USAI

Selamat malam, Tuan. Malam ini aku ingin bercerita. Jika kau tak ingin mendengarnya, anggap saja ini serupa desau angin yang berbisik untuk melelapkan tidurmu. Hujan telah usai kemarin malam, hari ini cerah. Bukankah itu menyenangkan? Bagiku, itu tidak menyenangkan sama sekali karena aku terlanjur mencintai hujan.

Tuan, bolehkah aku bertanya? Ini perihal perasaanku lagi. Kuharap kamu mengerti bahwa setiap rasa yang tumbuh tidak akan mungkin mati dengan sekejap mata, kecuali kamu membunuhnya dengan paksa. Kenyataannya, kamu sudah membiarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa membunuhnya.

Ada baiknya kamu tidak perlu menebar harap padaku. Ketika semua itu melaju sangat cepat tanpa kusadari, apa yang kutinggalkan di masa lalu sempat memudar dan beralih padamu. Akan tetapi, ada satu-dua hal yang membuatku membenci jarak, membenci kata-kata, dan membenci pertemuan itu.

Apa Tuan tahu bahwa aku cukup sabar menyimpan ragu yang hampir memenuhi ketidakpercayaanku padamu? Apa Tuan tahu jika aku terus-terusan memeluk rindu yang hampir menggumpal tanpa bisa kuhapus? Hei, Tuan, aku di sini. Apa kau tidak melihatku? Ah, nyatanya aku selalu lupa bahwa ada sinar yang lebih cemerlang dibanding aku.

source by google.com

Lewat angin dingin yang membuat gigil, cerita ini usai. Ya, usai. Akan kulanjutkan jika kau benar-benar nyata untuk kurengkuh.

Purwokerto, 15 Mei 2014. 00:06
Di tengah malam, tanpa inspirasi, diterjang ngantuk, dikejar deadline!

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)