Edisi Spesial: Karib

Tak mudah untuk kita hadapi perbedaan yang berarti
Tak mudah untuk kita lewati rintangan silih berganti
(Arti Sahabat - Nidji)

Bee, di dunia ini tidak pernah ada yang sempurna. Termasuk pertemanan, kan? Tapi mereka-mereka ini yang mampu membuatku hampir sempurna. Membuat mengerti bahwasannya kesalahan tidak untuk ditutupi, kebahagiaan bukan untuk disimpan sendiri, kesedihan pun demikian. Mereka membuatku mengerti bahwa jarak ribuan kilometer yang terbentang tidak memutuskan tali apapun yang ada di antara kita. Waktu kita mungkin tidak pernah sama, atau kita datang ketika kita saling butuh, kemudian tenggelam lagi dalam rutinitas setelahnya.

Percayalah, aku bangga pada mereka yang masih mampu mengisi lingkaran hidupku. Aku bangga pada mereka yang memberiku ruang dan kepercayaan untuk menumpahkan segala macam hal yang orang lain tidak ketahui. Aku bangga pada mereka yang, yah... dengan semua kesibukannya masih sempat memberitahuku tentang progress dari mimpi-mimpinya.

Setidaknya aku pernah bercerita, meskipun aku terkadang terlalu antusias untuk mendengarkan mereka bercerita. Kadang, aku hanya bisa jadi telinga yang siap mendengar kapanpun tanpa bisa jadi mulut yang siap memberi saran atas kisah-kisah mereka, baik rumit maupun sederhana.

Dear, Eka Nurwati.

Tak mudah untuk kita sadari
Saling mendengarkan hati
Tak mudah untuk kita pahami
Berbagi rasa di hati
(Arti Sahabat - Nidji)

Ingat bagaimana awal kita menjalin pertemanan? Aku bahkan masih ingat jelas bagaimana permulaan itu.

"Tiw, duduk sama gue, ya!" Ucapmu di awal kelas IX.

Sesederhana itu. Tetapi, kisah-kisah pertemanan masa SMP selalu menyenangkan. Bahkan kita masih mampu melewati zona-zona masa lalu yang sangat lucu bila diingat. Perihal pelik yang menghantui kita (terutama aku) di tahun itu membuatku mengerti. "Kekejaman" anak-anak hanya butuh diabaikan, bukannya malah disumpal oleh cecar balasan dari mulut kita. Kita hanya butuh duduk manis, kemudian belajar keras dan berprestasi untuk menyumpal bagian "kenakalan" anak-anak itu, kan?

Ah, sebenarnya bukan soal itu yang akan kubahas. Baiklah, terhitung hampir enam tahun jalinan pertemanan atau sering kita sebut persahabatan. Aku bilang, aku nyaman dengan semuanya. Nyaman dengan sifat dan sikapmu yang membuatku bisa berpikir dewasa. Nyaman dengan sikapmu yang supel dan mudah bergaul dengan banyak orang dalam waktu sedetik. Oke, ini lebay! Tidak mungkin satu detik juga, sih. Tapi bagaimanapun juga, kamulah yang menjadi teman yang sering kuhujani segala macam cerita. Mulai dari senang, sedih, gelisah, gundah gulana, dan GALAU.

Aku masih ingat pula misi konyol kita tentang Rainzu. Bukankah itu paling lucu? Rasanya tak perlu kuperjelas di sini. Kupikir kamu masih ingat bagaimana susah payahnya kita melancarkan aksi ini. Hahaha.

Juga saat hari dimana perpisahan itu sampai di sisa-sisa waktu. Hei, ingat kan bagaimana gelisahnya aku saat ingin berfoto dengan salah dua orang itu? Sayang ya misi kita hanya berhasil setengahnya alias aku hanya berhasil berfoto dengan salah satu dari target. Tidak apa-apa. Kau telah banyak membantuku.

Perpisahan 2013

Kau masih berdiri,
Kita masih di sini
Tunjukkan pada dunia
Arti sahabat

Kubilang, tidak pernah ada yang sempurna di dunia ini, kan? Begitupun kita. Ada satu hal yang pernah membuat jarak itu memudar. Mungkin benar ini keegoisanku. Mungkin benar ini ketakutanku. Dan mungkin benar ini adalah kesalahanku yang terlalu naif akan kemampuanku. Tapi lagi-lagi kamu terus bersabar menghadapi sikap egoisku. Ah, akupun masih ingat sepagi itu ketika sms-mu datang berkali-kali hanya untuk menyemangatiku. Aku terharu.

Dan meski sekarang jarak dan waktu seringkali membungkam kita, kuharap akan ada suatu ruang di mana kita bisa menghabiskan waktu untuk bercerita perihal masa depan yang kupikir sudah mulai jelas arahnya. Sukses untuk kehidupanmu. Sukses dengan mimpi-mimpimu. Sukses untuk bisnismu. Dan sukses untuk semuanya. Terima kasih telah bersedia menjadi teman terbaikku. Semoga selamanya kita berteman! Oiya, masih ingat gelang yang kauberi saat kelas XI? Gelangnya masih ada, meski sekarang tak melingkar di pergelangan tanganku, tapi ia aman dalam kotaknya. :)


Dear, Adhitya Kusuma Ardana.

Ini yang namanya Adit. Kita gak punya foto berdua soalnya :D


Untukmu, aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana dirimu. Mungkin aku bukan teman yang baik, tapi aku berusaha jadi baik. Awal pertemanan kita dimulai saat kelas VII. Hanya karena MOS dan berada di kelas yang sama yang membuat kita akhirnya dekat. Tidak banyak cerita apapun ketika pertemanan itu dimulai. Bahkan kita menjadi sedekat itu ketika ujian, kan? Atu bisa dibilang jarak kita menjadi sedemikian sempit hanya karena absen kita yang berurutan.

Well, semua yang tersimpan akan tetap tersimpan. Aku tidak tahu kapan awalnya kita menyadari bahwa waktu telah membuat kita percaya satu sama lain untuk sekadar menceritakan perihal hidup (termasuk percintaan) yang amat pelik. Hahaha. Sekarang apakah hidupmu masih di lingkaran yang sama?

Baiklah, ini perihal persahabatan atau karib atau apapun sebutan untuk kita. Kupikir selepas masa-masa SMP kita, tidak akan ada kisah-kisah yang mengalir darimu, tapi nyatanya hingga kita sama-sama duduk di bangku kuliahpun kita masih sering berbagi cerita bersama.

"Ya, gua nyaman aja sama lu. Enakan kayak gini, kita sahabatan, jadi apapun bisa diceritain."

Well, kuanggap itu sebuah pengakuan bahwa aku memang dianggap sebagai sahabatmu. Terima kasih telah bersedia jadi teman terbaikku juga. Semoga kita selamanya berteman! By the way, kemana saja dirimu? Sudah lama tidak mendengar kabar-kabarmu. Sudah menemukan yang barukah di IPB? :D Sukses untuk kehidupanmu dan semuanya, ya.
***

Tapi teman lebih dari sekadar materi

Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini...

Purwokerto, 23 Mei 2014. 00:51.
Lagi ngalong, abis ini tidur sih, soalnya ntar pagi kuliah bahasa Inggris full.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)