Cerbung - Abang (4)

Cerita sebelumnya Part 1Part 2Part 3

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak banyak bicara seperti saat berangkat tadi. Aku hampir saja hilang di tengah kerumunan orang di pasar. Bayangkan, bagaimana jika aku benar-benar hilang. Tidak bisa pulang ke rumah, kemudian diculik dan dijual ke luar negeri. Aku bergidik ngeri.

Angkutan kota yang kami tumpangi masih menunggu penumpang. Abang turun sejenak, membelikan aku minum. Aku sangat haus. Menangis membuatku dehidrasi. Rasa-rasanya siang yang terik ini makin membuatku ingin minum air yang banyak.

Ketika Abang kembali, ia terlebih dahulu meminum minuman yang seharusnya untuk aku yang sudah kehausan. Aku cemberut. Aku yang haus, kenapa Abang yang minum.

"Abang harus meminumnya duluan, Anggi. Jadi kalau nanti ada racun di minuman itu, Anggi tidak terkena racunnya. Hahaha," ujarnya saat kutanyakan tentang alasannya meminum duluan.

Aku tercenung. Mungkin itu sebuah hal yang konyol, tapi bagiku itu sebuah bentuk kasih sayang yang Abang berikan kepadaku.

Sesiang itu kami bercanda seperti kakak adik lainnya. Abang selalu saja menggodaku, kadang-kadang ia keterlaluan: mencubitku hingga tanganku merah. Lihat saja nanti, aku akan membalasnya.

Kami sampai di rumah tepat saat adzan zuhur terdengar dari masjid dekat rumah kami. Ramai. Tidak biasanya masjid ini sangat ramai saat zuhur. Biasanya hanya maghrib dan isya, masjid dipenuhi oleh jamaah. Tiba-tiba hatiku merasa tidak enak.

"Anggi, Andi! Kalian darimana saja?" Tanya Pak RT yang tiba-tiba mencegat kami saat melewati masjid.

"Kami dari pasar, Pak. Disuruh Ibu," jawab Abang.

"Masya Allah. Ayo kalian ikut Bapak sekarang."

Pak RT mengajak kami ke dalam masjid. Di sana, di tengah-tengah masjid terbujur sebuah tubuh yang kaku yang ditutupi sehelai kain batik. Dengan polosnya aku bertanya, "Itu siapa, Pak?"

Pak RT hanya diam. Abang sepertinya lebih mengerti situasi ini daripada aku. Ia merangkulku dengan erat. Sedetik kemudian airmatanya turun. Aku bingung, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Itu Ibu, Nggi. Ibu kita," ujarnya lirih. Aku shock dan setengah tidak percaya bahwa tubuh yang terbujur di sana adalah Ibu.

"Abang pasti bohong!!" Seruku. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan rangkulan Abang yang semakin erat.

Aku tahu jelas bahwa itu Ibu. Itu wajah Ibu yang tadi pagi masih dengan tegas mengingatkan Abang agar menjagaku selama di pasar. Ibu yang tadi pagi masih terbaring di kasur saat kami pergi.


"Anggi, Andi, kalian anak-anak pintar. Bapak yakin kalian bisa melanjutkan kehidupan. Masih ada Bapak, Bu Nur, dan tetangga-tetangga yang lain," ujar Pak RT menguatkan hati kami.

Aku masih menangis. Kemudian berlari menuju jenazah Ibu, memeluknya dengan erat. Pelukan terakhir.
***

To be continued.
Purwokerto, 4 Juni 2014. 10:49.
Galau gara-gara taylor swift mau konser dan aku gak bisa nonton :(

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)