Menanti Senja

October 31, 2014

Dokpri

Ada yang lelah menanti senja: aku
Sekiranya ada waktu yang lebih indah dari senja adalah pagi
Saat matari perlahan mulai hidup; memberi kehidupan


Ada yang lelah menanti senja: aku
Sesampainya pada titik terjenuh menunggu malam, aku memudar
Seperti sudut-sudut langit sore yang mati dimakan gelap

Ada yang lelah menanti senja: aku
Ditemani lagu-lagu sendu berlirik pilu
Aku merapalmu dalam doa senja, kemudian menjelma malam

Ada yang lelah menanti senja: aku
Sedetik yang lalu berjalan di bawah sinar matari
Yang kemudian hilang ditelan kesedihan

Ada yang lelah menanti senja: aku
Waktu bergilir dengan kaki-kaki malam yang usil
Kemudian terjebak oleh kesendirian yang merayu diri

Hai, kamu.
Sesungguhnya ada waktu yang tidak pernah kusebutkan, tapi kita mengetahui
Sebenarnya ada jejak yang kita buat, tapi tidak kita tengok ulang

Hai, kamu.
Sekiranya waktu yang mengelilingi kita hampir habis,
aku tidak akan memintanya lagi
Sekiranya tangan kita tidak bisa saling menggenggam lagi,
aku tidak akan memimpikannya lagi

Pada senja yang diselingi adzan maghrib, aku menghitung detik
Aku ingin pulang
Bersamamu.

Depan UPT Perpus, 30 Oktober 2014. 17:44
Menanti senja yang mendung.

You Might Also Like

0 comments