Friday, February 13, 2015

Untukmu

Untukmu, yang tanpa sengaja menjadi penghuni di hati.

Aku sedang ingin bercerita. Bahwa menjadi egois dalam kehidupan ini terkadang perlu. Kalau bisa aku menuntut, aku mau. Menjadi yang diam-diam mencintaimu juga bukan keinginan. Inginku berteriak lantang, bicara seadanya tentang perasaan yang terlanjur mengembang. Namun, kadang itu jadi tak perlu ketika aku sudah dihadapkan padamu. Semuanya terasa cukup. Tak kurang apapun lagi.

Menjadi si pesakitan yang menanggung rindu setiap malam juga bukan inginku. Tapi rasanya tak semudah membalik telapak tangan untuk sekadar berkata "aku rindu padamu". Bahkan aku berusaha sebisa mungkin meredam kerinduan itu, sendiri.

Tidakkah kau mengerti bahwa saban kali hujan mengunjungiku, aku selalu tertarik untuk memutar ulang memori kebersamaan kita dahulu itu? Aku, si pecinta diam-diam memang hanya mampu melakukan hal bodoh macam itu untuk menyegarkan ingatan tentangmu. Tapi itu sungguh hal menyenangkan yang bisa kulakukan, terlepas dari aku tidak bisa menggapaimu secara nyata.

Aku sungguh tak butuh apa-apa lagi, karena bersamamu semua menjadi cukup. Meski tidak lagi bersamamu adalah ketakutan terbesar yang harus aku hadapi dengan ikhlas.

Tertanda,
Seseorang yang mendoakanmu dari jauh.

Cileungsi, 12 Februari 2015. 12:58.

1 comment: