Love Letter #13: Ci(n)ta

Dear, @mutiarau 

Apa kabar adikku yang satu ini? Semoga ujian praktek tidak membuatmu stres, ya, Sayang. Surat ini surat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Surat ke-13 ini bukan surat horror, mistis, atau surat kaleng. Ini surat cinta! See? S-U-R-A-T-C-I-N-T-A! Lucu, ya? Aku mengirimimu surat cinta padahal kita sama-sama perempuan. Ah, ini bukan surat cinta seperti itu kok, Mut. Cinta kan tidak hanya kepada lawan jenis, tapi kepada siapapun bisa. Dan kali ini kamu kebagian surat cinta dariku. Semoga kamu senang, karena hanya orang-orang pilihan yang bisa mendapatkan surat ini. Hahaha. 

Hari ini aku mau membicarakan ci(n)ta; Cita dan Cinta. Semoga kau tidak bosan membacanya, ya. Pertama tentang cita. Cita-cita. Beberapa bulan lagi kamu harus menghadapi perjuangan mimpi yang sesungguhnya. Apa kamu sudah siap? Sejauh mana persiapanmu, Mut? Semoga kamu sudah benar-benar mempersiapkan mimpimu dengan baik. Mut, kemarin aku menonton sebuah acara di TV dan aku mendapatkan sebuah petuah: Takdir adalah milik Tuhan, tapi nasib bergantung pada usaha kita. 

Kamu tahu apa maksudnya? Biar kujelaskan sedikit meskipun aku yakin kamu sudah mengerti maksudnya. Semua hal yang ada di dunia ini tergantung seberapa besar usaha kita. Takdir yang baik berisi dari nasib-nasib baik. Pernah ingat, kan, kata-kata ini? "Tuhan tidak akan mengubah nasib umatnya selain umat itu sendiri yang mengubahnya." Nah, kata-kata itulah yang harus kita perhatikan baik-baik. Kita tentu ingin memiliki akhir yang baik dari hidup kita, maka kitalah yang harus membuat baik nasib kita sendiri. 

Jika usaha maksimal, maka hasil maksimal. Lalu, sejauh mana usahamu untuk mencapai jurusan Arsitek? Atau sudah di level mana kamu mempelajari segala macam tes untuk masuk ITB? Mut, aku tahu Allah selalu memperhatikan usaha yang dilakukan umatnya. Jika kamu bersungguh-sungguh, maka akan ada balasan yang membanggakan untukmu. Jadi, berjuanglah, Sayang! Tapi ingat juga, mimpi memang harus diwujudkan, tetapi ketika Allah tidak menghendaki, itu artinya Allah punya jalan lain untukmu. Atau bisa jadi Allah sedang menguji keteguhan dan ketekunanmu untuk mengejar mimpimu sendiri. Tetap semangat, Muti! 

Sekarang mari kita diskusikan perihal Cinta. Aku jadi ingat pembicaraan kita tempo hari tentang pernikahan. Ah, usia masih belasan kita sudah berani membicarakan pernikahan, ya? Haha. Oke tidak apa-apa, itu sebuah impian juga untuk masa depan kita. 

Bicara tentang pernikahan memang rumit. Lebih rumit dari sekedar orang pacaran. Pacaran saja sudah bikin pusing, apalagi pernikahan? Pasti pusingnya berkuadrat-dikuadratkan! Tapi selalu ada cara untuk mengatasinya: cinta. Rasa cinta memang paling ampuh ya? Meskipun kadang bisa menghancurkan. Ah, sudahlah. Kita masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini, walaupun usia kita sudah bisa dikatakan matang untuk menikah. Tapi bukankah kita masih mau mengejar mimpi dulu? Bukankah kita masih ingin membahagiakan kedua orangtua kita? Simpan dulu keinginan untuk hal itu. Someday, ketika seseorang yang mengatakan "maukah kau menjadi pendampingku seumur hidup?", nah barulah kita boleh berpikir untuk menikah. :D 

Terakhir, jangan sia-siakan waktumu untuk cinta yang tidak penting. Saat ini adalah saat terbaik untukmu memperjuangkan cita-citamu. Ketika kamu sudah mendapatkannya, silakan rintis mimpi baru bersama pasanganmu. Salam sukses! Aku tunggu di ujung jalan penuh kemenangan, ya, Sayang! :) 

Regards, 
Si Pena Galau.

Cileungsi, 13 Februari 2014.

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)