Thursday, February 19, 2015

[BOOK REVIEW] Dear Umbrella by Alfian Daniear



Judul: Dear Umbrella
Pengarang: Alfian Daniear
ISBN: 978-602-7816-40-4
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2013
Tebal Buku: 306++ hlm.

BLURB

Dear Umbrella,
Aku menulis surat ini, di bawah hujan yang memayungi bumi
Seperti kamu yang memayungiku, menjagaku dari dingin yang beku

Entah berapa surat harus kutulis untuknya, agar aku tak perlu lagi bertanya Apakah dia memang untukku, atau dia hanya keinginan yang ragu?

Dear Umbrella,
ada satu ucapannya yang selalu kunanti:
"Seandainya kehidupan adalah hujan, maukah kamu membagi satu tempat di bawah payungmu agar kita melalui hujan bersama?"

Kamu tahu diriku tahu apa jawaban pertanyaan ini.
---

"Jika kamu merasa dunia tidak adil, naiklah komidi putar. Lihatlah tiap derajat putaran yang kamu lalui, selalu ada pemandangan yang berbeda. Itulah hidup. Tak selamanya adil itu sama." (p.22).


Buku ini bercerita tentang Raline dan payungnya. Dari judulnya kita bisa tahu bahwa buku ini bercerita tentang payung. Tapi ternyata di dalamnya tak sepenuhnya tentang payung. Kisah kehidupan Raline dan payung pemberian Zidan, teman masa kecilnya memang menjadi inti cerita ini. Namun, Kak Alfian menyuguhkan kehidupan khas remaja lengkap dengan kegalauannya. Romansa tentang hujan dan payung pun membuat cerita di dalamnya terasa dekat.

Cerita bermula ketika Raline ditinggal pergi teman kecilnya, Zidan, tanpa berpamitan terlebih dahulu. Sebelum berpisah, Zidan memberi Raline sebuah payung. Raline teramat senang karena menganggap payung itu pemberian terakhir dari Zidan dan menjadikannya sahabatnya. Raline memberinya nama, Umbrella. Raline tinggal di Magetan, Jawa Timur. Pada awalnya saya merasa nama Raline terlalu mewah untuk seorang anak yang lahir di daerah itu, namun ternyata pada bab berikutnya ada penjelasan mengapa nama sebagus itu bisa hadir. Hahaha.

Ayah Raline adalah seorang pekerja di komidi putar keliling. Hampir setiap waktu berpindah dari desa ke desa. Suatu ketika terjadi musibah pada ayah Raline dan dengan terpaksa Raline harus tinggal di Jakarta bersama Eyangnya demi meneruskan sekolahnya.
Raline yang tak mau berpangku tangan mencoba peruntungan lewat kerja part time karena melihat salah satu temannya, Meghan, yang juga melakukan hal yang sama. Berbekal selembar alamat yang diberikan Eyang Utomo, ia menemukan sebuah kedai, Dream's Window: Book, Bakery, and Cafe. Jujur, saya amat menyukai tagline Dream's Window. Dan tanpa perlu pusing untuk membayangkan bagaimana bentuk kedainya, di dalam buku ini ada sketsanya. Keren!

Ilustrasi Kedai Dream's Window


Selama bekerja di Dream's Window, Raline bertemu dengan cowok yang menjengkelkan baginya, Elbert. Pemilik Dream's Window, Sherin, ternyata memiliki bentuk mata yang sama dengannya. Namun Raline tak memikirkan hal itu lebih jauh. Hingga suatu ketika Elbert harus resign dari Dream's Window. Dan pada saat itulah Raline bertemu kembali dengan Zidan yang sudah berubah dari sejak ia pergi dari Magetan.

Sejak Zidan pergi, Raline sering menuliskan segala hal pada selembar surat yang ditujukan pada Zidan namun tak pernah dikirimkannya.

Dari segi bahasa sangat mengalir, membuat saya tidak bosan membacanya. Alurnya masih bisa tertebak, dan kadang saya buru-buru membacanya karena ingin cepat pindah ke bab berikutnya. Sejujurnya ini novel Kak Alfian yang pertama saya baca. Sejak debutnya dulu itu, saya belum sempat membelinya. Fyi, Kak Alfian merupan teman dari grup menulis yang sama dengan saya. Sehingga membaca karyanya saya seperti menemukan semangat menulisnya yang memang sudah menggebu-gebu sejak dulu. *kok jadi curhat?*

Selain suka dengan covernya yang berilustrasi gadis dengan amplop surat serta payung-payung kecil yang jatuh seperti hujan, saya menyukai ilustrasi sketsa kedai Dream's Window. Sekian.

Overall 4/5.








Cileungsi, 18 Februari 2015. 20:42.

No comments:

Post a Comment