Wednesday, February 11, 2015

Bergumul Dengan Rindu

Kepada siapapun yang sedang bergumul dengan rindu.

Menyimpan rindu layaknya mencoba terjaga di saat malam, padahal itu waktunya tidur. Padahal juga itu bukan waktunya menyusun balok-balok rindu yang semakin disusun, maka semakin tinggi, juga rentan ambruk jika kondisi pondasinya tidak kokoh. Menahan rindu layaknya ingin makan apapun yang ada, tetapi tiba-tiba teringat kalau kita sedang menjalani diet yang hampir sempurna. Rindu itu kadang seperti air; sejuk, menyejukkan. Tapi tidak semua air sifatnya menyejukkan. Air panas, air mendidih, kan tidak sejuk sama sekali. Mungkin rindu itu seperti embun pagi; sedikit, menyegarkan dan terlihat cocok di ujung dedaunan saat pagi hari.

Untukmu yang sedang bergumul dengan rindu, namun tak juga dirindukan orang itu. Jangan mengeluh, dear. Rindu kadang memang cuma jadi perasaan sepihak yang hadir kalau kita butuh. Kenapa? Kalau kita rindu, artinya kita butuh bertemu dia. Benar, kan? Rindu itu tidak butuh persetujuan pihak lain. Cuma kita yang tahu kapan kita rindu, cuma kita yang tahu bagaimana rasanya merindukan orang lain. Hanya saja rindu yang tak berbalas pun rasanya seperti mencekik kita pelan-pelan, dan salahnya kita menikmatinya.

Rindu itu sebuah anugerah, dear. Meskipun menyimpannya demikian lama juga tidak baik akibatnya. Misalnya, kita jadi uring-uringan. Ah, itu biasa mungkin. Rindu itu memang candu. Jadi, untukmu yang sedang bergumul dengan rindu, biasakan diri untuk tidak terlalu hanyut di dalamnya. Biarkan mengalir, tapi tetap pada posisi tahu diri. Sekian.

Tertanda,
Aku.

Cileungsi, 10 Februari 2015. 20:49.

No comments:

Post a Comment