Thursday, December 19, 2013

Setelah Hujan

Lengkap sudah hari ini. Semua terasa meyakinkan. Hujan yang datang, mengundang semua keraguan itu. Tentang kamu, tentang harapanku yang sempat menjelajah, hingga dinding hati rasanya ingin ambruk dan tak lagi mengingatmu. Semua kembali dalam sekejap mata. Kamu, inspirasi terhebat yang pernah aku miliki. Kamu kembali dalam siluet yang berbeda. Membuatku lagi-lagi harus mengerti akan keadaan yang sedang kuhadapi.

Ah, ya. Lisanku selalu bungkam ketika berbicara tentang kamu. Tapi tanganku selalu gesit menorehkan aksara demi aksara di selembar kertas dan media apapun yang bisa aku gunakan. Ini masih tentang kamu, seseorang yang masih menjadi pangeran sejak hari itu.

Apa aku bilang, aku melihatnya sejak kau memutuskan menjadikannya kekasihmu. Aku melihatnya, sebuah rasa yang berlindung dibalik senyumnya kadang menyakitkan. Sekarang, apa buktinya

Aku terkepung rasa yang semakin dalam tanpa bisa lagi lari menjauh. Semakin aku berlari, semakin rasa itu mengejarku. Kamu, sisa hujan dalam angan yang nyata.

Monday, December 16, 2013

Say Hello For Goodbye

Selamat malam, dunia(ku).
Dari sini, aku masih tersangkut dalam hening. Mencoba membuat keributan dari pikiranku, Perdebatan tentang hati dan perasaan. Sulit. Aku diharuskan emngerti sebab darimana rasa itu tumbuh. Alasan untuk membuatnya menjadi nyata. Tanpanya, semua hanya jadi ilusi, bayang-bayang, dan angan kosong yang siap menerkamku kapan saja.


Coba kamu pikir. Aku harus memahami arti sikapmu tanpa harus kamu katakan. Ternyata hanya dengan menerkanya, aku belum paham. Dan karena menerkanya pula, aku terjebak salah paham.

Lalu aku harus bagaimana? Menangis beriringan dengan hujan karena aku tak mampu menyimpulkan semua sikapmu? Halo, aku bukan paranormal. Aku bukan seseorang yang mampu membaca pikiranmu, kan? Dan kamu seharusnya tahu.


Purwokerto, 15 Desember 2013. 1:11 AM

Tuesday, December 10, 2013

Di Antara Gemuruh dan Hujan

Hening. Sunyi. Hanya desau angin yang terdengar ribut di antara malam yang membeku. Aku tahu, lagi-lagi aku tahu. Paham. Bahwa yang seharusnya terjadi adalah aku harus menenggelamkan pikiran itu. Menimbun dan menguburnya dalam-dalam.

Sesungguhnya siapa yang salah? Aku yang terlalu berharap atau aku yang salah mengartikan. Bagaimana denganmu? Harapan yang kau putar dari waktu ke waktu membuatku berpikir. Adakah yang berbeda? Atau semua hanya kiasan dari kanvas lukisanmu yang terlihat nyata? Oh, aku lupa. Kamu hanya terlalu ramah. Ya, sesederhana itu kesimpulannya.

Sejujurnya aku hanya mencoba melihat, mengamati, dan menerka. Di sana, di antara kabut yang menyelimuti, aku ingin berkata. Sesuatu yang hendaknya tidak aku sampaikan, hingga akhirnya lupa membuatku terbebas dari rasa canggung itu.