Saturday, January 25, 2014

Aku Di Antara 1000 Bayangmu

Duhai bayangan yang menghantui setiap bunga tidur. Menyelinap masuk di setiap serpihan waktu kosong. Kau tahu apa yang kusebut hening? Kebisuan yang terjadi saat bising menyeringai di antara kita. Itu arti hening bagiku. Ah, ya, mungkin kau tidak mengerti apa yang kumaksud, biarlah hanya aku yang mengerti ini.

Duhai bayangan yang tenggelam dalam ilusi. Kau tahu apa yang kusebut rindu? Suatu perasaan di sela-sela dingin jarimu dan terperosok di antara rasa cinta yang lebur bersama sendu yang menggumpal. Aku yakin kau mengerti apa itu rindu. Hanya saja, kau melakukannya dengan cara lain, tidak sepertiku yang terus menggerutu karena rindu dicekam dinginnya hatimu.

Duhai bayangan yang lebur dalam hujan. Kau tahu apa yang kusebut resah? Gumpalan gelisah yang tinggal di dasar hati kemudian berhamburan seperti ucapan yang tertahan di ujung bibir: kelu.

Seperti yang sudah kubilang: "Pertemuan yang diharapkan tidak selalu menyenangkan."

Aku hanya bisa menatap bias-bias rindu yang larut bersama hujan. Tergerus oleh awan sendu yang kelabu. Dan aku tahu, hatimu masih menyisakan ruang, meski bukan untukku.

Aku di antara 1000 bayangmu yang menyatu di sudut hati. Membeku bersama kepingan kenangan. Ah, ya, tidak akan ada yang peduli dengan ini, terutama kau.

Cileungsi, 25 Januari 2014.

Wednesday, January 22, 2014

Aku Belum Jadi Komunikan Yang Baik



Ini pengalaman barusan. Aku baru saja menaiki sebuah angkot yang kosong di terminal, kemudian angkot tersebut dipenuhi oleh anak-anak SMA yang kupikir dari Korea, karena aku mendengar bahasanya. Seolah ada rasa ingin menyapa, bertanya apa tujuan mereka disini, tapi akhirnya aku hanya bungkam di bangku belakang supir sambil memperhatikan.

Rupanya aku malah sibuk menjawab pertanyaan seorang ibu yang duduk di sebelahku tentang kemana harus mengantar berkas surat yang dibawanya. Aku menjawab sekenanya, setahuku, dan semampuku. Sambil lagi-lagi melirik ke sudut bangku untuk memperhatikan obrolan anak-anak dari Korea tadi. Mereka sibuk sendiri. Awalnya mereka sempat bertanya pada seorang gadis yang duduk bersamaku di dalam angkot seputar Unsoed. Ah ya, aku pikir ia mahasiswi unsoed tahun pertama juga.

Kadang aku tersenyum geli mendengar percakapan anak-anak dari Negeri Ginseng itu. Mereka berlima, tiga laki-laki dan dua perempuan. Teman rombongan mereka menaiki angkot yang lain karena angkot yang mereka tumpangi (bersamaku) tidak cukup untuk menampung mereka semua. Salah seorang dari mereka mampu berbahasa Indonesia meski agak tersendat-sendat. Lucu mendengar mereka berbicara.

Ketika gadia yang mengobrol dengan mereka turun terlebih dahulu, mereka sempat bingung. Mereka tidak tahu harus turun di mana, meskipun kulihat mereka membawa selembar peta Purwokerto. dan ketika supir berhenti menurunkan penumpang, mereka bertanya.


"Paa... Paa... Ini Unsoed?" kata salah seorang dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia bertanya pada sang supir. Pak supir hanya melirik dari kaca spion tanpa menajwab apa-apa, maka akulah yang menjawab dengan komunikasi non verbal berupa gelengan kepala dan menunjuk ke arah depan. Jujur, itu kulakukan karena bahasa Inggris-ku yang kacau, meski aku bisa sedikit-sedikit jika hanya percakapan umum.

Dari hal ini aku belajar sedikitnya satu hal bahwa komunikasi itu penting. Aku sedang belajar berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih baik, bahkan tidak memungkiri suatu saat nanti aku akan bisa bercakap-cakap dengan orang lain menggunakan bahasa asing.



Purwokerto, 21 Januari 2014.
Menjelang kepulangan ke Bogor.

Tuesday, January 21, 2014

Aku Ingin Berlari, Tapi…

Aku selalu ingin berlari. Menjauh dari kenangan yang terhampar di pelupuk mataku setiap aku memejamkan mata. Aku selalu ingin pergi. Melangkah pasti tanpa harus membongkar peti kenangan itu lagi. Aku selalu ingin menghilang. Pergi dari kekosongan yang kuhadapi saat ini. Dan aku selalu ingin bilang bahwa aku tidak sanggup.

Seperti yang Radit bilang, “Ini bukan cerpen ataupun novel, tapi ini curhat yang dibalut kiasan.” Dia benar. Aku selalu menuliskannya tentang kamu. Tentang bait kesedihan yang selalu hadir saat sepi menyerang. Dan angin angin sunyi yang tenang itu tidak pernah menyampaikan rinduku, kan?

