Love Letter #15: Galau

Dear, @aliip_ss 

Rasanya aku tidak perlu menanyakan kabarmu. Mungkin aku hanya akan bertanya bagaimana kabar kota Satria? Apakah debu vulkanik yang sampai di kota itu sudah hilang? Atau masih melapisi jalan? Semoga kota itu baik-baik saja, ya. 

Ini suratku yang kelimabelas. Dan ini suratku untukmu yang sedang dilanda galau. Mari kita bicarakan masalah cinta. Pertama, kenapa kau galau? Cinta dunia maya kah? Atau apa? Ceritakanlah padaku. 

Cinta memang menyenangkan, tapi membuat galau juga ya? Apa rasanya cinta tanpa galau? Kadang hambar. Tapi kadang juga kita merasa tidak membutuhkan galau saat rasa cinta menyerang hati, kan? Ah aku tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Galau itu membuat kita berpikir, Lip. Membuat kita mengetahui bahwa ada yang harus diperbaiki saat menjalani sebuah hubungan yang disebut cinta itu. 

Aku tahu, galau itu tidak enak. Semua hal terasa membosankan saat galau menyebar di penjuru hati, tapi ingat semua hal selalu ada hikmahnya. Begitupun dengan galau. 

Ah, maafkan aku. Aku belum bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu. Bahkan aku sendiri belum tahu bagaimana cara terbaik untuk mengusir rasa galau yang kadang menjangkiti diriku sendiri. Tapi setiap orang pasti punya caranya sendiri. Kadang omongan orang lain tidak akan pernah berfungsi apa-apa jika dirimu sendiri tidak menghendakinya. Maka, carilah jalan untuk keluar dari genangan galau itu. Atau kau bisa minta bantuan Allah. Semangat, ya! 

Regards, 
Si Pena Galau.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)