Thursday, February 20, 2014

Love Letter #19: Untukmu, Mbak.

Dear, Mbak @AnnaNanung

Sebelumnya akan kunyanyikan sebuah lagu.

"Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to you."

Bagaimana seminar proposalmu tanggal 13 lalu, Mbak? Lancar, kan? Maaf aku tidak bisa menghadiri acara pentingmu itu. Tapi do'aku selalu ada untukmu. Ya, semoga saja Allah melapangkan jalan dari do'aku untukmu. Kupikir seminar proposalmu kemarin berjalan lancar, karena aku membaca status facebookmu.

Wednesday, February 19, 2014

Love Letter #18: Satu Hari Bersamamu

Dear, @misteeerius

Apa kabar, tukang pos ganteng? Ini suratku yang pertama untuk kamu. Bahkan meski kita tidak saling kenal, kamu selalu membaca surat-surat yang kukirim, kan? Suratku kali ini benar-benar surat cinta. Beruntung sekali aku bisa mengirimkan surat ini padamu. Pasti kau sangat lelah ya setiap hari harus mengantarkan surat-surat itu pada tujuannya. Hm, baiklah. Akan kumulai debar-debar ini dalam rentetan aksara.

Sebelumnya aku ingin bertanya perihal username akun twittermu. Mengapa kau pilih nama itu? Apakah kau berniat menjadi seseorang yang misterius? Atau bagaimana? Silakan dijawab.

Tuesday, February 18, 2014

Love Letter #17: Mata (Hati)


Dear, Bapak, pria terhebat di dalam hidupku. 

Aku tuliskan surat ini sebagai bentuk rasa cintaku padamu. Akan kutanyakan bagaimana kabarmu? Sejauh aku di rumah, aku jarang menanyakan kabarmu. Bahkan saat lelah pun, saat aku jauh darimu, aku jarang menanyakan kabarmu. Bagaimanapun, bukan karena aku tak peduli, tapi ah entahlah. Sulit sekali rasanya mengungkapkan rasa sayangku padamu secara langsung. Tapi sungguh, aku sayang padamu, Pak. 

Ada kesedihan yang mulai tumbuh di hatiku. Entah, selalu begini setiap pulang dari dokter mata. Kau pernah bilang, "Bukan masalah biaya pengobatannya, tapi ini masalah matamu itu. Sayang kalo nanti rusak matanya." Dan seketika hatiku mencelos mendengar perkataanmu. Aku merasa bahwa aku belum sepenuhnya menuruti perkataanmu. Perihal menyayangi mataku, aku masih seringkali berlama-lama di depan laptop tanpa kenal waktu. Padahal Bapak sudah mengingatkanku akan hal itu. 

Pak, ada penyesalan yang hidup di pikiranku. Mata, dunia untukku melihat cakrawala sudah menjadi buram tanpa bantuan kacamata. Ah, ya, salahku sendiri tidak menjaga asupan untuk mataku. Maafkan aku, Pak. 
"Kamu tahu nggak? Pas kamu sakit, Bapak itu kepengen nangis dengernya. Apalagi kamu jauh di sana. Sendiri. Apa dipikir Bapak nggak khawatir?" 

Ah, tiba-tiba saja aku meneteskan air mata mendengar ucapanmu, Pak. Aku tahu itu. Bapak pasti menyayangiku. Tapi aku tidak bisa membalas apapun, aku berusaha, tapi usahaku takkan mampu membalas semua kebaikanmu sejak aku masih dalam kandungan. 

Pak, aku berjanji akan membuatmu bangga. Aku berjanji akan menjaga mataku dengan baik agar bisa melihat betapa berartinya dirimu di hidupku. Aku berjanji, Pak. Semua hal yang tidak mampu kulihat dengan mataku, selalu mampu kubaca dengan hatiku. Semua perjuanganmu untuk memberiku pendidikan, memberiku kehidupan, semua berarti. 

Terima kasih telah membuatku mengerti arti kehidupan. Mungkin ini sedikit ucapan terima kasih yang mampu aku sampaikan padamu, Pak. Yakinlah, bahwa aku selalu mencintaimu, meski rasa itu jarang aku ungkapkan secara langsung. Semoga aku bisa membuatmu bangga sebagai orangtua yang telah merawatku. Semoga anakmu ini berhasil berdiri di puncak kesuksesan. Aamiin. 

Regards, 
Anak gadismu.

Monday, February 17, 2014

Love Letter #16: Janji

Dear, Mr Nooglers...

Hari ini aku kirimkan surat khusus untukmu. Biar tukang pos juga tahu bahwa ini surat spesial, cuma untukmu. Iya, ini surat ke-16, di tanggal 16, dan bukan hari yang spesial. Tapi di hatiku selalu ada yang spesial untuk kamu. Hahaha. Biar saja bila surat ini menjadi surat yang lebay, aku akan tetap mengirimkannya.

Sesiang yang tidak terik dan tidak mendung ini aku hanya ingin mengirimkan sepucuk surat berisi sebuah kisah. Hm, baiklah. Dengan terkirimnya surat ini, aku ingin mengajakmu bermain peran. Anggap saja kisah yang aku tulis di dalam surat ini adalah kisahku dan kisahmu. Hanya cerita rekaan, bukan kisah nyata. Karena mungkin, kisah ini akan sulit untuk jadi nyata, maka aku ingin kau turut andil bermain peran. Berminat? Tapi maaf, aku tidak menerima jawaban TIDAK. Jahat? Biar saja!
Mari kita mulai.

Suatu hari ada seorang anak laki-laki yang hobi sekali memotret. Ia datang ke sebuah taman dan memotret setangkai bunga yang sedang mekar dengan kamera polaroid-nya. Siang itu ia berteduh di bawah sebuah pohon.

"Bunga yang cantik," katanya setelah melihat hasilnya.

Angin sejuk dari pepohonan membuatnya mengantuk. Akhirnya ia pun tertidur di bawah pohon itu. Senja kemudian datang mengantarkan malam, anak lelaki itu bergegas pulang. Tanpa sadar, ia meninggalkan sebuah foto bunga yang tadi ia potret. Menurutnya itu foto terbaik yang ia dapatkan hari itu. Dan seorang gadis menemukannya.

