When You're Mom Talking About (Your Future) Wedding

Hello readers. Still awake? I do.
Barusan abis nonton Bondan Prakoso nih, lumayan ngilangin kangen. Dan sekalian ngisi kuisioner, mumpung website SIA lagi nggak down gara-gara crowded. Well, jam segini aku mau ngelantur dikit nggak apa-apa kali ya. Hubungannya sama pernikahan, masa depan, dan cinta. Duh, entahlah apakah waktu-waktu kayak gini bagus apa enggak buat ngomongin hal yang masih jauh begini. I'm still 19 years old, dear. Hahaha.

Wedding? Marriage? Aku punya target tahun 2020, mungkin itu maksimalnya sih. My mom said, "Nanti kamu lulus kuliah, kerja dua tahun, terus langsung nikah, jangan ditunda-tunda." Kalimat itu sih udah lama banget diomongin, bahkan waktu aku masih SMA, tapi aku enggak terlalu mikirin banget. Masih jauh sih. Tapi ketika kalimat itu dibicarakan sekarang, aku berpikir keras. Perhitungan matematikaku berjalan. Aku kuliah 4 tahun, kerja 2 tahun, jadi totalnya 6 tahun. Aku masuk kuliah usia 18, ditambah 6 tahun hasilnya 24. Maka, usia 24 itulah aku seharusnya menikah (sesuai perhitungan mama tentunya). Tahun 2019.


Sedikit berbagi, waktu lebaran kemarin, rumahku kedatangan pasangan muda yang dulu tetangga. Sekarang sih udah pindah. Mereka (pasangan muda itu) udah punya dua anak. Setelah mereka pulang, mamaku bicara lagi.

"Wi, liat tuh. Mbak (nggak usah sebut nama lah ya) kan abis kuliah langsung nikah, belum sempet kerja, jadi dilanjut dulu punya anak dua. Jadi nanti kalo anaknya udah bisa mandiri, dianya masih muda kalo mau cari kerja. Nanti kamu kalo mau gitu aja, Wi."

Lagi-lagi aku cuma "iya-iya" aja. Aku sih, mikir, cuma gini deh. Si Mbak itu kan emang udah pacaran sama si Mas dari waktu kuliah. Lah aku? Oke, ini bukan kode. Aku bisa apa kalo si mama udah bilang begitu? Kadang-kadang mikir juga sih, cuma ya masih lama gitu. Aku masih muda, lho.

Si mama juga suka lucu. Pernah waktu itu nanyain, "Mbak Tiwi udah punya pacar belum?"
Kujawab, "Belum, Ma."
"Oh, yaudah belajar dulu yang bener ya, Sayang. Nanti kalo mau punya pacar tuh yang punya kerjaan, mapan, jadi nanti kalo kamu nikah terus punya anak nggak repot kalo mau lahiran."

Tuh, baca sendiri kan? Ada benernya sih ucapan mama, tapi ya lucu aja. Nyuruh aku belajar tapi ujung-ujungnya ngomongin nikah lagi. Hahaha.
Dan kemudian aku hanya bisa berpikir, berdoa untuk semua ini. Semoga sih Allah memberiku seseorang yang baik, sholeh, bisa membimbing aku untuk terus beribadah di jalan-Nya untuk menuju ridho-Nya. Aamiin. Semoga seseorang itu... Kamu. Boleh, kan? Hahaha.

Cileungsi, 19 Agustus 2014. 01:30.
Playlist malam ini: Maliq and D'essentials - Pilihanku.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)