Monday, February 16, 2015

Learning From You

Untuk seseorang yang berhasil menghuni hati hingga hari ini.

Selayaknya mesin, aku bukanlah mesin yang mudah rusak meski dipakai berkali-kali. Ada saat waktuku untuk mengucap jenuh saat mengharap kamu datang di waktu yang aku inginkan. Tapi nyatanya jenuh itu cuma sementara, aku kembali dengan rasa yang lebih banyak dari sebelumnya. Aku tidak pernah mempersiapkan diri untuk menghadapi kehilangan, sehingga kehilangan yang saat ini aku temui sungguh-sungguh menyakitkan.

Terlepas daripada aku hidup dalam penantian, aku selalu mencoba berpikir jernih untuk tetap berdiri di belakangmu. Kenapa? Karena aku mau menjadi yang senantiasa mendukungmu dari belakang. Dorongan yang selalu aku berikan walau tanpa kamu ketahui, karena kamu tak pernah menoleh ke belakang. Biar, hingga hari ini aku masih melakukan itu. Namun perlahan-lahan aku akan mencoba menyejajari langkahmu. Setidaknya ketika kamu tidak menoleh ke belakang, kamu akan menoleh ke samping. Bahwa sejatinya di sampingmu pun ada yang siap untuk terus menggandengmu untuk berjalan beriringan mewujudkan tujuan.

Hal yang paling aku sesali ketika aku berada di lingkaranmu adalah, aku tak mampu bicara banyak soal hal yang kausukai. Aku hanya bertanya dan kau menjawab. Sesederhana itu, tapi sedikitnya aku tak pernah membuatmu bisa leluasa bercerita. Mungkin ini kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan, baik kepadamu maupun kepada yang lain.

Setidaknya melalui perpisahan, aku akan tahu bahwa Tuhan mungkin saja akan mempertemukan kita lagi dengan kondisi yang lebih siap daripada sekarang. Aku tidak bilang kita akan bersatu, namun setidaknya 3 atau 4 tahun ke depan adalah waktu di mana kita bisa mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan sekaligus mencicil bagian mimpi yang perlu diwujudkan lagi. Jalan Tuhan sungguh sangat banyak. Melalui perjalanan ini, kehidupan selalu terasa menakjubkan. Sesuatu yang tidak kita duga menjadi sebuah keajaiban yang kita terima.

Menjadi aku yang seperti ini kadang melelahkan. Namun, aku banyak belajar dari hal-hal kecil yang aku temui. Sehingga aku tahu, mengatakannya padamu tidak selalu menjadi hal yang tepat. Bisa jadi setelah mengatakan, aku malah jadi lebih uring-uringan datipada hari ini. Melalui tulisan ini aku hanya ingin memberitahu bahwa aku beelajar bersikap seperti sedianya manusia yang sedang jatuh cinta tapi tidak terjatuh.

Semoga masih ada waktu untuk bertemu lagi.

Tertanda,
Seseorang yang berusaha bersikap dewasa.

Cileungsi, 15 Februari 2015. 16:03.

No comments:

Post a Comment