Sesampainya di rumah, ia panik saat tak menemukan foto tersebut. Dan tercetuslah sebuah janji: "Jika seseorang perempuan yang menemukan foto itu, maka aku akan mencintainya. Jika seorang laki-laki, maka aku akan menjadikannya seorang sahabat sejati."

Beberapa tahun kemudian, si anak laki-laki tumbuh menjadi dewasa. Sampai akhirnya ia menemukan seorang gadis yang membuatnya jatuh hati dan... Ia lupa pada janjinya dulu.

Gadis yang dulu menemukan foto milik laki-laki itu juga sudah beranjak dewasa. Dan ia yakin bahwa pemilik foto itu adalah seorang laki-laki. Entah darimana datangnya keyakinan itu, ia memutuskan untuk mencintai laki-laki itu meski belum pernah melihat rupanya.

Rasa itu makin lama kian tumbuh di hati sang pemuda, tapi perasaan yang sudah tumbuh itu seperti dipangkas secara paksa saat ia tahu bahwa gadis pujaannya sudah memiliki kekasih. Ah, mungkin ia memang tak berjodoh dengan gadis itu, pikirnya.

Tapi ia tetap akan berjuang untuk sang gadis. Sebelum janur kuning melengkung di depan rumah sang gadis, perjuangannya belum selesai.


Kau tahu apa akhir dari cerita itu? Si pemuda dan gadis pujaannya tidak pernah bersatu. Mengapa? Karena si pemuda punya janji yang belum dia tepati. Tuhan selalu adil, bukan? Seseorang selalu ingin berjanji, tapi kadang lupa untuk menepati. Dan kau pasti ingin tahu bagaimana nasib si gadis yang menemukan foto si pemuda, bukan? Dia tetap setia menunggu. Karena di hatinya ia yakin bahwa setiap janji harus ditepati dan... Janjinya adalah: "Mereka hidup bersama bahagia selamanya." Seperti dalam cerita dongeng.

Semoga kisah ini bisa membuatmu mengerti. Salam cinta dari duniaku.

Regards,
Si Pena Galau.

Cileungsi, 16 Februari 2014

Sunday, February 16, 2014

Love Letter #15: Galau

Dear, @aliip_ss 

Rasanya aku tidak perlu menanyakan kabarmu. Mungkin aku hanya akan bertanya bagaimana kabar kota Satria? Apakah debu vulkanik yang sampai di kota itu sudah hilang? Atau masih melapisi jalan? Semoga kota itu baik-baik saja, ya. 

Ini suratku yang kelimabelas. Dan ini suratku untukmu yang sedang dilanda galau. Mari kita bicarakan masalah cinta. Pertama, kenapa kau galau? Cinta dunia maya kah? Atau apa? Ceritakanlah padaku. 

Cinta memang menyenangkan, tapi membuat galau juga ya? Apa rasanya cinta tanpa galau? Kadang hambar. Tapi kadang juga kita merasa tidak membutuhkan galau saat rasa cinta menyerang hati, kan? Ah aku tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Galau itu membuat kita berpikir, Lip. Membuat kita mengetahui bahwa ada yang harus diperbaiki saat menjalani sebuah hubungan yang disebut cinta itu. 

Aku tahu, galau itu tidak enak. Semua hal terasa membosankan saat galau menyebar di penjuru hati, tapi ingat semua hal selalu ada hikmahnya. Begitupun dengan galau. 

Ah, maafkan aku. Aku belum bisa membantumu menyelesaikan masalahmu itu. Bahkan aku sendiri belum tahu bagaimana cara terbaik untuk mengusir rasa galau yang kadang menjangkiti diriku sendiri. Tapi setiap orang pasti punya caranya sendiri. Kadang omongan orang lain tidak akan pernah berfungsi apa-apa jika dirimu sendiri tidak menghendakinya. Maka, carilah jalan untuk keluar dari genangan galau itu. Atau kau bisa minta bantuan Allah. Semangat, ya! 

Regards, 
Si Pena Galau.

Friday, February 14, 2014

Love Letter #13: Ci(n)ta

Dear, @mutiarau 

Apa kabar adikku yang satu ini? Semoga ujian praktek tidak membuatmu stres, ya, Sayang. Surat ini surat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Surat ke-13 ini bukan surat horror, mistis, atau surat kaleng. Ini surat cinta! See? S-U-R-A-T-C-I-N-T-A! Lucu, ya? Aku mengirimimu surat cinta padahal kita sama-sama perempuan. Ah, ini bukan surat cinta seperti itu kok, Mut. Cinta kan tidak hanya kepada lawan jenis, tapi kepada siapapun bisa. Dan kali ini kamu kebagian surat cinta dariku. Semoga kamu senang, karena hanya orang-orang pilihan yang bisa mendapatkan surat ini. Hahaha. 

Hari ini aku mau membicarakan ci(n)ta; Cita dan Cinta. Semoga kau tidak bosan membacanya, ya. Pertama tentang cita. Cita-cita. Beberapa bulan lagi kamu harus menghadapi perjuangan mimpi yang sesungguhnya. Apa kamu sudah siap? Sejauh mana persiapanmu, Mut? Semoga kamu sudah benar-benar mempersiapkan mimpimu dengan baik. Mut, kemarin aku menonton sebuah acara di TV dan aku mendapatkan sebuah petuah: Takdir adalah milik Tuhan, tapi nasib bergantung pada usaha kita. 

Kamu tahu apa maksudnya? Biar kujelaskan sedikit meskipun aku yakin kamu sudah mengerti maksudnya. Semua hal yang ada di dunia ini tergantung seberapa besar usaha kita. Takdir yang baik berisi dari nasib-nasib baik. Pernah ingat, kan, kata-kata ini? "Tuhan tidak akan mengubah nasib umatnya selain umat itu sendiri yang mengubahnya." Nah, kata-kata itulah yang harus kita perhatikan baik-baik. Kita tentu ingin memiliki akhir yang baik dari hidup kita, maka kitalah yang harus membuat baik nasib kita sendiri. 

