Friday, January 17, 2014

Tentang Waktu dan Jarak

Entah... Kekuatan magis apa yang membuatku amat mencintai hujan. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit yang kelabu memberi energi baru untukku. Setidaknya selalu ada bahagia yang menelusuri dinding hati saat mendung menjelma jadi hujan yang deras. Meski suasana hati yang riang menjadi kelabu, tersamar oleh hujan yang lama. Hingga selalu ada cerita dibalik hujan yang datang.

Sejak dua-ribu-sembilan. Ada ikatan yang nyata untuk semua hal yang pernah kita lalui. Bersama mengejar mimpi. Bergurau bahwa suatu saat kita bisa hidup sukses terlepas dari olok-olok orang. OPTIMIS. Kita saling menguatkan, mendengar, dan berkisah satu sama lain. Mungkin aku yang banyak diam dan tak bisa memberi saran sehebat yang kau lakukan, tapi percayalah bahwa aku pendengar yang baik untuk semua kisahmu.

Malam mengantar dingin yang beku saat aku membaca sepucuk tulisanmu di layar monitor. Foto itu. Aku ingat saat debur ombak di Pantai Jimbaran malam pergantian tahun. Dan aku masih juga berkisah tentang sosok itu. Rencana kita untuk melayarkan perahu kertas gagal total. Hanya untaian do'a untuk keberhasilan tahun berikutnya.

Dan ya, aku pergi merantau. Jarak yang yang terbentang sekarang benar-benar nyata. Meskipun jauhnya ribuan mil, ikatan persahabatan tidak akan pernah putus, kan? Mungkin benar katamu bahwa Allah belum mempertemukan kita dalam satu waktu, tapi sungguh aku merindukan segala "petuah"-mu. :D Bagian pencerah yang manjur saat aku dilanda gelisah.

Semoga akan ada hari dimana kita bisa mencurahkan semua kisah yang kita lewati masing-masing.
Aku baru sadar bahwa kita minim sekali untuk foto berdua. :p
The best friend who I ever have, Eka Nurwati :)


Purwokerto, 16 Januari 2014.

No comments:

Post a Comment