Love Letter #9: Surat Dari Dunia

Dear my beloved friend, Eka Nurwati... 

Apa kabarmu di hari yang hujan ini? Seharusnya tak perlu kutanyakan lagi hal ini. Sudah pasti kau bahagia, kan? Sembilan-belas berbilang di tahun ini. Semua berubah, ya? Atau masih sama? Pembukaan ini mengawali datangnya suratku dan aku akan mengatakannya lagi: Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga yang terbaik selalu menghampirimu. 

Kali ini aku ingin membicarakan banyak hal bersamamu. Tentang dunia. Ya, dunia. Seperti kamu yang setia mengirimi surat pada dunia hampir setiap hari. Aku ingin seperti itu. Bagaimana dunia di matamu sekarang? Berbedakah? Apa duniamu yang sekarang semakin keras? Pasti iya. Mari kita diskusikan. Aku pernah dengar bahwa dunia pekerjaan adalah milik orang dewasa, tapi ternyata semua itu bohong. Di sini, di dunia ini, semua yang mustahil bisa jadi mungkin. Bahkan anak-anak kecil yang seharusnya belum mengenalnya, mereka bisa jadi salah satu bagian dari pekerjaan, termasuk kamu. 

Mungkin aku belum pernah menyambangi Sedekah Ilmu (SI), tempat kita bisa berbagi ilmu pada mereka yang membutuhkan, tapi darimu aku tahu sesuatu. Mereka anak-anak yang yah kau tahu sendiri. Mereka harus bekerja bukan bersekolah. Kehidupan memang sangat keras, bahkan untuk kaki-kaki dan tangan-tangan kecil mereka, ya? 

Sejauh ini aku salut padamu. Kamu mampu membuat mereka bisa belajar lagi meski dengan keterbatasan waktu yang mereka miliki. Prioritas mereka memang bekerja, tapi kamu menumbuhkan semangat pendidikan mereka. Kamu hebat! Semoga mereka bisa melebarkan sayapnya bersamamu nanti. 

Sekarang mari kita bicarakan tentang rasa. Atau kau mau kita tertawakan kebodohan kita dulu? Baiklah, silakan tertawa. Jika kau tidak mau, biar aku saja. Hahaha. Yang kemarin, yang kita sebut cinta saat kita menanti seseorang ternyata itu hal menyakitkan, ya? Ah sudahlah, tapi sekarang Tuhan telah benar-benar menjawab do'amu. Allah telah memberikan seseorang yang baik untukmu. Do'akan sahabatmu ini agar segera dipertemukan dengan jodohnya. :D 

Di dunia yang agaknya sulit kujelaskan, sellau ada celah untuk memacu mimpi-mimpi kita. Dunia memberi kita peluang untuk segera berlari, menggenggap piala mimpi dan berdiri sambil berkata: AKULAH PEMENANG! Maka, jangan pernah kalah dengan waktu. Walaupun waktu mempercepat larinya, kamu juga harus bisa lebih cepat dari itu. Semoga mimpi dan cita-citamu selalu terwujud. Aamiin. 

Regards, 
Si Pena Galau.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)