menunggumu, si gadis dengan harta karun, di pulaunya; dan rambutnya tetap sewarna matahari barat."

Membaca puisi tersebut disimpulkan bahwa Tanios pergi menemui Thamar.

Menurut Tante Alena juga, buku ini sebenarnya berisi fakta sejarah yang dimix dengan fiksi. Karena didukung oleh catatan Rahib, catatan gereja, dan juga berasal dari cerita dari mulut ke mulut selama 7 turunan.

Menurut saya sendiri, buku ini memang berisi unsur politik dan pemerintahan.

Overall 4/5.

Review ini diikutsertakan dalam Monthly Book Review Challenge Klub Buku Indonesia 2015.


Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)