Wednesday, January 15, 2014

Untuk Kamu, Sang Pangeran yang Masih Didekap Batin

Malam ini dingin. Hanya saja sepintas terasa membosankan, tapi lebih membosankan karena aku tak kunjung mampu membuang bayang wajahmu. Kadang aku tahu dan aku sadar, menantimu adalah salah satu hal paling sia-sia yang kulakukan. Seperti mencoba berbicara pada angin yang lewat, kemudian bertingkah seolah-olah angin menjawab pertanyaanku. Lebih dari sakit jiwa kalau orang lain bilang.

Sejauh ini aku mencoba mendesain jejak dengan rapi. Mengabadikannya dalam setiap untaian kata pada malam dengan rasa gundah yang menepi di sudut hati. Malam yang membosankan ini sukses membawaku kembali mengarungi telaga kenangan yang aku sulam dalam barisan memori yang usang.

Aku tidak tahu apakah aku harus bertahan atau pergi, sementara hatiku masih sering memunculkan kolase kenangan tentangmu.


Kau pernah dengar kisah ini?
Kisah tentang gadis bermata sendu dengan segudang memori usang
Ia berkisah tentang seseorang
Sembari terisak diantara dedaunan yang bernyanyi

Malam tersenyum tipis
Langitnya bening laksana bola matamu
Angin bertiup lembut
Mengenang sebuah rasa yang tergeletak, mati

Gadis itu menjerit, pilu
Guguran daun tidak membawa pesannya
Angin merenggutnya pergi
Meski, sosok itu akan kembali

Kau dengar?
Gadis itu menanti untuk kembali
Walau bahagia tak mampu ia rengkuh seutuhnya
Tapi, ia setia menanti angin menyampaikan bait rindunya

Purwokerto, 15 Januari 2014. 02:20 WIB

No comments:

Post a Comment