Wednesday, February 19, 2014

Love Letter #18: Satu Hari Bersamamu

Dear, @misteeerius

Apa kabar, tukang pos ganteng? Ini suratku yang pertama untuk kamu. Bahkan meski kita tidak saling kenal, kamu selalu membaca surat-surat yang kukirim, kan? Suratku kali ini benar-benar surat cinta. Beruntung sekali aku bisa mengirimkan surat ini padamu. Pasti kau sangat lelah ya setiap hari harus mengantarkan surat-surat itu pada tujuannya. Hm, baiklah. Akan kumulai debar-debar ini dalam rentetan aksara.

Sebelumnya aku ingin bertanya perihal username akun twittermu. Mengapa kau pilih nama itu? Apakah kau berniat menjadi seseorang yang misterius? Atau bagaimana? Silakan dijawab.


Faris, debar itu hidup setiap kali kau meretweet suratku di twitter. Pernah sekali waktu debar itu bertambah kecepatannya saat ada tanda bintang kuning di tab mention-ku. Ah, entah darimana datangnya itu semua aku tidak mengerti. Aku sengaja bersembunyi, takut ketahuan bila hingar itu terdengar olehmu.

Oke, cukup. Suratku kali ini akan menyampaikan satu hal penting: hidup.
Tawaranku yang sebenernya adalah... Ah pantaskah aku mengatakan ini padamu? Baik, akan kucoba.

Hujan membunuh waktu kita bertemu 
Menyembunyikan debar dibalik tirai dingin 
Sore ini, akan kusebar ribuan kata 
Hanya untuk bercengkrama di bawah senyum bulan malam ini, bersamamu. 

Faris, mungkin bait itu tidak berarti apa-apa. Tapi, semoga kau bisa menemukan makna di baliknya. Jangan biarkan rindu ini terkelupas oleh hujan. Kutunggu kau di ujung jalan sana.

Regards,
Si Pena Galau.

No comments:

Post a Comment