The Expectation

Bee, hari ini hujan datang. Sesore yang langitnya tidak berwarna kelabu, titik-titik air turun ke bumi, deras. Ini yang pertama sejak seminggu lalu aku pulang ke kota ini. Dan rasanya seperti disiram kebahagiaan. Aku suka hujan, sangat suka bahkan. Bagiku, hujan bukan sekadar anugerah, tapi hujan menentramkan jiwa-jiwa sepi; meskipun kesepian itu sendiri dingin seperti tetes air hujan.

Meski ini hujan pertama setelah beberapa minggu, aku harap esok akan cerah. Karena, aku rindu Pangeran Pagi-ku.

source by google.com


Bee, aku ingin belajar hidup di dalam kenyataan. Namun, aku ingin tetap mencintai aksara dalam ilusi yang kubuat. Aku tidak mengerti mengapa ada banyak hal yang mudah saja membuatku tercebur dalam telaga ekspektasi, khayalan, dan segala macam kefanaan yang kadang sulit aku gapai. Seperti yang sudah-sudah, pikiranku adalah pikiran pengkhayal. Pikiran pemimpi dalam sebuah cerita sederhana. Pasalnya, aku dengan mudah menggambarkan suasana dan jalan ceritanya sendiri, padahal kenyataan yang kudapat tidak akan mungkin seperti itu.

Bee, apa aku harus jadi seorang rasionalis? Atau aku hanya perlu menggunakannya pada saat tertentu?

Ilusi dalam benakku sudah terlalu banyak mengambang. Tidak lagi jadi yang menyenangkan, tapi malah menyakitkan bagi diri sendiri. Lagi-lagi kusebut ini ekspektasi tanpa perwujudan. Dan aku tidak tahu apa esok adalah sebuah ekspektasi (lagi) atau sebuah kenyataan yang harusnya bisa kuhadapi.

Cileungsi, 8 Mei 2014. 18:40.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)