Feels Like Home

”Di mana… aku berada? Everywhere I stay, feels like home…”
Bee, apa arti rumah untukmu? Apakah hanya tempat untuk berteduh dari hujan dan panas seperti yang didefinisikan oleh anak-anak SD? Atau tempat untuk mendapat kasih sayang dan kenyamanan seperti yang aku pikirkan? Terserah bagaimana kau mendefinisikannya. Bagiku, rumah adalah tempat ternyaman, sekalipun kau sendirian atau berdua dengan Tuhanmu.

Bee, apa yang akan kau lakukan ketika bosan dengan “rumah”-mu? Melarikan diri kah? Atau tetap tinggal meski ada tekanan yang menyelimuti hatimu? Biar aku ceritakan sedikit perihal ini.

Bosan. B-O-S-A-N. Be o, Bo, es a, Sa, N. BOSAN! Kau mengerti, kan, Bee apa itu bosan? Iya, aku jenuh. Dulu sekali, aku pernah merasa bosan dengan rumah. Seringkali aku berpikir untuk meninggalkan rumah, tapi kuurungkan niat itu. Karena aku tak berani ambil risiko hidup di jalanan tanpa “atap”. Tik tok. Kebosanan sukses merajai pikiran dan hatiku. Menghimpitku pada satu hal yang hanya bisa kulakukan: kuliah di luar kota. Dan… harapanku terkabul. YES!

Welcome to the reality. Aku dituntut mandiri di kota ini, Bee. Tanpa mama, tanpa papa, tanpa adik-adikku. Aku berhasil untuk sendirian, Bee. Tanpa harus dengan cara konyolku untuk melarikan diri. Senang? Jangan kau tanya! Bebas! Itu alasanku.

Satu bulan, nyaman. Dua bulan, masih nyaman. Tiga bulan, aku rindu. Empat bulan, home sick! Ini puncaknya, Bee. Aku bosan lagi. Aku rindu suasana rumah. Iya, ini memang rumahku, rumah kecil yang aku tempati untuk sendiri. Tapi bukan rumah ini yang aku inginkan. Dua bulan berikutnya aku memendam rindu yang teramat dalam untuk rumahku di Bogor.

Lihat itu, Bee? Rumah selalu membuatku ingin pulang. Rumah selalu membuatku nyaman, entah dari jarak berapapun. Rumah selalu membuatku rindu semua momen yang terjadi di sana. Bukan begitu, Bee? Oke, aku akan ceritakan satu rumah lagi untukmu.

Aku punya rumah lain di sini, Bee. Sebuah ruangan yang lebih besar dari kamar kost-ku. Ruangan yang diisi oleh berbagai macam orang dengan latar belakangnya. Ruangan yang dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang. Itu kesan awalku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu tahu, Bee?  Aku nyaman di sana. Tempat pertama dan “dunia” pertama yang mampu membuatku betah berlama-lama. Entah, magnet macam apa yang menarikku untuk tetap berdiri beriringan bersama mereka. Mungkin itu yang aku sebut kenyamanan.



Tapi, Bee, wajarkah jika aku bosan? Atau jenuh? Atau kamu pernah merasakannya? Aku bingung harus bagaimana. Ada seseorang yang bertanya padaku saat itu, “Ketika kamu butuh waktu untuk diri kamu, tapi organisasi sedang membutuhkan kamu, kamu pilih yang mana?”. Aku bimbang, Bee. “Kalau aku sih pasti akan memilih waktu buat diri aku sendiri, karena ketika kita membiarkan diri kita terjun ke organisasi sedangkan pikiran kita sedang dalam keadaan tidak baik, bukannya itu malah menghambat kinerjamu di organisasi?” lanjutnya. Satu detik, aku diam. Dua detik, aku mencerna perkataannya. Tiga detik, aku sukses mengangguk pelan. Ia benar.

Kadang aku hanya takut, ketika pikiran dan hatiku sedang tidak baik, aku hanya akan mengacaukan semua agenda yang telah disusun rapi. Maafkan aku jika aku tidak dapat hadir setiap hari di “rumah”.

So, bolehkah aku rehat sejenak untuk “minggat” dari “rumah alam”-ku? Aku ingin terbang, hinggap di “rumah”-ku yang lain dulu. Hingga nanti aku akan kembali ketika aku sudah benar-benar pulih. Aku ingin mencicipi dunia baru yang aku miliki sekarang. Bolehkah?

Purwokerto, 23 Maret 2014.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)