Thursday, May 1, 2014

Di Kotak Masa Lalu #3

Bee, malam ini tidak hujan, langit pun tidak mendung. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu atau lebih tepatnya terlalu antusias. Rekam jejak dalam aksara tak mungkin begitu saja aku lupakan. Bagian misi penting untuk hatiku, membuat segalanya terlihat istimewa. Bahkan dengan segala hal yang biasa, semua jadi cemerlang.

Aku hanya ingin bermimpi satu kali untuk hal semacam ini, dan biarkan aku bercerita lagi tentang sebuah kisah baru yang menurutku tidak istimewa sama sekali. Tentang gadis yang selalu setia menunggu, padahal apa yang ada di hadapannya terlihat sia-sia.

Langit biru cerah membungkus kotanya hari itu. Gadis yang berambut hitam legam mengeluh pelan. Terik matahari terasa begitu mengigit di kulitnya, panas. Gadis itu menatap ke arah langit, memandang arakan kapas putih di hamparan biru di atas sana. Cantik. Seperti warna baju yang dikenakannya saat itu.

Sesiang yang membakar itu, ia menunggu seseorang. Pertemuan penting, katanya. Senyum yang mengembang di bibirnya menunjukkan semuanya. Orang itu spesial.

Satu jam berlalu.
Taman tempat pertemuannya masih ramai oleh pengunjung lain.

Dua jam berlalu.
Anak-anak kecil berlarian, saling berkejaran.

Tiga jam mendekati kehampaan.
Langit berubah jadi kelabu. Satu persatu muda-mudi meninggalkan tempat itu. Takut hujan, begitu alasannya. Namun, gadis itu tetap disana. Bergeming, menunggu seseorangnya.

Empat jam saat kilat dan petir saling bersahutan.
Ponselnya tidak bergetar sedikitpun, tanda tak ada panggilan ataupun pesan masuk dari seseorang yang ditunggunya. Mungkin ia kehabisan baterai, atau kehabisan pulsa, pikirnya.

Lima jam mengundang butir-butir air langit.
Hujan sempurna mengguyur taman itu, juga dirinya. Ia bergeming, menatap bulir air yang mulai membuat bajunya kuyup. Seseorang itu belum datang juga.

Enam jam, menjemput kekosongan.
Deras. Petir menyambar ganas. Bibirnya terkatup rapat, meski gigil sudah merengkuhnya sejak tadi. Ia tak ingin beranjak. Takut, ketika ia pergi, seseorang itu sampai. Gigil mengalir pelan ke dalam tubuhnya. Beku. Hingga akhirnya ia terjatuh dalam kekosongan yang abadi.

Di sisi lain, orang yang ditunggunya sedang tertawa. Bersama seseorang lain. Aura-aura cinta bertaburan di tempat mereka. Hangat. Ditemani kepulan aroma kopi panas di tengah dingin yang memeluk.

source: google.com

Purwokerto, 29 April 2014. 21:49

No comments:

Post a Comment