Tuesday, May 20, 2014

Aku (Dipaksa) Menyerah



Kuhitung waktu yang telah kulewati. Hari-hari yang kuhabiskan dengan deretan kata. Bulan-bulan yang terapung di atas danau kesepian. Tahun yang mengisi kehampaan di ujung sesal. Meski aku tidak pernah benar-benar menghitungnya, aku tahu. Butir-butir hujan yang membentur tanah selalu punya aroma tersendiri. Lembut, seperti kata-katamu yang bergerilya saat malam menjelang.

Halo, Tuan pemilik senyum pagi. Aku bersumpah, ini akan jadi kenangan paling menyenangkan sekaligus memilukan yang aku punya. Entah rantai mana yang mengikatku untuk terus bertahan, walau bukan di sisimu. Aku tahu, selalu ada hikmah di balik semua keraguan yang merengkuh lekat-lekat. Aku tahu, selalu ada kebahagiaan yang hidup berdampingan dengan kesedihan. Mereka satu paket.

 
source by google.com

Hai, Tuan, aku mengerti bahwa ada sinar yang lebih cemerlang dibanding aku. Aku paham bahwa debar itu tidak pernah hadir menemuimu, atau mungkin kamu yang tidak pernah membukakan pintu untuk rindu yang telah lama mengetuk-ngetuk kamarmu. Tuan, aku sungguh-sungguh mengerti bahwa berdiri di sampingku (mungkin) bukan pilihan nyata yang kau inginkan. Baiklah, aku mengerti sekarang.

Nyaris 600 hari, Tuan, rasa itu sempat menenggelamkan akal sehat. Nyaris 600 hari, rasa itu berdiam di tempat yang spesial. Nyaris 600 hari pula, Tuan, rasa itu sempat membuatku hampir "mati" terkepung rindu. Dan kali ini, aku (dipaksa) menyerah oleh rajutan kata yang kaubuat.

Maaf telah membuat semuanya terlihat rumit. Sebab, akulah yang membuatnya kusut dalam gerimis.

Purwokerto, 19 Mei 2014. 19:07.
Perpus AN, di sela-sela mengerjakan tugas sispolindo.

2 comments:

  1. :''') Bukan kamu yg menarikku. Tapi aku yg bersedia tertarik.

    ReplyDelete
  2. Iya, setelah aku bersedia, kemudian ternyata kosong. Tidak ada apapun.

    ReplyDelete