Jika usaha maksimal, maka hasil maksimal. Lalu, sejauh mana usahamu untuk mencapai jurusan Arsitek? Atau sudah di level mana kamu mempelajari segala macam tes untuk masuk ITB? Mut, aku tahu Allah selalu memperhatikan usaha yang dilakukan umatnya. Jika kamu bersungguh-sungguh, maka akan ada balasan yang membanggakan untukmu. Jadi, berjuanglah, Sayang! Tapi ingat juga, mimpi memang harus diwujudkan, tetapi ketika Allah tidak menghendaki, itu artinya Allah punya jalan lain untukmu. Atau bisa jadi Allah sedang menguji keteguhan dan ketekunanmu untuk mengejar mimpimu sendiri. Tetap semangat, Muti! 

Sekarang mari kita diskusikan perihal Cinta. Aku jadi ingat pembicaraan kita tempo hari tentang pernikahan. Ah, usia masih belasan kita sudah berani membicarakan pernikahan, ya? Haha. Oke tidak apa-apa, itu sebuah impian juga untuk masa depan kita. 

Bicara tentang pernikahan memang rumit. Lebih rumit dari sekedar orang pacaran. Pacaran saja sudah bikin pusing, apalagi pernikahan? Pasti pusingnya berkuadrat-dikuadratkan! Tapi selalu ada cara untuk mengatasinya: cinta. Rasa cinta memang paling ampuh ya? Meskipun kadang bisa menghancurkan. Ah, sudahlah. Kita masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini, walaupun usia kita sudah bisa dikatakan matang untuk menikah. Tapi bukankah kita masih mau mengejar mimpi dulu? Bukankah kita masih ingin membahagiakan kedua orangtua kita? Simpan dulu keinginan untuk hal itu. Someday, ketika seseorang yang mengatakan "maukah kau menjadi pendampingku seumur hidup?", nah barulah kita boleh berpikir untuk menikah. :D 

Terakhir, jangan sia-siakan waktumu untuk cinta yang tidak penting. Saat ini adalah saat terbaik untukmu memperjuangkan cita-citamu. Ketika kamu sudah mendapatkannya, silakan rintis mimpi baru bersama pasanganmu. Salam sukses! Aku tunggu di ujung jalan penuh kemenangan, ya, Sayang! :) 

Regards, 
Si Pena Galau.

Cileungsi, 13 Februari 2014.

Wednesday, February 12, 2014

Love Letter #11: Kirigaya Kazuto


Dear, Ghina…
Baru beberapa menit yang lalu ya kita bertemu. Tiba-tiba saja aku ingin menulis surat ini untukmu. Tema suratku kali ini adalah tokoh favorit. Dan karena kita sama-sama penggemar anime (kartun Jepang), maka aku akan membicarakan satu tokoh yang membuatku-juga kau-jatuh cinta. Ya benar, dia Kirigaya Kazuto atau lebih sering menyebutnya Kirito-kun dalam anime Sword Art Online (SAO).

Kau tahu, Ghin? Dia satu-satunya tokoh yang mampu menghipnotisku untuk pertama kalinya. Tokoh anime pertama yang membuatku jatuh cinta, padahal sebelumnya aku tidak pernah tertarik sedikitpun dengan anime. Ah, karakternya dalam anime SAO memang benar-benar memukau. Aku sampai iri pada Asuna, gadis berambut pirang yang menjadi tambatan hatinya dalam anime itu.

Kirigaya Kazuto. Sejak episode pertama aku menonton anime itu hatiku selalu bergetar saat sang tokoh utama berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Ia benar-benar hero untukku yang pada saat itu  baru mengenal anime, terlebih anime genre fantasi game macam itu. Dulu aku benar-benar tidak menyukai hal-hal seperti itu.

Kupikir setelah aku menonton banyak genre anime, hatiku tetap tertaut pada Kirito. Ya, dia sosok tampan yang memikatku hingga saat ini. Bukankah kau juga, Ghin?

Sekian saja surat singkatku, semoga ada waktu lebih banyak untuk mendiskusikan tokoh-tokoh anime tampan lainnya. Atau mungkin suatu saat kita bisa berkunjung ke Negeri 1000 Anime itu.


Regards,
Si Pena Galau.


Cileungsi, 11 Februari 2014.

Tuesday, February 11, 2014

Love Letter #10: Jejak Di Atas Pasir

Ohayou, Fajar Senpai... 

Maaf mengagetkanmu dengan kehadiran surat ini. Ini surat kesepuluhku dalam event #30HariMenulisSuratCinta. Bukan, bukan surat cinta seperti yang kau pikirkan. Anggap saja ini sebuah surat untuk orang-orang terdekatku karena kau salah satu orang terbaik yang ada di hidupku. Kau salah satu teman laki-laki yang sudah kuanggap sebagai kakakku. Abang, itu panggilanku padamu, kan? Terima kasih karena kau tidak marah dan membiarkanku memanggilmu begitu. 

Bang, hari ini aku ingin berbicara tentang waktu. Waktu yang tidak sempat mempertemukanku denganmu Jum'at kemarin. Iya, aku yang salah karena tidak memanfaatkan pertemuan itu. Sekarang, kau sudah pulang kembali ke Pulau Dewata. Tidak apa, nanti hadiahnya akan kukirim lewat angin saja. Hahaha. 

Apa kabar Bali sejak kau tinggal 3 hari yang lalu, Jar? Tetap sama, kan? Jujur, aku rindu pulau itu. Rindu yang mengepung hati untuk kembali menjamahnya. Apa kau masih ingat malam tahun baru 2013 kemarin? Kita dan teman-teman sama-sama menjejakkan kaki di atas pasir yang sama. Di antara debur ombak malam pergantian tahun. Sungguh aku iri dan kau kini mampu merasakannya setiap waktu! Beruntungnya dirimu, Bang. 

