The Factor

Happy morning, my good readers...
Sudah sarapan? Atau masih menunggu seseorang yang ngajakin sarapan bareng? Silakan saja.

Well, sepagi ini sebelum kuliah, aku bermaksud untuk menceritakan sebuah kegelisahan yang sempat menghantui. Mungkin ini tentang hati, tapi konteksnya berbeda karena aku sedang ingin membahas bagian tentang sikap komunikasi nonverbal yang telah aku lakukan. Selama belajar di jurusan komunikasi, sedikit banyak aku tahu bahwa gerakan nonverbal yang awalnya mungkin tidak aku perhatikan, bisa membuat orang lain menginterpretasikan secara berbeda-beda. And then, this is my story.

Aku menyukai seseorang. Dengan segalanya, aku berharap bisa menutupi perasaan suka itu rapat-rapat. Aku tidak ingin orang lain tahu. Kenapa? Jawaban simpel sebenarnya: takut. Entah ketakutan macam apa yang bersarang di sana hingga membuatku merasa bahwa perasaan ini memang harus ditutup. Di sisi yang lain, aku merasa amat senang bila membicarakan orang tersebut. Akhir-akhir ini aku merasa bahwa aku memberikan ekspresi yang berbeda ketika mendengar namanya. So, itu sebuah komunikasi nonverbal, bukan? Mungkin ketika orang lain bertanya tentang, "Kamu suka sama si X?", aku bisa saja menjawabnya dengan "tidak", tetapi lain halnya ketika orang yang bertanya tersebut menyadari sikap nonverbalku secara tidak langsung akan menjawab pertanyaannya yang secara kontradiksi pula mengubah jawabanku.

Nah, permasalahannya ada pada sikap nonverbalku itu. Sekuat apapun aku menutupinya dengan kata-kata, gerakan nonverbal selalu bisa menghancurkannya dengan mudah. Entah ini berlaku pada semua orang, atau hanya aku yang melakukannya. Am I extrovert people? Dulu tidak, mungkin sekarang iya. Atau aku masih berada pada tahap transisi untuk membuka diri pada orang lain.

Kamar Kos, 24 September 2014. 07:16.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)