Tuesday, January 21, 2014

Aku Ingin Berlari, Tapi…

Aku selalu ingin berlari. Menjauh dari kenangan yang terhampar di pelupuk mataku setiap aku memejamkan mata. Aku selalu ingin pergi. Melangkah pasti tanpa harus membongkar peti kenangan itu lagi. Aku selalu ingin menghilang. Pergi dari kekosongan yang kuhadapi saat ini. Dan aku selalu ingin bilang bahwa aku tidak sanggup.

Seperti yang Radit bilang, “Ini bukan cerpen ataupun novel, tapi ini curhat yang dibalut kiasan.” Dia benar. Aku selalu menuliskannya tentang kamu. Tentang bait kesedihan yang selalu hadir saat sepi menyerang. Dan angin angin sunyi yang tenang itu tidak pernah menyampaikan rinduku, kan?

Apa kau pikir aku mampu melangkah pergi dari kenangan itu? Kau bilang aku bisa, tapi ternyata tidak. Dan sekarang akan kukembalikan pertanyaan dan pernyataanmu itu padamu. Kau masih belum bisa melupakannya, kan? Pun denganku.

Aku ingin lari, tapi langkahku tersandung oleh angan kosong. Coba kau pikir. Mana bisa aku berlari jika harus menyeret sisa-sisa figura masa lalu itu? Kau bercanda? Bahkan ketika kau menertawakanku, kau sendiri pun sedang bersusah payah lari dari kabut masa lalumu sendiri, kan? Lalu, apa bedanya kau dan aku?

Hahaha, lucunya sekarang kau tidak sadar bahwa kau sedang berada di posisi yang sama denganku. Entahlah ini salah siapa, pun aku tak tahu. Yang jelas, aku ingin berlari tetapi aku terbebani dengan rindu yang menggumpal di dasar hati.

Purwokerto, 21 Januari 2014. 00:13 WIB

No comments:

Post a Comment