Fajar, berjanjilah untuk menjadi guide-ku suatu hari nanti. Entah di Tanah Bali, di bawah gugur bunga Negeri Sakura, atau di atas pantai berpasir manapun kau mengajakku, dengan senang hati aku ikut. Anggap saja kau mempraktekkan hasil belajarmu di Pariwisata sekaligus menyenangkan hati temanmu yang satu ini. :D 

Bang, kali ini biarkan aku bicara tentang rindu. Rindu itu seperti serpihan kaca ya, Bang? Kecil, tapi menyakitkan. Dan, ya, pertanyaanku adalah: apakah kau masih menyimpan gumpal rindu padanya? Pada gadis yang membuatmu terjebak dalam "friendzone"? Jika ya, apa kau tidak berniat mengatakan padanya tentang kisah rindu itu? Atau kau tega membiarkan waktu menggumamkan sesuatu padanya sampai suatu saat kau melihat jemarinya digenggam oleh orang lain? Baiklah, aku bukan ingin menghakimimu, aku hanya ingin kau berucap ketika rindu itu menggelayuti hatimu. 

Sudah hampir setengah tahun kau berdiri di atas tanah Pulau itu. Lalu sudah berapa kali kau mengunjungi Pantai Jimbaran? Masihkah kau melihat jejak kaki kita dan teman-teman di sana? Suatu saat, Jar. Suatu hari nanti kita semua akan bersama-sama membuat jejak itu lagi. Hanya agar ada kisah yang mampu kita kenang di pulau itu. Salam untuk pantai di sana. Bilang padanya kalau gadis ini rindu untuk menghirup aroma laut di Bali lagi. Terakhir, kata-kata yang kuingat darimu, "Hati-hati, ya!". Salam sukses! 

Regards, 
Si Pena Galau.

Cileungsi, 10 Februari 2014.

Sunday, February 9, 2014

Love Letter #9: Surat Dari Dunia

Dear my beloved friend, Eka Nurwati... 

Apa kabarmu di hari yang hujan ini? Seharusnya tak perlu kutanyakan lagi hal ini. Sudah pasti kau bahagia, kan? Sembilan-belas berbilang di tahun ini. Semua berubah, ya? Atau masih sama? Pembukaan ini mengawali datangnya suratku dan aku akan mengatakannya lagi: Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga yang terbaik selalu menghampirimu. 

Kali ini aku ingin membicarakan banyak hal bersamamu. Tentang dunia. Ya, dunia. Seperti kamu yang setia mengirimi surat pada dunia hampir setiap hari. Aku ingin seperti itu. Bagaimana dunia di matamu sekarang? Berbedakah? Apa duniamu yang sekarang semakin keras? Pasti iya. Mari kita diskusikan. Aku pernah dengar bahwa dunia pekerjaan adalah milik orang dewasa, tapi ternyata semua itu bohong. Di sini, di dunia ini, semua yang mustahil bisa jadi mungkin. Bahkan anak-anak kecil yang seharusnya belum mengenalnya, mereka bisa jadi salah satu bagian dari pekerjaan, termasuk kamu. 

Mungkin aku belum pernah menyambangi Sedekah Ilmu (SI), tempat kita bisa berbagi ilmu pada mereka yang membutuhkan, tapi darimu aku tahu sesuatu. Mereka anak-anak yang yah kau tahu sendiri. Mereka harus bekerja bukan bersekolah. Kehidupan memang sangat keras, bahkan untuk kaki-kaki dan tangan-tangan kecil mereka, ya? 

Sejauh ini aku salut padamu. Kamu mampu membuat mereka bisa belajar lagi meski dengan keterbatasan waktu yang mereka miliki. Prioritas mereka memang bekerja, tapi kamu menumbuhkan semangat pendidikan mereka. Kamu hebat! Semoga mereka bisa melebarkan sayapnya bersamamu nanti. 

Sekarang mari kita bicarakan tentang rasa. Atau kau mau kita tertawakan kebodohan kita dulu? Baiklah, silakan tertawa. Jika kau tidak mau, biar aku saja. Hahaha. Yang kemarin, yang kita sebut cinta saat kita menanti seseorang ternyata itu hal menyakitkan, ya? Ah sudahlah, tapi sekarang Tuhan telah benar-benar menjawab do'amu. Allah telah memberikan seseorang yang baik untukmu. Do'akan sahabatmu ini agar segera dipertemukan dengan jodohnya. :D 

Di dunia yang agaknya sulit kujelaskan, sellau ada celah untuk memacu mimpi-mimpi kita. Dunia memberi kita peluang untuk segera berlari, menggenggap piala mimpi dan berdiri sambil berkata: AKULAH PEMENANG! Maka, jangan pernah kalah dengan waktu. Walaupun waktu mempercepat larinya, kamu juga harus bisa lebih cepat dari itu. Semoga mimpi dan cita-citamu selalu terwujud. Aamiin. 

Regards, 
Si Pena Galau.

Love Letter #8: Cerita Tentang Mimpi

Dear @PutriLarasati_ 

Apa kabarmu? Kedatangan surat ini tidak membuatmu kaget, kan? Ah, ya, sudah hari ke-8 aku mengikuti event #30HariMenulisSuratCinta ini. Kukira kau mengikutinya juga, ternyata tidak. Ya, aku tahu kau pasti sangat sibuk sekali akhir-akhir ini. Tugas, Try Out, dan segala persiapan menjelang Ujian Nasional pasti menguras waktumu, kan? Semangatlah, adik! Kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik. 

Ini suratku yang pertama untukmu. Untuk seseorang yang sudah kuanggap seperti adik sendiri meskipun kita belum pernah bertatap muka sekalipun. Lucu juga, ya? Kita hanya dekat melalui media sosial: twitter, facebook, dsb. Dan ternyata kita punya hobi yang sama, yaitu menulis. Bahkan aku tidak ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Hahaha :D 

Sebagai bentuk rasa sayangku padamu, aku akan bertanya satu hal. Sudah sampai mana persiapanmu untuk menempuh jenjang pendidikanmu selanjutnya? Kuharap kau sudah memikirkan dan mempersiapkannya dengan matang. Barusan aku tidak sengaja membuka profil twittermu, dan ya, kutemukan susunan aksara di bio twittermu: UI BIOLOGI 2014. Ah, ternyata mimpimu mengarah ke sana. Kudo'akan semoga Allah memudahkan jalanmu ke sana. 

