Thursday, February 13, 2014

Love Letter #12: Pengakuan

Dear, Seseorangku

Apa kabarmu? Surat ini datang untukmu setelah sekian lama aku berpikir akankah aku menulis surat ini atau tidak. Ini surat keduabelas-ku. Masih dalam event yang sama, #30HariMenulisSuratCinta, tapi sepertinya ini lebih kepada surat perngakuan bukan surat cinta. Aku kirimkan ini karena aku menganggapmu sebagai teman yang aku sayang. Ah, ya, bagaimana kuliahmu? Lancar? Semoga. Aku tidak pernah tahu kabar kuliahmu, tapi tidak apa-apa. Selama kau baik-baik saja, aku tenang.

Hey, mari kita bicarakan soal rindu. Iya, rindu yang berkumpul terlalu banyak di hatiku. Aku minta maaf karena telah merindukanmu tanpa izin. Tapi aku tidak yakin kau akan mengizinkanku untuk merindukanmu. Ah, biarlah aku mencuri rindu dari udara sepi yang bergaung.

Sore tadi aku mendengar sebuah lagu. Tiba-tiba saja aku ingat kamu. TAK LAGI SAMA. Tentu kamu tahu lagu itu, bukan? Lagu yang kau beritahu padaku saat angin asmara berhenmbus di dadamu. Iya aku tahu. Lagu itu bukan untukku, tapi untuk yang lain. Aku tahu dan aku paham betul. Aku hanya ingin mengatakan kebenaran. Aku senang bisa menjadi teman ceritamu. Menjadi seseorang yang kau percaya adalah bagian terbaik yang pernah aku lakukan. Aku selalu siap mendengar kisah-kisahmu. Tentang apapun, kapanpun, aku siap!

Dengar, aku ingin mengatakan kebenaran, tapi entahlah aku tidak tahu bagaimana memulainya. Aku tahu kau sudah menyadari hal ini. Aku juga tidak ingin merusak pertemanan kita, tapi sekali lagi aku hanya ingin bicara. Tapi apa aku pantas mengatakannya padamu? Apa aku harus membicarakan ini denganmu? Ini serius. Dan aku sudah tahu kau punya orang lain di hatimu, tapi bukan itu yang kupermasalahkan. Aku selalu bimbang. Aku ingin bicara, tapi aku bungkam.

Sudahlah, suatu saat nanti aku akan bicara padamu perihal ini. Semoga kau bisa menanggapinya dengan bijak, ya! Salam sukses!

Regards,
Si Pena Galau.

Cileungsi, 12 Februari 2014.

No comments:

Post a Comment