Thursday, January 9, 2014

A Letter to My Self (Edisi Kesadaran)

Dear, Myself
Aku bisa membayangkan betapa lelahnya dirimu terjebak dalam penantian. Aku mampu menghitungnya. Deretan tahun yang bergerak kadang tidak sebanding dengan penantianmu yang terukur oleh detik. Dan aku tahu kamu lelah.

Sayang, tidakkah kamu berpikir untuk berhenti? Apa yang sebenarnya kau tunggu dari dia? Waktu yang sering kau hitung dan menjadi rentetan kenangan itu nyatanya tidak membawa dampak apapun bagi dirinya. Dia tetap pada pendiriannya. Bersikap seolah-olah kau tak pernah ada dalam hidupnya. Dia mengabaikanmu.

Kau harus dengarkan aku. Berhentilah menunggunya, Sayang. Hidupmu masih panjang. Kau tidak seharusnya terpaku pada satu orang, yang bahkan dia sendiri tidak pernah menyadari ketulusanmu. Kau seharusnya sadar, kau bisa menemukan yang lebih baik di luar sana. Hidupmu bukan hanya cerita dalam lingkaran laki-laki itu. Ya, meskipun aku tahu, kau memiliki banyak kesempatan bercerita tentang dirinya.


Aku tahu kau tidak bodoh, Sayang. Kau hanya bimbang dengan situasi dan… terlanjur terbelenggu dengan janji yang kau buat dahulu. Iya, janji yang kupikir tidak masuk akal. Mempertahankan sesuatu yang entah ada di mana lokasinya. Dan kau terlanjur berikrar tentang hal yang ingin aku tertawakan. Apa kau bilang?

“Aku akan menunggunya di masa depan.”

Pernyataan macam apa yang kau buat seperti itu? Jujur, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Jelas-jelas dia sudah mengabaikanmu lebih dari 3 tahun, tapi kau masih saja terus berjuang dan terus berharap (atau mungkin berkhayal) bahwa dia akan datang di masa depanmu, melamarmu, dan menikahimu? Omong kosong! Semua Cuma angan-anganmu yang tidak akan pernah terwujud. Eh, tapi entahlah. Aku bukan Tuhan, jadi aku tidak tahu siapa yang akan bersamamu di masa depan.

Kembali kupertanyakan. Apa kau tidak lelah atau jenuh menunggunya yang entah-kapan-akan-datang-atau-boleh-jadi-tidak-akan-pernah-datang?


Berhentilah menunggunya. Cari orang lain yang bisa membuat hatimu terbuka. Jangan biarkan kau menyakiti dirimu sendiri dengan hal ini. Mungkin benar, semua inspirasimu sejauh ini datang darinya, tapi aku yakin kau pasti bisa menemukan inspirasimu yang lain. Berjuanglah untuk hidupmu. Fokus pada impianmu dulu. Biarkan rasa cinta itu hilang dengan sendirinya, tapi jika tidak, maka tunggulah Tuhan mempertemukanmu dengan yang terbaik menurut-Nya.


Dari dirimu yang senang berjuang,
Afrianti Eka Pratiwi

Purwokerto, 9 Januari 2014.

No comments:

Post a Comment