Tuesday, February 3, 2015

Dunia Baru

Teruntuk kakakku yang sedang menjalani hidupnya di dunia yang baru, Kak @aguzattirmidzi.

Pertama yang harus kutanyakan padamu tentu perihal kabar. Apa kabar, Kak? Baik dan sejahtera, kan? Anggaplah itu sebuah basa-basi pada kalimat pembuka sebuah surat. Ya walaupun kita terkadang bercengkrama dalam barisan kata di media sosial, tak patut rasanya apabila belum menanyakan kabar. Hahaha. Sudah lama tidak berjumpa, ya? Semoga surat ini sedikitnya mewakili percakapan yang tertunda. Kenapa kukirim surat ini? Karena aku fansmu! Hahaha.

Bagaimana keadaan Jakarta? Pasti tetap macet, panas, gerah, dan... banjir (jika musim hujan). Betah tinggal di ibu kota, Kak? Atau hanya karena tuntutan pekerjaan? Ah, aku tahu semua itu memang butuh pengorbanan, termasuk meninggalkan kota seindah Purwokerto dan kota kelahiranmu kan, Kak? Hehehe.

Hari ini aku mau berdiskusi denganmu, Kak. Perihal dunia baru yang baru saja kaumasuki beberapa bulan lalu. Iya, dunia baru yang kumaksud di sini adalah dunia pekerjaan. So, pertanyaan pertamaku adalah bagaimana rasanya memasuki dunia baru? Asik? Senang? Bagaimana? Ceritakan padaku, Kak! Kulihat sejak masuk di dunia yang baru ini Kakak terlihat berbeda. Apakah dunia itu menuntut banyak hal? Kudengar di dunia tempat kerjamu itu termasuk yang sulit dimasuki orang. Harus yang bermental baja yang bisa bertahan. Apa benar begitu?

Pertanyaanku selanjutnya adalah mengapa Kakak memilih "dunia" yang itu? Apakah karena tertarik, ada peluang, atau memang cuma itu satu-satunya pilihan yang mampu Kakak ambil? Aku yakin sih Kakak punya peluang bagus di sana. Sikapmu yang demikian itu sudah mencerminkan banyak hal (walaupun aku juga tidak terlalu tahu). Apakah kau mencintai duniamu yang sekarang, Kak?

So, menjadi editor itu apakah sebuah hal yang sulit? Haruskah pintar mendesain, mengedit video, mengedit teks visual, atau bagaimana? Aku yakin hal-hal seperti itu bisa dipelajari kalau mau, tapi ketika kita tak memiliki sense yang kuat, apakah itu tetap bisa dilakukan? Contohnya aku. Aku mau belajar desain. Aku suka melihat desain, tapi setelah mencoba beberapa kali photoshop dan membuat desain sederhana yang kusontek dari tutorial saja aku masih belum bisa dan sudah menyerah.

Dunia pekerjaan. Apakah semenyenangkan ketika kita menerima hasil dari jerih payah kita? Atau kakak pernah mengalami suatu kendala terberat ketika menjalani tahap demi tahap sebelum memasuki dunia baru itu? Bangun pagi, misalnya. Hahaha. Atau tak bisa bebas jalan-jalan karena harus lembur di kantor? Bisa ceritakan?

Untuk Kakak yang baru beberapa bulan lalu sempat kuajak foto bersama dengan toganya di hari wisuda, aku selalu berharap yang terbaik. Semoga kerasan dengan dunia baru yang sedang dijalaninya sekarang. Doakan aku juga supaya bisa menyusul di dunia yang aku mumpuni. Hehehe.



Tertanda,
Adikmu yang masih dilanda kebingungan (tentang dunia).

Cileungsi, 3 Februari 2015. 00:42.

Surat balasannya di sini.

No comments:

Post a Comment