Apa kau pikir aku mampu melangkah pergi dari kenangan itu? Kau bilang aku bisa, tapi ternyata tidak. Dan sekarang akan kukembalikan pertanyaan dan pernyataanmu itu padamu. Kau masih belum bisa melupakannya, kan? Pun denganku.

Aku ingin lari, tapi langkahku tersandung oleh angan kosong. Coba kau pikir. Mana bisa aku berlari jika harus menyeret sisa-sisa figura masa lalu itu? Kau bercanda? Bahkan ketika kau menertawakanku, kau sendiri pun sedang bersusah payah lari dari kabut masa lalumu sendiri, kan? Lalu, apa bedanya kau dan aku?

Hahaha, lucunya sekarang kau tidak sadar bahwa kau sedang berada di posisi yang sama denganku. Entahlah ini salah siapa, pun aku tak tahu. Yang jelas, aku ingin berlari tetapi aku terbebani dengan rindu yang menggumpal di dasar hati.

Purwokerto, 21 Januari 2014. 00:13 WIB

Friday, January 17, 2014

Tentang Waktu dan Jarak

Entah... Kekuatan magis apa yang membuatku amat mencintai hujan. Tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit yang kelabu memberi energi baru untukku. Setidaknya selalu ada bahagia yang menelusuri dinding hati saat mendung menjelma jadi hujan yang deras. Meski suasana hati yang riang menjadi kelabu, tersamar oleh hujan yang lama. Hingga selalu ada cerita dibalik hujan yang datang.

Sejak dua-ribu-sembilan. Ada ikatan yang nyata untuk semua hal yang pernah kita lalui. Bersama mengejar mimpi. Bergurau bahwa suatu saat kita bisa hidup sukses terlepas dari olok-olok orang. OPTIMIS. Kita saling menguatkan, mendengar, dan berkisah satu sama lain. Mungkin aku yang banyak diam dan tak bisa memberi saran sehebat yang kau lakukan, tapi percayalah bahwa aku pendengar yang baik untuk semua kisahmu.

Malam mengantar dingin yang beku saat aku membaca sepucuk tulisanmu di layar monitor. Foto itu. Aku ingat saat debur ombak di Pantai Jimbaran malam pergantian tahun. Dan aku masih juga berkisah tentang sosok itu. Rencana kita untuk melayarkan perahu kertas gagal total. Hanya untaian do'a untuk keberhasilan tahun berikutnya.

Dan ya, aku pergi merantau. Jarak yang yang terbentang sekarang benar-benar nyata. Meskipun jauhnya ribuan mil, ikatan persahabatan tidak akan pernah putus, kan? Mungkin benar katamu bahwa Allah belum mempertemukan kita dalam satu waktu, tapi sungguh aku merindukan segala "petuah"-mu. :D Bagian pencerah yang manjur saat aku dilanda gelisah.

Semoga akan ada hari dimana kita bisa mencurahkan semua kisah yang kita lewati masing-masing.
Aku baru sadar bahwa kita minim sekali untuk foto berdua. :p
The best friend who I ever have, Eka Nurwati :)


Purwokerto, 16 Januari 2014.

Wednesday, January 15, 2014

Untuk Kamu, Sang Pangeran yang Masih Didekap Batin

Malam ini dingin. Hanya saja sepintas terasa membosankan, tapi lebih membosankan karena aku tak kunjung mampu membuang bayang wajahmu. Kadang aku tahu dan aku sadar, menantimu adalah salah satu hal paling sia-sia yang kulakukan. Seperti mencoba berbicara pada angin yang lewat, kemudian bertingkah seolah-olah angin menjawab pertanyaanku. Lebih dari sakit jiwa kalau orang lain bilang.

Sejauh ini aku mencoba mendesain jejak dengan rapi. Mengabadikannya dalam setiap untaian kata pada malam dengan rasa gundah yang menepi di sudut hati. Malam yang membosankan ini sukses membawaku kembali mengarungi telaga kenangan yang aku sulam dalam barisan memori yang usang.

Aku tidak tahu apakah aku harus bertahan atau pergi, sementara hatiku masih sering memunculkan kolase kenangan tentangmu.


Kau pernah dengar kisah ini?
Kisah tentang gadis bermata sendu dengan segudang memori usang
Ia berkisah tentang seseorang
Sembari terisak diantara dedaunan yang bernyanyi

Malam tersenyum tipis
Langitnya bening laksana bola matamu
Angin bertiup lembut
Mengenang sebuah rasa yang tergeletak, mati

Gadis itu menjerit, pilu
Guguran daun tidak membawa pesannya
Angin merenggutnya pergi
Meski, sosok itu akan kembali

Kau dengar?
Gadis itu menanti untuk kembali
Walau bahagia tak mampu ia rengkuh seutuhnya
Tapi, ia setia menanti angin menyampaikan bait rindunya

Purwokerto, 15 Januari 2014. 02:20 WIB

Tuesday, January 14, 2014

Sebuah Perwujudan Impian (Puncak Gunung Slamet, 3428 mdpl)

Di kertas itu aku menulisnya, "Ingin naik gunung Gede-Pangrango tahun 2013". Tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya aku sampai. Usahaku tidak maksimal dan impian itu lebur bersama angin yang pergi. Tidak pernah kubayangkan bahwa Allah memberi kesempatan lain yang lebih hebat daripada mimpi tertulisku itu.


