Tuesday, May 13, 2014

Thanks Allah, It's Friday

Hari telah berganti,
Tak bisa kuhindari
Tibalah saat ini bertemu dengannya...
Jantungku berdegup cepat,
Kaki bergetar hebat,
Akankah kuulangi merusak harinya...

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan, tuk menatap matanya
Mohon Tuhan, untuk kali ini saja
Lancarkanlah hariku, hariku bersamanya
(Sheila On 7 - Hari Bersamanya)

Terik matahari kuabaikan. Debu-debu yang bertebaran di udara, makin kuabaikan. Thanks Allah, It's Friday. Selalu ada kesejukan ketika Jum'at datang. Ini hariku, hari pertemuanku, juga hari kepulanganku. Jejak-jejak pengharapan masih berlanjut untuk hari ini. Bukan karena aku yang ingin, melainkan hatiku. Jika hari ini jadi yang menyenangkan, maka aku akan bermain pada setiap kata untukmu.

source by google.com

Dear, Pangeran.
Seseorang yang menyayangimu ada di sini. Bolehkah aku meminta kewajaran sikapmu padaku? Ah, ya, aku lupa jika kamu telah memberinya. Baiklah, aku tidak akan meminta apa-apa lagi.

Kau tahu betapa aku lemah di hadapannya
Kau tahu berapa lama aku mendambanya

Pangeran, apa kamu mengerti ketika hatiku bergetar melihat sosokmu siang itu? Ah, aku memang hanya bisa bergeming. Berpikir bahwa apakah aku salah mengenakan pakaian, atau harus bicara apa denganmu. Pangeran, kamu sukses membuatku geming seperti patung setelah beberapa hari sebelumnya getar ponselku selalu membuat aku berharap. Berkali-kali aku merutuki diri yang tidak tahu harus menjawab apa ketika kau berbicara tentang banyak hal. Berkali-kali pula aku menghela napas, menenangkan hatiku yang terlalu egois melompat-lompat kegirangan. Duh, entah seperti apa kikuknya aku waktu itu.

Tidak pernah ada kata-kata penting yang keluar dari mulutku. Itu kesalahan terbesarku. Aku hanya bisa merespon, "ya", "tidak", "oh gitu", atau kata-kata singkat lainnya. Padahal jika kau tahu, aku sedang berpikir bagaimana caranya bisa berlama-lama mengobrol denganmu. Seketika itu sekat-sekat di tenggorokanku serasa menutup semuanya. Hingga semua yang ingin kuucap tak pernah terkatakan.

Hai, Pangeran, bolehkah aku bertanya satu hal? Bagaimana caranya kamu bisa setenang itu ketika bersisian denganku? Apa karena kamu tidak memiliki debar yang sama seperti punyaku? Silakan jawab ini, Pangeran.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja
Beri aku kekuatan, tuk menatap matanya

Kau tahu, Pangeran? Bagiku, matamu adalah sihir. Aku tak pernah berani menatapnya, takut jika mantramu membuatku makin jatuh cinta. Tidak menatapmu saja aku bisa jatuh hati, bagaimana kalau aku menatapnya? Sejujurnya, aku adalah penggila rindu yang apatis. Aku rindu, meski aku terlihat abai. Kemarin, ketika aku duduk bersisian denganmu, semua rindu gugur dan menyisakan hingar bingar di selasar hati. Itu alasan mengapa mataku dan matamu tak pernah bertemu, gugup telah merengkuhku dengan erat.

Pangeran, bolehkah aku bertanya satu hal lagi? Jika aku menyukaimu, apa aku tidak boleh memperjuangkan rasa ini? Katamu, "perempuan itu dikejar, bukan mengejar". Tapi Pangeran, aku tidak yakin bahwa kau akan melakukan "pengejaran" itu padaku sekalipun aku menyukaimu. Apakah tetap tidak boleh, Pangeran? Ah, kenapa perasaan semacam ini selalu jadi rumit, ya?

Purwokerto, 12 Mei 2014. 19:06
Detik-detik menjelang isya, mau ke aula fisip nonton monolog teater.

No comments:

Post a Comment