Inisial R

Untukmu, seseorang yang segar dalam ingatan, meskipun tak kutemui lagi hingga hari ini, R.

"Hai, apa kabar?" Rasanya menjadi pertanyaan pembuka yang pas untuk surat ini. Kabarmu, meski aku tidak tahu, aku selalu berharap kamu ada di dalam lindungan-Nya. Bahwa kamu selalu ada pada jalan lurus yang menuntunmu menuju kesuksesan. Sudah 7 tahun berselang sejak perpisahan kelas 6 SD. Dan sejak saat itu pula aku tak mengetahui kabarmu sama sekali. Kau... Tidak mudah ditemukan seperti kebanyakan teman kita yang dengan gampangnya kutemukan akun media sosialnya. Sebenarnya kamu kemana?

Oke, tidak penting lagi kamu di mana. Karena mungkin benar bahwa pertemuan kita hanya sebagai hiasan masa kanak-kanak yang harus kukenang dengan keikhlasan. Mungkin juga benar bahwa tidak ada hal istimewa yang perlu dilanjutkan untuk tahun-tahun ke depan di hidup kita. Kali ini kita memilih jalan masing-masing dan ini lagi-lagi sudah menjadi takdir yang harus dihadapi.

R, kamu tahu? Aku selalu menertawakan kebodohan yang aku lakukan ketika aku... menyukaimu. Ah entahlah. Mengapa di usia anak-anak seperti itu pun aku sempat memikirkan hal bodoh macam itu. Kamu mungkin tak tahu siapa yang berkali-kali menelepon ke rumahmu tanpa bicara sepatah kata pun. Itu aku. Maaf. Kadang aku hanya ingin mendengar suaramu, cukup.

Juga yang mungkin tak kamu tahu adalah betapa istimewanya bisa duduk berdampingan denganmu saat ujian sekolah berlangsung. Biar kuceritakan. Awalnya aku memilih duduk dengan teman perempuan, karena aku sama sekali tak berpikiran akan duduk denganmu, segan. Namun, dengan santainya temanku memindahkan tasku di samping kursimu. "Kamu duduk di sini aja, Wi. Biar duduknya cowok-cewek," katanya saat itu. Aku aja mengangguk lemah dan berpindah ke sampingmu dengan debar yang biasanya.

R, sungguh ini bukan sebuah surat cinta, melainkan sebuah surat pengakuan. Sepanjang 7 tahun aku tidak lagi merasakan debar itu padamu. Namun, aku tetap mencarimu, mencari kabarmu sebagai teman yang menghiasi masa kanak-kanakku. Bagian yang tetap utuh dalam memori, meski aku malu mengakuinya bahwa... yah aku tak begitu anggun menjadi perempuan. Aku sering marah-marah saat teman-teman meledek, aku sering melempar buku, pulpen, pensil, dan semua benda yang ada di dekatku ketika aku marah. Bahkan kamu pernah jadi sasaran lemparanku, kan? Hahaha. Sungguh maafkan aku.

Lepas dari semua itu, aku mengagumi keluguanmu. Kamu tidak seperti kebanyakan teman laki-laki yang begajulan jika bermain. Kamu baik dan kalem. Secara serta merta aku mengagumi banyak hal dari kamu yang aku sendiri belum sepenuhnya tahu soal itu.

R, dimana pun kamu berada. Sedianya meskipun kita tidak bertemu lagi, aku telah menempatkanmu di kotak kenangan yang baik. Dengan demikian, kamu bukan hanya seseorang yang mewarnai kehidupan masa kanak-kanakku, namun juga menjadi pengingat bahwa aku pernah melakukan hal bodoh yang membuatku geleng-geleng kepala jika mengingatnya. Dengan berakhirnya surat ini pun aku berterima kasih telah sudi menjadi teman, sahabat, serta musuhku di masa kecil. Semoga kamu selalu baik-baik saja.

Tertanda,
Afrianti Eka Pratiwi.

Cileungsi, 4 Februari 2015. 01:08.

Comments

  1. Jadi, R itu nama gebetannya kamu ya mbak? ciyeee haha btw itu nama R kayak yang di film Warmbodies

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha gebetan ya? Entahlah bisa disebut gebetan atau engga. Yang jelas dia teman SD. Gitu aja sih. :))
      Oh ya? Aku belum sempet nonton Warm Bodies. Hehehe.

      Delete
  2. Seperti membaca buku harian. Dalem banget, Kak!
    Btw, begajulan itu apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe jadi apakah ini tidak terlihat seperti sebuah surat? :D
      Begajulan itu semacam berandalan :)

      Delete
  3. Replies
    1. Saya aja enggak tahu dia baca ini atau enggak. Hehehe.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)