Thursday, May 22, 2014

No (It's) Problem

Aku tahu ini kesalahanku telah bersedia "ditarik" oleh butir-butir rasa yang seharusnya tak pernah ada. Aku bingung. Amat bingung ketika lingkaran-lingkaran sepi itu mulai melilitku di keramaian. Padahal, bisa jadi ini hanya pikiranku yang terlanjur jatuh di telagamu.

Hai, Tuan. Apakah aku harus mengucap ini padamu? Tapi apa artinya itu ketika aku berhasil mengucap, sedangkan respon yang kuinginkan tak kunjung aku dapat? Lebih baik aku diam, kan? Lalu, perihal perkataanmu di hari itu membuatku mengerti, aku memang harus bungkam dengan semuanya.


source by google.com


Sudah beberapa hari ini tidak hujan, ya? Hanya saja mendung terus bergelayut membuat langit kelabu. Dan seperti itulah aku. Mendung, dingin, tanpa warna.

Ada baiknya mungkin aku tetap bungkam karena aku tahu ucapanku tak pernah berarti apa-apa untukmu. Kelak, beberapa tahun lagi mungkin aku sudah siap melepas (dan kau juga). Bisa jadi, aku akan berdiri dengan seseorang yang mampu membuatku merasa sempurna (dan kau juga). Atau bisa jadi pula, aku dan kau yang saling membuat satu sama lain menjadi sempurna. Rencana Allah selalu rahasia, kan?

Tuan, mulai detik ini aku akan mencoba biasa. Maaf karena pertemuan kita berawal dari misiku yang memang menyukaimu. Aku tidak akan mengatakan apapun. Entah sekarang, besok, ataupun selamanya.


source by google.com

Purwokerto, 22 Mei 2014. 07:55.
Masih mager di kasur. Haha.

No comments:

Post a Comment