Sunday, February 2, 2014

Love Letter #2: Kisah Tentang Yang Lain

Dear, My Glassesprince…

Ini surat keduaku untuk kamu. Kali ini aku ingin bercerita tentang seseorang yang mampu mengalihkan perhatianku untuk sementara. Semoga kamu sudi membacanya.

Empat bulan setelah hari perpisahan kita di sekolah, aku merantau ke luar kota. Aku mencoba mewujudkan mimpiku, menuntut ilmu, serta yang utama adalah… menjauh darimu. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, aku belum bisa lupa. Aku masih setia mengintai media sosialmu untuk sekadar mengetahui kabar terbarumu. Aku masih belum bisa melepas bayangmu dari hatiku.

Dua bulan kemudian, aku menemukan seseorang yang jatuh di hatiku. Aku bilang, dia manis. Hatinya baik sepertimu. Dia perhatian, lebih daripada kamu. Dan dia… BERKACAMATA. Sama sepertimu, kan? Ah, entahlah, aku mulai menyukai dia untuk melupakanmu. Untuk seminggu, bayangmu sempat memudar. Menghilang tertiup angin asmaraku yang baru.

Dua minggu kemudian, aku sadar bahwa aku belum sepenuhnya melupakanmu. Aku dilanda rindu berkepanjangan, hingga akhirnya aku mengganti background desktop laptopku menjadi fotomu. Aku tetap suka kamu, tapi aku juga menyukai dia sebagai bentuk pengalihan rasa sukaku padamu.

Kamu tahu? Dia sangat baik hati. Ada saat-saat dimana aku kesulitan, dia datang membantuku. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung. Sikapnya, tutur katanya, gaya berbicaranya, semua persis sepertimu. Entah aku yang terlalu suka kamu, atau memang Tuhan sengaja mempertemukanku dengan dia yang mirip sepertimu. Ah, entahlah, aku selalu tidak mengerti.

Terima kasih sudah membaca surat ini. Semoga kamu selalu sukses hingga masa depan. Do’aku selalu ada untukmu.

Cileungsi, 2 Februari 2014.

No comments:

Post a Comment