Friday, February 7, 2014

Love Letter #6: Bantu Aku Menggenggam Senja.

Dear @Raditaama, 

Kurasa aku tak perlu bertanya kabarmu karena aku sudah tahu kau pasti baik-baik saja, meskipun aku tidak tahu bagaimana kondisi hatimu. Mungkin saja hatimu sedang terpenjara rindu pada gadis-yang-entah-kau-sebut-apa. Ah, ya, semoga ia mampu menangkap debar rindu yang selama ini jadi candu untukmu. 

Radit, biarkan aku berkisah, tapi aku tidak akan bertanya apakah kau mau mendengar kisahku ini. Aku hanya ingin menari di atas lantai kata dan membaginya bersamamu. Dan ya, kau benar. Aku memang harus bertarung melawan sembilu. Menenggelamkan keping-keping kenang yang hidup di seluruh hatiku. 

Malam itu, sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri semua penantian, aku sadar bahwa akan ada banyak hal yang sia-sia ketika aku melanjutkan "permainan" ini. Kukira semua sudah selesai sejak Hari Perpisahan sekolah kita tempo lalu, tapi ternyata tidak. Aku... Semakin terjebak. Aku sadar, tapi aku tak bisa "berlari". Niatku tersandung batu kenangan itu. 

Semua tahu bahwa aku menyayanginya. Semua tahu berita itu. Opini mereka bermacam-macam. Mereka menganggapku perempuan hebat yang mampu menyayangi seseorang dalam kurun waktu yang lumayan lama itu meski harus terkekang rasa rindu yang tak pernah tersampaikan. Namun, ada juga yang mengatakan aku bodoh karena tetap berdiri di atas pijakan yang sama, menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang (lagi). 

Kau sendiri pun salah satu orang yang tahu tentang hal ini. Meskipun kau tidak tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi, tapi aku tidak akan membahas ini. Aku hanya terkesima dengan kata-katamu tempo lalu. Sedikit menyakitkan seperti sebuah tamparan. Tapi itulah yang kubutuhkan, "tamparan" dari seorang teman yang peduli. Aku pikir, kau benar. Tiga tahun aku menunggu, semua terasa sia-sia. 

Radit, aku berjanji akan mengubah senjaku menjadi jingga. Meski dahulu aku pernah membuatnya jadi kelabu. Aku akan berusaha, selalu berusaha membuat senja memelukku dengan cahaya jingga di ufuk barat. Bantu aku menggenggam senja, ya, kawan! Jangan pernah bosan memberiku "tamparan" itu lagi, meski aku akan ngambek padamu, tapi itu salah satu hal yang membuatku sadar bahwa masih ada orang yang peduli padaku. 

Terima kasih, Radit. Tetaplah menari di lantai kata, karena aku salah satu penggemar dari tarian jemarimu. Semoga kau bisa menjelma matari yang ceria agar gadismu selalu mencintai pagi. 

Regards, 
Si Pena Galau.

No comments:

Post a Comment