Biar kuceritakan sedikit tentang keajaiban mimpi dan perjuangan. Dulu, saat aku berada di posisi yang sama denganmu, selalu ada banyak petuah yang menghampiri hidupku. Itu semata-mata untuk memberiku semangat untuk berjuang tanpa pernah mengeluh. Pernah dengar, "Hidup Berawal Dari Mimpi"? Iya, benar! Itu sebuah judul lagu dari Bondan & Fade 2 Black, tapi jujur lagu itu sangat memberiku inspirasi berlebih ketika mengejar mimpi. 

Mimpi itu ibarat puzzle yang harus kita susun sedemikian rupa agar wujudnya terlihat nyata. Selama ini, hidup kita adalah labirin. Kita harus menemukan titik akhir dari jalan yang benar. Sekali kita berhasil, kita akan mendapatkan potongan puzzle untuk melengkapi puzzle mimpi kita. Ya, begitu seterusnya. Satu hal lagi, kita harus selalu yakin bahwa kita mampu menggenggam mimpi kita. Berusaha dan berdo'a adalah kunci utama. 

Berbicara mimpi memang menyenangkan. Aku yakin semua orang-termasuk aku dan kau-juga menyimpan banyak mimpi dalam kotaknya masing-masing. Tapi ingat, Put, selalu ada mimpi yang tidak tercapai dalam hidup ini. Bukan, bukan karena kita tidak pantas mendapatkan mimpi tersebut, tapi karena... ya bisa dibilang Tuhan selalu punya rencana lain. Percayalah, Allah akan selalu tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 

Selalu bersemangat mengejar mimpimu. Jangan pernah berhenti untuk mengeluh. Waktu tidak akan pernah menunggumu. Melajulah, banggakanlah kedua orangtuamu. Berjuanglah seperti orangtuamu berjuang untukmu. Salam sukses! Aku tunggu di ujung jalan penuh kemenangan, ya, Sayang. :) 

Regards, 
Si Pena Galau.

Cileungsi, 8 Februari 2014.

Saturday, February 8, 2014

Love Letter #7: Sisters

Dear, @FitriHarrayani 

Apa kabarmu? Semoga baik-baik saja. Ah, ya, ini pertama kalinya aku mengirimimu surat. Kali ini aku akan bercerita sedikit. Tentu kau ingin tahu, kan? Karena kau sendiri yang bilang ingin kukirimi surat, jadi kau harus membacanya apapun yang kuceritakan. Hahaha, maaf aku terlalu memaksa. 

Sejujurnya aku rindu berbagi kisah denganmu. Sepertinya jaman SMA kita, saat kita sama-sama duduk di kelas X, waktu yang menyimpan banyak kenangan. Rasanya lucu saat mengingat masa-masa MOPD kita. Aku masih ingat saat ketua OSIS mengomeli kelas kita hanya karena tidak ada yang mau menjadi ketua kelas. Sungguh saat-saat yang mencekam. 

Ada satu hal lagi, saat kelas kita selalu mendapatkan tugas matematika dan kimia yang memeras otak, kita selalu mengandalkanmu. Dan kau dengan sukarela memperbolehkan kami semua melihat hasil pekerjaanmu. Ah, sungguh kau teman yang sangat baik, Fit! 

Berbagi kisah denganmu amat menyenangkan. Aku merasa menemukan tempat baru yang mampu mendengarkan kisahku dengan baik, meskipun hanya satu orang yang selalu kuceritakan padamu: dia. Tapi sudahlah, semua itu sudah berakhir. Seperti katamu dulu: aku seharusnya berhenti mengharapkan dia yang menyia-nyiakanku. Kali ini aku berhenti, Fit. Berhenti menyusun keping-keping puzzle yang tidak akan pernah selesai itu. 

Ah, kemana kedekatan kita yang dulu, ya? Aku masih menyimpan tulisan kisah-7-bulanmu bersama seseorang, lho. Sekarang kau jarang sekali bercerita padaku. Aku tidak memaksa, tapi aku akan tetap ada ketika kau membutuhkanku sebagai pendengar dari semua kisah-kisahmu. 

"Ayolah, kau masih menganggapku saudara, kan?" 

Masih ingat kata-kata itu? Itu kalimat yang kau kirimkan melalui sms saat aku enggan bercerita padamu, karena aku takut kau bosan mendengar kisah tentang orang yang sama setiap kudatangi dirimu. 

Fit, aku mendengar kabar itu. Sungguh aku tahu bagaimana perasaanmu. Perasaan sayang itu masih ada, kan? Tapi tenang, Allah selalu tahu yang terbaik, Fit. Jika dia jodohmu, maka akan ada waktu untuk bertemu kembali. Sejauh apapun kau pergi, ia akan datang dan kembali padamu. Waktu tidak pernah menipu, pun dengan hatimu. Persiapkan saja dirimu untuk sesuatu yang terbaik suatu hari nanti. 

Aku rindu kamu, Sister. Kapan kita bisa bertemu? Semoga aku bisa menyambangi tempat kost-mu suatu saat nanti, begitupun denganmu. Berjanjilah untuk mengajakku keliling Jogja dan kampusmu! :D 
Semoga yang terbaik selalu ada untukmu. Salam sukses! 

Regards, 
Si Pena Galau.


Cileungsi, 7 Februari 2014.

Friday, February 7, 2014

Love Letter #6: Bantu Aku Menggenggam Senja.

Dear @Raditaama, 

Kurasa aku tak perlu bertanya kabarmu karena aku sudah tahu kau pasti baik-baik saja, meskipun aku tidak tahu bagaimana kondisi hatimu. Mungkin saja hatimu sedang terpenjara rindu pada gadis-yang-entah-kau-sebut-apa. Ah, ya, semoga ia mampu menangkap debar rindu yang selama ini jadi candu untukmu. 

