Tuesday, February 11, 2014

Love Letter #10: Jejak Di Atas Pasir

Ohayou, Fajar Senpai... 

Maaf mengagetkanmu dengan kehadiran surat ini. Ini surat kesepuluhku dalam event #30HariMenulisSuratCinta. Bukan, bukan surat cinta seperti yang kau pikirkan. Anggap saja ini sebuah surat untuk orang-orang terdekatku karena kau salah satu orang terbaik yang ada di hidupku. Kau salah satu teman laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakakku. Abang, itu panggilanku padamu, kan? Terima kasih karena kau tidak marah dan membiarkanku memanggilmu begitu. 

Bang, hari ini aku ingin berbicara tentang waktu. Waktu yang tidak sempat mempertemukanku denganmu Jum'at kemarin. Iya, aku yang salah karena tidak memanfaatkan pertemuan itu. Sekarang, kau sudah pulang kembali ke Pulau Dewata. Tidak apa, nanti hadiahnya akan kukirim lewat angin saja. Hahaha. 

Apa kabar Bali sejak kau tinggal 3 hari yang lalu, Jar? Tetap sama, kan? Jujur, aku rindu pulau itu. Rindu yang mengepung hati untuk kembali menjamahnya. Apa kau masih ingat malam tahun baru 2013 kemarin? Kita dan teman-teman sama-sama menjejakkan kaki di atas pasir yang sama. Di antara debur ombak malam pergantian tahun. Sungguh aku iri dan kau kini mampu merasakannya setiap waktu! Beruntungnya dirimu, Bang. 

Fajar, berjanjilah untuk menjadi guide-ku suatu hari nanti. Entah di Tanah Bali, di bawah gugur bunga Negeri Sakura, atau di atas pantai berpasir manapun kau mengajakku, dengan senang hati aku ikut. Anggap saja kau mempraktekkan hasil belajarmu di Pariwisata sekaligus menyenangkan hati temanmu yang satu ini. :D 

Bang, kali ini biarkan aku bicara tentang rindu. Rindu itu seperti serpihan kaca ya, Bang? Kecil, tapi menyakitkan. Dan, ya, pertanyaanku adalah: apakah kau masih menyimpan gumpal rindu padanya? Pada gadis yang membuatmu terjebak dalam "friendzone"? Jika ya, apa kau tidak berniat mengatakan padanya tentang kisah rindu itu? Atau kau tega membiarkan waktu menggumamkan sesuatu padanya sampai suatu saat kau melihat jemarinya digenggam oleh orang lain? Baiklah, aku bukan ingin menghakimimu, aku hanya ingin kau berucap ketika rindu itu menggelayuti hatimu. 

Sudah hampir setengah tahun kau berdiri di atas tanah Pulau itu. Lalu sudah berapa kali kau mengunjungi Pantai Jimbaran? Masihkah kau melihat jejak kaki kita dan teman-teman di sana? Suatu saat, Jar. Suatu hari nanti kita semua akan bersama-sama membuat jejak itu lagi. Hanya agar ada kisah yang mampu kita kenang di pulau itu. Salam untuk pantai di sana. Bilang padanya kalau gadis ini rindu untuk menghirup aroma laut di Bali lagi. Terakhir, kata-kata yang kuingat darimu, "Hati-hati, ya!". Salam sukses! 

Regards, 
Si Pena Galau.

Cileungsi, 10 Februari 2014.

No comments:

Post a Comment