Love Letter #17: Mata (Hati)


Dear, Bapak, pria terhebat di dalam hidupku. 

Aku tuliskan surat ini sebagai bentuk rasa cintaku padamu. Akan kutanyakan bagaimana kabarmu? Sejauh aku di rumah, aku jarang menanyakan kabarmu. Bahkan saat lelah pun, saat aku jauh darimu, aku jarang menanyakan kabarmu. Bagaimanapun, bukan karena aku tak peduli, tapi ah entahlah. Sulit sekali rasanya mengungkapkan rasa sayangku padamu secara langsung. Tapi sungguh, aku sayang padamu, Pak. 

Ada kesedihan yang mulai tumbuh di hatiku. Entah, selalu begini setiap pulang dari dokter mata. Kau pernah bilang, "Bukan masalah biaya pengobatannya, tapi ini masalah matamu itu. Sayang kalo nanti rusak matanya." Dan seketika hatiku mencelos mendengar perkataanmu. Aku merasa bahwa aku belum sepenuhnya menuruti perkataanmu. Perihal menyayangi mataku, aku masih seringkali berlama-lama di depan laptop tanpa kenal waktu. Padahal Bapak sudah mengingatkanku akan hal itu. 

Pak, ada penyesalan yang hidup di pikiranku. Mata, dunia untukku melihat cakrawala sudah menjadi buram tanpa bantuan kacamata. Ah, ya, salahku sendiri tidak menjaga asupan untuk mataku. Maafkan aku, Pak. 
"Kamu tahu nggak? Pas kamu sakit, Bapak itu kepengen nangis dengernya. Apalagi kamu jauh di sana. Sendiri. Apa dipikir Bapak nggak khawatir?" 

Ah, tiba-tiba saja aku meneteskan air mata mendengar ucapanmu, Pak. Aku tahu itu. Bapak pasti menyayangiku. Tapi aku tidak bisa membalas apapun, aku berusaha, tapi usahaku takkan mampu membalas semua kebaikanmu sejak aku masih dalam kandungan. 

Pak, aku berjanji akan membuatmu bangga. Aku berjanji akan menjaga mataku dengan baik agar bisa melihat betapa berartinya dirimu di hidupku. Aku berjanji, Pak. Semua hal yang tidak mampu kulihat dengan mataku, selalu mampu kubaca dengan hatiku. Semua perjuanganmu untuk memberiku pendidikan, memberiku kehidupan, semua berarti. 

Terima kasih telah membuatku mengerti arti kehidupan. Mungkin ini sedikit ucapan terima kasih yang mampu aku sampaikan padamu, Pak. Yakinlah, bahwa aku selalu mencintaimu, meski rasa itu jarang aku ungkapkan secara langsung. Semoga aku bisa membuatmu bangga sebagai orangtua yang telah merawatku. Semoga anakmu ini berhasil berdiri di puncak kesuksesan. Aamiin. 

Regards, 
Anak gadismu.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)