Radit, biarkan aku berkisah, tapi aku tidak akan bertanya apakah kau mau mendengar kisahku ini. Aku hanya ingin menari di atas lantai kata dan membaginya bersamamu. Dan ya, kau benar. Aku memang harus bertarung melawan sembilu. Menenggelamkan keping-keping kenang yang hidup di seluruh hatiku. 

Malam itu, sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri semua penantian, aku sadar bahwa akan ada banyak hal yang sia-sia ketika aku melanjutkan "permainan" ini. Kukira semua sudah selesai sejak Hari Perpisahan sekolah kita tempo lalu, tapi ternyata tidak. Aku... Semakin terjebak. Aku sadar, tapi aku tak bisa "berlari". Niatku tersandung batu kenangan itu. 

Semua tahu bahwa aku menyayanginya. Semua tahu berita itu. Opini mereka bermacam-macam. Mereka menganggapku perempuan hebat yang mampu menyayangi seseorang dalam kurun waktu yang lumayan lama itu meski harus terkekang rasa rindu yang tak pernah tersampaikan. Namun, ada juga yang mengatakan aku bodoh karena tetap berdiri di atas pijakan yang sama, menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang (lagi). 

Kau sendiri pun salah satu orang yang tahu tentang hal ini. Meskipun kau tidak tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi, tapi aku tidak akan membahas ini. Aku hanya terkesima dengan kata-katamu tempo lalu. Sedikit menyakitkan seperti sebuah tamparan. Tapi itulah yang kubutuhkan, "tamparan" dari seorang teman yang peduli. Aku pikir, kau benar. Tiga tahun aku menunggu, semua terasa sia-sia. 

Radit, aku berjanji akan mengubah senjaku menjadi jingga. Meski dahulu aku pernah membuatnya jadi kelabu. Aku akan berusaha, selalu berusaha membuat senja memelukku dengan cahaya jingga di ufuk barat. Bantu aku menggenggam senja, ya, kawan! Jangan pernah bosan memberiku "tamparan" itu lagi, meski aku akan ngambek padamu, tapi itu salah satu hal yang membuatku sadar bahwa masih ada orang yang peduli padaku. 

Terima kasih, Radit. Tetaplah menari di lantai kata, karena aku salah satu penggemar dari tarian jemarimu. Semoga kau bisa menjelma matari yang ceria agar gadismu selalu mencintai pagi. 

Regards, 
Si Pena Galau.

Thursday, February 6, 2014

Love Letter #5: Happy Birthday!


Dear, @AA1878_ 

Suratku datang mengawali hariku di hari kelahiranmu. Di waktu ini, aku ingin menceritakan sebuah kisah. Kisah sedih seseorang di negeri antah berantah. 

Suatu hari ada seorang pemuda yang hidup sederhana. Rumah, pakaian, pergaulannya, semua hal yang ada pada dirinya serba sederhana. Ia selalu menghadapi semuanya dengan sederhana. 

Sikapnya ramah. Penuh dengan perjuangan. Ia bukan seorang yang pantang menyerah. Ia senang bekerja keras. Ia berjuang untuk mengejar mimpinya meski harus jatuh bangun dan seringkali gagal. Hingga akhirnya ia menggenggam mimpinya. Membawanya menjadi seseorang yang sukses dan bahagia. 

Ada sebuah lirik lagu yang aku yakin kamu tahu. 

Ini sepotong kisah, tentang perjalanan..
seorang insan, menapaki jejak kehidupan.
Dia lahir ke dunia , dari keluarga...
tidak miskin, kurang kaya, yo tapi sederhana.
Ayah berdagang, ibu mengasuh dia di rumah..
sejak kecil belajar susah, hanya bersikap pasrah.
Sempat sesaat, mengenal A. S. I. dari ibu.
Syukuri rahmat, dapat singkat nikmat ilmu.

Dia takkan gentar, meski guntur menggelegar.
Alar melintang, tak mampu untuk buat pudar.
Hanya syukuri anugerah, akan nasib dan takdir.
Dia takkan menyerah, terus berjuang hingga akhir.

Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi..
dan yakinlah kan kau raih.. yeiyeah..

Lakukanlah dari hati, beri yg terbaik..
pasti kan kau raih..

Dan kini, dia injak usia labil.
Dia tinggalkan satu masa kala ia kecil.
Skill! get real, he can make it.. berhasil!!
Sekian dari banyak mimpi dalam hati kecil.
Kecil sebenarnya.. berarti besar.
Ia terlempar dalam panggung hidup yang kasar.
Sabar ya kawan, ini tentang edukasi..
yang tak terdapat dari sekolah, atau pun skripsi.

Dia takkan gentar, meski guntur menggelegar
Alar melintang, tak mampu untuk buat pudar.
Hanya syukuri anugerah, akan nasib dan takdir.
Dia takkan menyerah, terus berjuang hingga akhir.

Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi..
dan yakinlah kan kau raih (Berpasrah pada waktu)...

Lakukanlah dari hati, beri yg terbaik.. pasti kan kau raih..
(Semua cita dan mimpimu)

Hanya waktu yang dapat menjawab.. mampukah dia merubah..

Saat semua, mimpinya tercipta.
Saat dimana jalannya, lebar terbuka.
Beban berat tertancap dipundak.
Semua hanya jadi sejarah, yang terlewat.
Dia merdeka, nyata dan bahagia.
Dia tertawa di akhir, semua usaha.
Dan percaya, jalan tak slalu berliku.
Dan mengerti, celah untuk berpacu.

Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi..
dan yakinlah kan kau raih..

Kisah ini kisah sederhana. Tapi semoga kamu mengerti bahwa kisah ini bisa membangkitkan semangatmu mengejar mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Selamat ulang tahun! 

Salam Sukses! 

Cileungsi, 5 Februari 2014.

