No Good in Goodbye

Teruntuk Tuan yang sudah kembali ke istana.

Malam ini hujan. Sama seperti malam kemarin. Selalu. Tak terkecuali. Namun di malam ini juga aku merasa ada yang (lebih) hilang dibanding malam-malam sebelumnya. Aku selalu yakin kamu akan baik-baik saja dengan hidupmu. Juga dengan orang-orang baik yang mengelilingimu dengan kasih sayang. Tuan, aku ingin bercerita. Biarlah malam ini menjadi milikku (dan milikmu) untuk sekadar membagi kisahku di dalam derasnya hujan.

"Don't be afraid of farewell. Just live on your life."
Katamu, aku tidak boleh takut pada perpisahan. Tapi buatku perpisahan itu seperti sebuah debu yang membuat alergi. Sepele, tapi menyakitkan. Kali ini sungguh sudah sangat jauh langkah kita. Aku dengan segala keterbatasan jarak mencoba menyejajarkan langkahmu yang jauh di depan. Aku masih yakin aku bisa, meskipun sebagian lain masih juga meragu.

Tuan, bagiku makna perpisahan bukan hanya sekadar perihal pertemuan fisik, tapi juga tentang pertautan hati yang hingga saat ini tak kunjung kutemukan jawabannya. Aku tidak tahu apakah selama ini aku memaksa, atau malah membuatmu jengah dengan tingkahku yang kekanakan. Untukku, kamu masih sama. Sederhana dengan caramu sendiri. Meskipun kamu rumit.

Tadi temanku bilang, katanya aku harus "pindah" ke yang lain. Kemarin juga ada seseorang yang bertanya tentang kamu. Aku kebingungan harus menjawab apa. Sudah kubilang kan, aku bersedia jatuh (cinta) padamu tanpa alasan, meskipun aku punya alasan: kesederhanaanmu. Mungkin mereka heran, mengapa aku jatuh (cinta) padamu. Tapi, apakah itu aneh? Apakah itu salah?

Aku pernah mengatakannya padamu, kan, kalau aku akan bersedih ketika menghadapi perpisahan denganmu? Itu terjadi. Bahwa saat ini jarak yang terbentang di antara kita bukan lagi hitungan puluhan langkah kaki, melainkan puluhan bahkan ratusan kilometer. Sungguh, Tuan, aku mengalami kesedihan yang (terlanjur) dalam.

Mungkin judul tulisan ini benar, tapi jika itu untuk kebaikanmu (dan juga aku) aku bersedia mengalah. Tuan, aku tidak akan mungkin menahanmu lebih lama. Kamu berhak mewujudkan segala mimpimu. Kamu berhak berbahagia dengan segala hal yang kamu senangi. Silakan saja. Selamat jalan, Tuan. Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Semoga jalanmu mewujudkan mimpi selalu dilancarkan oleh Allah. Aamiin.

But there's no "fair" in farewell
And when I see you in the street
I pray to God you don't see
The silent hell in I wish you well
But as you walk away, you don't hear me say
(No Good in Goodbye - The Script).

Ilustrasi model: Bondan Prakoso
(Anggap saja ini kamu, Tuan)

Tertanda,
Seseorang yang (dengan bersamamu) telah menjadi dirinya sendiri.

Cileungsi, 6 Februari 2015. 01:01.

Comments

  1. Pun tak apa berpisah. Kalau jalannya memang ditakdirkan untuk bertemu, pasti akan bertemu lagi. Hehehe. Mengartikan perpisahan memang butuh waktu lama ya,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Sedih aja sih sebenernya. Tapi yasudahlah hahaha.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)