Sebelum ini, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan menjejak kota ini. Sebuah kota tempatku menuntut ilmu yang mampu membuatku mewujudkan impian dan keinginanku itu. Tidak pernah terbayangkan bahwa aku akan mampu berdiri di puncak itu di bulan akhir 2013.

Langkah menuju puncak tidaklah mudah. Namun, ketika kaki mulai jenuh menjejak bebatuan, ketika tangan mulai lelah berpegang pada akar pohon, ketika mata mulai letih menatap puncak yang jauh, saat itulah aku mengerti. Bersama mereka, aku bisa. Lagi-lagi sugesti positif menjadi tumpuanku.

"Ayo, Wi, dikit lagi nyampe kok." Salah satu dari mereka memberiku motivasi kala aku sudah benar-benar lelah untuk berjalan.

Hidup ibarat proses mendaki gunung bagiku. Medan berat bukanlah suatu masalah ketika aku tahu bagaimana cara melewatinya. Puncak gunung adalah kesuksesan yang aku dapat ketika semua proses aku lakukan dengan baik. Dan ketika turun, aku akan menjadi seseorang yang sederhana, kemudian mengulangi prosesnya untuk mencapai (puncak) kesuksesan itu lagi.

Dan pada akhirnya, sebuah mimpi mendaki gunung, Allah berikan padaku di 8 Desember 2013. Meskipun bukan gunung yang sama seperti yang aku tulis di kertas itu, tapi ini lebih hebat.
Gunung Slamet, 3428 mdpl. Bersama kawan-kawan KMPA FISIP Unsoed.



Purwokerto, 14 Januari 2014.

Thursday, January 9, 2014

A Letter to My Self (Edisi Kesadaran)

Dear, Myself
Aku bisa membayangkan betapa lelahnya dirimu terjebak dalam penantian. Aku mampu menghitungnya. Deretan tahun yang bergerak kadang tidak sebanding dengan penantianmu yang terukur oleh detik. Dan aku tahu kamu lelah.

Sayang, tidakkah kamu berpikir untuk berhenti? Apa yang sebenarnya kau tunggu dari dia? Waktu yang sering kau hitung dan menjadi rentetan kenangan itu nyatanya tidak membawa dampak apapun bagi dirinya. Dia tetap pada pendiriannya. Bersikap seolah-olah kau tak pernah ada dalam hidupnya. Dia mengabaikanmu.

Kau harus dengarkan aku. Berhentilah menunggunya, Sayang. Hidupmu masih panjang. Kau tidak seharusnya terpaku pada satu orang, yang bahkan dia sendiri tidak pernah menyadari ketulusanmu. Kau seharusnya sadar, kau bisa menemukan yang lebih baik di luar sana. Hidupmu bukan hanya cerita dalam lingkaran laki-laki itu. Ya, meskipun aku tahu, kau memiliki banyak kesempatan bercerita tentang dirinya.


Aku tahu kau tidak bodoh, Sayang. Kau hanya bimbang dengan situasi dan… terlanjur terbelenggu dengan janji yang kau buat dahulu. Iya, janji yang kupikir tidak masuk akal. Mempertahankan sesuatu yang entah ada di mana lokasinya. Dan kau terlanjur berikrar tentang hal yang ingin aku tertawakan. Apa kau bilang?

“Aku akan menunggunya di masa depan.”

Pernyataan macam apa yang kau buat seperti itu? Jujur, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Jelas-jelas dia sudah mengabaikanmu lebih dari 3 tahun, tapi kau masih saja terus berjuang dan terus berharap (atau mungkin berkhayal) bahwa dia akan datang di masa depanmu, melamarmu, dan menikahimu? Omong kosong! Semua Cuma angan-anganmu yang tidak akan pernah terwujud. Eh, tapi entahlah. Aku bukan Tuhan, jadi aku tidak tahu siapa yang akan bersamamu di masa depan.

Kembali kupertanyakan. Apa kau tidak lelah atau jenuh menunggunya yang entah-kapan-akan-datang-atau-boleh-jadi-tidak-akan-pernah-datang?


Berhentilah menunggunya. Cari orang lain yang bisa membuat hatimu terbuka. Jangan biarkan kau menyakiti dirimu sendiri dengan hal ini. Mungkin benar, semua inspirasimu sejauh ini datang darinya, tapi aku yakin kau pasti bisa menemukan inspirasimu yang lain. Berjuanglah untuk hidupmu. Fokus pada impianmu dulu. Biarkan rasa cinta itu hilang dengan sendirinya, tapi jika tidak, maka tunggulah Tuhan mempertemukanmu dengan yang terbaik menurut-Nya.


Dari dirimu yang senang berjuang,
Afrianti Eka Pratiwi

Purwokerto, 9 Januari 2014.