Hai, Kamu.

Hai. Kamu tahu apa yang aku pikirkan saat mendung? Hujan. Iya, aku memikirkan hujan. Kamu pasti tahu kenapa aku suka hujan. Kalau kamu tidak tahu, aku akan memberitahumu. Hujan itu menyejukkan, seperti kamu yang tenang dibalik semua sikapmu. Duh, kenapa aku jadi begini sih? Aku boleh bilang nggak kalau aku rindu? Atau aku harus tenang, menunggu kamu yang rindu aku? Hm, sampai kapan itu?

Senja sudah hampir tiba. Aku sudah mulai mengisi energi untuk nanti malam. Iya, aku mau menulis tentang kamu. Tentang sesuatu yang tidak bisa kuungkapkan, tapi membuatku sadar bahwa memang seharusnya begitu.

Source by google.com

Hai, kamu. Di tempatku duduk saat ini aku hanya bisa mengetik dan mengetik. Menekan tuts keyboard, kemudian berharap kamu membaca ini. Aku tidak yakin, sih. Cuma aku berharap. Tidak salah kan berharap?

Saat ini pun aku sudah berhasil menjaring luka. Semalam aku menemukanmu dalam tidurku. Aku sih senang-senang saja kalau kamu main ke mimpiku, tapi... sesudahnya aku jadi merasa... rindu. Duh, pasti kamu kesal kenapa kerjaanku selalu merindukanmu. Sumpah, aku tidak pernah berniat untuk rindu, tapi selalu ada yang membuat aku rindu. Pada akhirnya, aku jadi berlebihan. Entah.

Coba dipikir, aku seharian cuma baca novel, nonton, rapat, main sana main sini, tapi ujung-ujungnya pasti cuma satu: rindu.

Aku mencarimu, nggak ketemu. Aku nggak mencarimu, malah ketemu. Yah, aneh memang. Jadi, kapan lagi kita ketemu?

Perpus AN, 27 Oktober 2014.  17:15.
Masih digenggam rindu.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)