Wednesday, February 5, 2014

Love Letter #4: My Idol and My Dreams

Dear, @OfficialBondan

Awalnya aku tak tahu siapa dia. Mendengar lagunya pun aku tak suka. Padahal dia sudah terkenal sejak dulu, sejak dia kecil mungkin. Tapi tetap saja aku tak menggubrisnya. Karena aku tak kenal dia. Lama sekali aku tak juga mengenalnya ataupun mengabaikan informasi tentang lagu-lagunya. Yah, aku belum melihat wajahnya yang ganteng sampai membuatku mencintainya seperti mencintai seseorang (maap yehh rada lebay :P)

Tahun 2010 aku mulai mengetahuinya lewat sebuah lagu yang sering diputar di TV atau sekedar anak-anak yang menyanyikannya. Aku mulai tertarik dengan lagu itu karena liriknya bagus dan suara penyanyinya pun tak kalah bagus. Aku coba mencari saluran TV yang memutarkan videoklipnya secara utuh. Kuperhatikan dengan sedetail-detailnya. Ternyata eh ternyata… Aku suka padanya pada pandangan pertama. Dialah Bondan Prakoso.

Aku mencari tahu informasi tentang Bondan Prakoso karena kebetulan teman sekelasku, orang yang aku sukai sering menyanyikan lagu-lagunya. Mas Bondan, itulah panggilanku untuk penyanyi idolaku dan pujaan hatiku. Saat aku mendengar lagu yang berjudul “Bunga”, aku merasa lagu ini sangat menggambarkan diriku. Dari situlah aku makin suka pada Mas Bondan. Meskipun aku tahu entah kapan aku bisa bertemunya, setidaknya bisa menonton aksi panggungnya saja sudah cukup.

Beberapa bulan berlalu, saat aku pergi ke kampung halamanku aku masih sangat ingin bertemu Mas Bondan. Ternyata, sepupuku itu adalah seorang Rezpector (sebutan untuk penggemar Bondan and Fade 2 Black). Mulailah aku mencari tahu, aku buka semua file di notebooknya. Aku copy semua lagu-lagunya Mas Bondan yang selama ini aku cari. Video-video saat Mas Bondan manggung . Oh My God, aku semakin cinta pada Mas Bondan ♥_♥

Apalagi saat itu aku sedang dirundung masalah, kenyataan yang buruk sedang menimpaku. Permasalahan cinta sesaat. Yah, hari-hari sedihku ditemani lagu-lagunya Mas Bondan selalu berakhir semangat. Meskipun setiap aku mendengar lagu “Ya sudahlah”, aku seperti mendengar suaranya, suara orang yang aku sukai. Dan lagu “Sang Juara” yang Mas Bondan nyanyikan, menambah getar semangat di dadaku. Satu-satunya lagu Mas Bondan yang menggambarkan suasana hatiku adalah lagu “Not With Me”. Benar-benar lagu yang menghanyutkan.

Kadang, aku merasakan rindu yang mendalam pada Mas Bondan. Ingin sekali aku join Rezpector. Ingin aku datangi rumahnya. And My dreams is will meet with my Idol, Bondan Prakoso.

Kisah lainnya ada pada awal aku masuk kuliah. Aku bergabung di sebuah UKM Mapala di fakultasku. Pertama kali aku datang, seseorang di sana memperkenalkan diri, dan… dia mirip Bondan Prakoso! Astaga! Aku hampir kesulitan bernafas saat dia bersalaman denganku. Ah, ya ternyata dia juga bisa sebagai pelampiasan rasa rinduku terhadap Bondan Prakoso.

Dan untuk Bondan Prakoso, semoga selalu sukses dengan karya-karyanya. Kudengar ia baru saja merilis lagu terbarunya yang berjudul “Generasiku”. Semoga lagu-lagunya sesukses saat bersama Fade2Black. Aku sebagai seorang fans akan selalu mensupport Bondan Prakoso.

Tuesday, February 4, 2014

Love Letter #3: MOVE ON!

Dear @AfriantiPratiwi 

Bagaimana keadaan hatimu? Aku tahu pasti kau bimbang karena acara TV semalam. Iya, aku tahu kau menontonnya. Dan banyak hal yang bisa kau simpulkan dari acara itu: MOVE ON. 

Aku sendiri yakin kau sudah sejak lama menginginkan hal itu. Tapi niatmu selalu tersandung kepingan masa lalu dari lelaki itu, kan? Come on, Sayang, kau bisa melupakan lelaki itu. Mungkin membuang rasa sayangmu padanya tidak mudah, tapi aku yakin kau bisa. 

Sayang, jangan menggantungkan hatimu padanya. Kau sadar, kan, selama tiga tahun lebih kau menantinya, Tuhan tak kunjung mendekatkanmu dengannya. Itu sudah sebuah petunjuk, Wi. Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untukmu dan dia, lelaki itu, bukan yang terbaik. 

"Tiwi! Sudah 3 tahun, dan hanya berakhir dalam puisi? Pecundang kau!" 

Ah, ya. Aku juga mengerti kata-kata itu menyakiti hatimu, tapi itulah kenyataan yang ada pada dirimu saat ini! Percayalah, aku sayang padamu. Maka lepaskan dia pelan-pelan. Kau tidak akan bisa menemukan siapapun yang lebih baik ketika kau masih terus bertahan dan "menggantungkan" hatimu padanya. 

Wi, perjalananmu masih panjang. Kau masih bisa menemukan seseorang yang lebih sayang padamu daripada menunggu lelaki yang bahkan tidak pernah "melihatmu". Sayangi hatimu, Sayang. Aku tahu selama ini kau tersiksa, tapi kau terlanjur nyaman dengan situasi yang kau buat sendiri. 

Apa? Kau bilang kau terjebak dalam janji? Ya ampun, kau bodoh! Benar-benar bodoh menurutku. Hei, dengarkan aku. Apa arti semua janji yang kau buat ketika hal itu hanya menyakitimu? Bahkan Allah pun tidak pernah suka pada manusia yang mendzalimi dirinya sendiri. Aku selalu yakin, Allah akan memaafkanmu karena kau telah mengingkari janji yang membuatmu sakit seperti itu. 

