Dreams #2: A Writer

Aku pernah bermimpi, mengepak sayapku dalam sajak-sajak berima. Aku pernah bermimpi, merangkai aksara dalam sebuah kertas berjilid; buku. Aku pernah bermimpi menjadi seorang yang dikenal karena karya. Dan aku pernah bermimpi untuk mewujudkan semua itu.

Kisah ini akan kumulai dari detik ini saat kalian membacanya. Langkahku melaju cepat seperti roda-roda yang berputar kencang di jalanan. Bagiku, menulis adalah bagian dari mimpi. Imaji yang kutuang dalam cangkir-cangkir milikku sendiri. Menulis itu seperti membuat kue, kamu harus tahu seberapa tepat takaran dari adonanmu agar kue itu terasa lembut di lidah, tapi tetap asyik rasanya.

Menulis itu seperti membuat keripik, kamu harus tahu seberapa tipis bahannya agar keripikmu renyah dan tetap cocok untuk teman santai. Menulis itu bagian hidup, setiap hari kamu menulis.

Pepatahku, “I’m A Writer Because I’m A Professional Dreamer”. Aku seorang penulis karena aku seorang pemimpi professional. Ya, aku senang bermimpi. Tulisan-tulisanku adalah bagian dari mimpi yang kujahit bersama lingkar imajinasi. Menjahit mimpi dalam sebuah kantung kalimat kadang tidak mudah. Mungkin aku cukup bercerita tentang kehidupanku, tapi apa itu penting? Apa itu menarik? Belum tentu. Bisa saja setiap orang berkata, “Ah, gue enggak peduli. Hidup lo ini!”. Nah, kalau sudah begini mau bagaimana?


source by google.com

“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia.” Pernah dengar lirik lagu itu, kan? Nah, ini yang kusebut mimpi. Penulis adalah salah satu mimpi dan cita-citakuu. Bagaimana tidak, sejak TK aku sudah belajar menulis. Tapi bukan menulis yang seperti itu yang kumaksud di sini. Menulis yang berawal dari hobi, tapi menghasilkan uang. Materalistis? Tentu tidak. Karena tulisan adalah sebuah karya. Dan karya yang bagus pasti dihargai dengan mahal. Tidak mustahil kan jika aku bermimpi untuk dapat penghasilan dari menulis?

Kegiatan tulis-menulis ini kumulai di tahun akhir Sekolah Menengah Pertama, hingga akhirnya aku menemukan sebuah komunitas online berisi penulis-penulis muda yang mewadahi aku untuk menyalurkan hobi. Saat ini sih sudah banyak komunitas-komunitas sejenis yang bertebaran di media sosial, tapi hanya satu itu yang membuatku mempercayai kemampuanku dalam bidang ini.

Sekiranya menulis itu semudah membaca novel yang bisa habis dalam beberapa hari, pasti semakin banyak buku yang bertebaran. Sayangnya, bermain kata ternyata tidak mudah. Aku pernah mencobanya. Tenggelam dalam lautan kata itu menyenangkan sekaligus memusingkan. Aku mencobanya dalam bait-bait sederhana yang aku bisa. Dan hasilnya tidak selalu maksimal, tapi naik turun.


source by google.com

Baiklah, aku pikir kusudahi saja ocehanku kali ini. Hanya takut kalian bosan. Intinya, mimpiku masih sama: jadi penulis, apapun itu. Maunya sih penulis novel best seller. Aamiin :D Salam sukses dari si Pena Galau, di sini.

Purwokerto, 29 April 2014. 22:16.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)