Tuesday, February 3, 2015

Rindu = Candu

Teruntuk, temanku yang merindukan rindu (masa lalu), @thresna_s143.

Rindu. Perihal rindu juga takkan pernah habis kita bahas karena seringkali kita mengaitkannya pada cinta. Rindu yang hadir di antara kita adalah rindu yang terbungkam oleh jarak. Selepas masa SMA yang membuat pertemanan kita bagai sesuatu yang tak mudah dilupakan ataupun menjadi berlembar-lembar kisah tuk dikenang. Rindu memang seperti itu, hadir ketika sesuatu tak ada disamping kita.

Hari ini aku mau bicara rindu denganmu. Mau? Tapi bukan rindu biasa, melainkan rindu masa depan yang belum sempat kita jamah sama sekali. Kita masih dalam proses berjalan menuju ke masa depan. Pernahkah kamu merindukan masa depan, Thres? Seperti apa masa depan yang kau rindukan itu? Coba beritahu aku.

Masa depan yang aku rindukan sesederhana bertemu teman-teman SMA kita yang sudah mereguk suskses. Janji-janji masa lalu yang demikian lekat dengan hidup sudah seharusnya diwujudkan. Meskipun harus ada tekad kuat yang mengimbangi. Pernah kita semua berjanji pada hari perpisahan itu. "Kita lulus bersama dan sukses bersama (dengan jalan masing-masing)". Sederhana, kan? Tentu masih banyak rinduku pada masa depan, seakan aku sudah pernah menjalaninya (dalam mimpi, mungkin).

"Memanggil" rindu juga sangat mudah, ya? Ketika kau lewat tempat yang pernah punya sejarah dalam hidupmu, kenangan yang ada akan menguar tanpa kauminta. Tapi, aku mau bercerita juga tentang sebuah rindu yang menyakitkan. Merindukan seseorang di masa lalu. Pernah? Atau sering melakukannya? Hehehe.

Berkali-kali kita merindukan seseorang di masa lalu. Membiarkan rasa perih dan bahagia mengaduk-aduk perasaan kita. Sayangnya, kegiatan semacam itu seperti rutinitas yang tak bisa kita hindarkan. Lagi, lagi, dan lagi kita lakukan. Terus dan terus kita ulangi. Sampai kita tak merasakan lagi bahwa itu adalah hal yang menyakitkan. Ah, rindu memang candu. Punya cerita lain soal rindu? Jangan lupa ceritakan padaku ya!



Tertanda,
Temanmu yang sedang dirundung rindu.

Cileungsi, 2 Februari 2015. 10:10.

4 comments:

  1. rindu memang menjadi senjata pembunuh terampuh. apalagi kalau sudah rindu masa lalu :")

    ReplyDelete
  2. Tiap hari jadi keterusan baca suratnya nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe terima kasih sudah mampir, baca, dan komentar, Mas Fikri. Kebetulan lagi ikut event #30HariMenulisSuratCinta hehehe :))

      Delete