Wi, Allah telah menyiapkan seseorang padamu. Maka kamu hanya perlu memperbaiki dirimu. Aku sayang kamu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Semoga kau bisa benar-benar melakukannya. Cari yang lain, dia bukan yang terbaik untuk kamu. Semangat, Sayang! Aku akan selalu ada untukmu. Jangan sia-siakan hidupmu. :) 

Regards, 
Hati dan logikamu.

Sunday, February 2, 2014

Love Letter #1: Sepotong Surat Usang

Dear My Glassesprince,

Aku mau cerita ya sama kamu, apa aja yang aku rasain selama setahun ini. Aku harap kamu nggak marah sama tulisanku ini. Aku cuma mau kasih tau aja kok meskipun kamu nggak minta. Maaf ya kalau kamu nggak suka sama ini. Tapi aku Cuma bisa ngunkapin lewat tulisan aja. Soalnya aku nggak punya keberanian buat ngomong sama kamu. Let’s go, hehehe… 

Kamu tau nggak apa reaksi aku pas pertama kali ketemu kamu? Kamu itu anak yang cerewet, bawel, dan aku rasa kamu suka caper alias cari perhatian sama kakak kelas. Mungkin kamu lagi adaptasi kali ya… Atau mungkin kamu emang begitu dari dulu? Oke nggak apa-apa. Itu bukan sesuatu hal yang buruk kok.

Kamu pasti nggak tau kan, kalau aku tuh sering banget merhatiin kamu? Dari mulai cari tau nama kamu, asal sekolah kamu, rumah kamu, temen-temen kamu, kesukaan kamu, dan yang terakhir aku dapetin nomer HP kamu dari sohib sekaligus tetangga kamu. Dia sekarang jadi temen baik aku juga loh ^^.

Pertama kali aku ngerasain sesuatu yang beda sama kamu itu pas kita lagi upacara. Kamu berdiri di sebelah kanan aku. Sejak saat itu aku terus cari tau tentang kamu,mulai deketin kamu. Terlebih pas aku udah dapet nomer kamu, langsung deh aku sms. Meskipun awalnya iseng dan kurang berkesan apa-apa karena kamu nggak bales sms. Selanjutnya, aku sering sms kamu tapi kamu nggak pernah bales. Aku cukup kecewa soal itu. Tapi aku pantang menyerah.

Oh iya, kamu inget nggak pas aku sering ngomongin seseorang dengan sebutan “My Glassesprince” bareng temen-temen dan kamu juga? Aku rasa kamu udah sadar sejak aku bacain puisi itu di depan kelas. Karena cuma kamu satu-satunya cowok yang pake kacamata waktu itu. Tadinya aku nggak mau baca puisi itu, soalnya aku takut kamu bakal ngejauh kalo yang aku maksud itu kamu. Tapi aku nekat, demi tersampaikannya maksud hatiku. 

Dan ternyata kamu cuek banget. Ya, aku nggak mempermasalahkan itu. Karena tanpa kamu tau siapa “My Glassesprince”, itu bakal bikin aku lebih deket lagi sama kamu.

Finally, kamu tau juga siapa orang yang aku suka. Aku ketakutan banget loh pas tau kabar itu. Cuma satu yang aku takutin, AKU TAKUT KAMU MENJAUH. Ternyata pikiran aku itu nggak bener. Kamu masih tetep mau temenan sama aku, meskipun nggak sedeket dulu.

Setelah tahun baru itu ternyata banyak yang berubah ya? Aku ngerasa kamu itu pergi diam-diam. Perlahan menjauh. Mungkin emang aku yang salah mengartikan kebaikan kamu. Aku terlalu banyak berharap ya… hehe.., Maaf ya… Ada satu hal loh yang bener-bener bikin aku kaget. Aku baru tau ternyata kamu suka sama dia. Pas aku tanya barulah kamu jujur. Sebenernya kalau kamu jujur dari dulu, aku nggak masalah. Lagian siapa aku? Aku kan nggak bisa melarang kamu untuk deket sama siapapun. AKu cuma pengen tau siapa orang yang kamu suka itu.

Aku juga seneng banget loh pas kamu cerita sama aku tentang dia. Serasa ada pelangi sekeliling aku, meskipun sebelumnya ada hujan dan geledek yang besar. Tapi pelangi itu udah cukup indah buat aku. Apalagi pas baca sms kamu yang kayanya semangat banget nyeritain dia. Aku sendiri malah senyum-senyum bacanya^^.

Pernah sekali waktu aku sedih pas baca cerita kamu tentang dia. Kamu udah mau menyerah, tapi aku berusaha bikin kamu semangat lagi. Cuma aku nggak tau gimana kamu waktu itu, apa saranku berhasil atau nggak. Yang jelas kamu itu emang tegar, nggak pernah terlihat sedih sedikitpun di depan temen-temenmu. Makanya aku juga pengen bisa kayak kamu itu. Dan secara nggak langsung kamu udah ngajarin aku gimana caranya untuk tegar dan dewasa, serta berdo’a dan bersyukur terus sama Allah.

Kamu mungkin benci sama aku, karena aku selalu pengen tau kehidupan kamu. Tapi aku emang ngerasa hidup kamu itu sebagian dari hidup aku yang sekarang. Sesuatu yang kamu anggap nggak penting, itu jadi penting buat aku. Waktu kamu marah sama aku, aku bener-bener kesel sama kamu. Tapi ternyata kamu emang baik, kamu pengen aku itu jadi temen yang baik. Dan aku hargai itu. Aku bahagia ternyata aku nggak salah menyayangi kamu. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu… Aku nggak mau ganggu kamu lagi. Tapi aku mau kamu tau, aku tetep sayang sama kamu, meskipun kamu nggak pernah melihat aku ada disini. Satu tahun emang bukan waktu yang lama kalau dibanding cinta kamu ke dia. Kamu berjuang untuk dia, aku berjuang untuk kamu. I Love You, You Love Her…

With love

Your Friends