Are We A Silent Lovers?

Untukmu, temanku yang sedang menganalisis berbagai kemungkinan tentang cinta diam-diam, @kinantinuke.

Lagi-lagi tentang cinta. Kenapa ya, perihal cinta tak pernah habis untuk dibahas? Bosan? Ya, terkadang. Tapi tak ada yang lebih seru dibanding membahas yang satu ini, kan? Hai, Nan, aku di sini ingin membagi kisah. Mungkin kamu sudah tahu, tapi sebenarnya aku butuh ceritamu. Tentang seseorang yang katamu memberimu energi positif saat hadir, tapi tetap meninggalkan luka saat pergi. Seseorang itu apakah layak untuk kita tunggu? Ah, kadang kitapun tak berani untuk sedikit mengungkap kritik padanya.

Are we a silent lovers?
Hahaha, sebutan macam apa itu? Pencinta diam-diam. Sungguh sangat sulit dimengerti kan, Nan? Kita selalu ingin dia tahu tanpa harus mengatakannya. Kita menjudge dirinya tak peka pada sinyal-sinyal yang seringkali kita layangkan. Kita... Tak punyakah sedikit keberanian untuk bilang padanya bahwa kita suka? Ah iya, lupa. Bukan tabiat kita untuk bicara duluan kan? Coba, Nan, coba jelaskan bagaimana analisamu tentang ini. Aku yakin kamu lebih daripada tahu soal ini.

Semakin hari aku semakin tidak mengerti lagi bagaimana aku bisa bungkam (pun denganmu) untuk tidak berusaha memulai duluan. Gengsi, ya, Nan? Hahaha. Akupun sama ternyata. Lebih daripada semuanya, gengsi meleburkan keberanian kita pada titik kalimat "Kalau dia rindu, maka dia akan datang dengan sendirinya". Pertanyaan mendasar adalah, "kapan dia merindukan kita?". Sulit ditebak. Kita bukan cenayang yang mampu menebak, kan?

Sembari berpikir, apakah setiap orang (perempuan lebih tepatnya) sering melakukan hal yang sama? Maksudku, soal cinta diam-diam itu. Kadang kita berpikir bahwa apa yang kita lakukan sudah benar, menaati kodrat: menunggu sang lelaki datang menghampiri. Tapi, tapi, tapi kenapa kita harus menunggu? Bisa jelaskan ini, Nan?

Aku sendiri masih terjebak diantara keragu-raguan. Antara bicara atau tetap diam. Bagaimana denganmu? Apakah sudah memutuskan untuk melepas atau masih bertahan dengan kondisi yang sama? Silakan, berceritalah.

Terakhir, apakah kita pantas disebut silent lovers? Bisa ya, bisa tidak. Ya, karena kita membiarkan dia tidak tahu bahwa kita suka. Tidak, karena kitapun bercerita pada teman-teman kita, kan? Hahaha. Sekian.

Tertanda,
Temanmu yang sedang disambangi keragu-raguan.

Cileungsi, 1 Februari 2015. 05:15.

Comments

  1. katanya kalo udah siap dengan konsekuensi jatuh cinta, bilang aja. daripada dipendam ternyata dianya cinta sama orang lain :D tapi buat perempuan emang masih banyak yang belum terbiasa dengan ini ya. kebanyakan yang bilang suka ya laki2. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu mbak. Susahnya ketika pengen ngomong terus ada benturan "gengsi" itu lagi. Macem-macem lah. Hehehe

      Delete
  2. Mungkin terkesan tidak etis atau apalah, akan tetapi dengan kesempatan yang mungkin sempit, akan kah kita diam tanpa berusaha memercikkan sebuah kata yang mungkin bisa jadi sedikit menyadarkanya akan ada kita di sini yang diam diam ingin menyayangimu.. karna waktu terus bergulir tanpa ada yang tau kapan gelap menjemput kita ataupun dirinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Sempat terpikir seperti itu. Tapi ternyata memang tidak semudah kelihatannya.

      Delete
  3. Tumben manggil aku mba tiw hehehe

    ReplyDelete
  4. Duh. Aduh. Aduh. Memang susah ya jadi perempuan ngga bisa ngomong duluan. Masih terlalu terikat sama omongan orang kalo jadi perempuan sebaiknya jangan mulai duluan. Padahal apa yang disimpan sudah membuncah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ashima. Betul sekali, Mbak. Kadang selalu ingin bicara, tapi lagi-lagi memang terbentur pepatah itu sendiri. Sehingga mundur lagi, tak jadi ngomong. Entah sampai kapan mau begini terus. Mau ngomong pun takut malah merusak hubungan itu sendiri, kan? Heheh.

      Delete
  5. Duh. Aduh. Aduh. Memang susah ya jadi perempuan ngga bisa ngomong duluan. Masih terlalu terikat sama omongan orang kalo jadi perempuan sebaiknya jangan mulai duluan. Padahal apa yang disimpan sudah membuncah.

    ReplyDelete
  6. Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mas Fikri. Terima kasih ya. :)
      Aku gak bermaksud menulis yang puitis, tapi hasilnya begini. Ya seadanya saja. Hehe

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)