Monday, July 22, 2013

Catatan Tentang Kenyataan

Sudah seharusnya semua yang terjadi di masa lalu hanya jadi kenangan. Tidak untuk diungkit, tidak untuk dijalani lagi. tapi aku selalu salah. Apa yang terjadi di masa depan, tidak pernah ada di masa lalu, tetapi masa lalu selalu mengikuti mmasa depan. Jejak yang tersembunyi. Begitulah aku menyebutnya. Dan semua jejak itu masih ada. Lengkap dengan semua penyesalan.
Kisah enam tahun lalu aku awali dengan rasa alamiah sebagai anak pubertas. Iya, aku menyukai seseorang. Seseorang itu menarik perhatianku hingga hampir sepenuhnya. Bahkan hingga aku tak mempedulikan orang lain. Jahat? Ya. Egois? Ya. Karena aku juga tak pernah mengerti mengapa smeua itu ada dan mengapa harus menjadi seperti itu. aku hanya ingin di dekatnya, entah sampai kapan.

Semua yang terjadi tidak selalu baik. Yang kualami pun demikian. Jalan panjang berbatu, kerikil tajam, selalu menghantui jalanku. Itu pikiranku 5 tahun yang lalu. Berlebihan? Ya. Saat itu aku merasa bahwa aku mencintainya sepenuh jiwaku, entah aku yang bodoh atau memang begitu adanya.

Aku sangat tidak rela ketika ada gadis yang menarik perhatiannya. Dan aku cukupkan sampai disini. Aku mencobanya, lepas dari himpitan rasa sakit yang mendera hati. Tidak bisa. Semua yang kulalui bahkan tak sedikitpun melenyapkan perasaan itu. aku rasa karena aku terlalu sering bertemu dengannya. Baiklah, kutunggu hingga waktunya tiba untuk aku bisa benar-benar melepas semuanya.

Harapanku terkabul. Selesai sudah semua kisah yang pernah ada. Kisah cinta masa “remaja tanggung” yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. aku sudah tidak pernah melihatnya lagi meskipun jarak rumahku dan rumahnya hanya beberapa rumah. Semua kesibukan menelanku pelan-pelan. Menghapus memori lama yang menghantui setiap langkahku saat itu. dua tahun berlalu cepat, bukan? Aku bebas! Ya, aku bebas.

Aku mungkin bisa menghindarinya, tapi dunia terlalu sempit untuk tidak mempertemukan satu orang dengan orang lain. Ya, aku bertemu dia lagi. di suatu ujung jalan dengan terik matahari yang menyengat. Kebisuan sempurna menjadi milik kita ketika mata kamu tak sengaja bertemu. Itu pertama aku aku melihatnya lagi sejak dua tahun mendekam dalam kekosongan.

Sejak hari itu dia sempurna datang. Memasuki sedikit demi sedikit hidupku. Pada awalnya aku menanggapinya biasa, tapi lama kelamaan dia sukses membuatmu menggali memori masa lalu yang sudah aku kubur. Dia… memberiku sepotong pesan singkat berisi kata-kata manis yang dulu aku harapkan. Jujur, saat itu aku masih mengharapkannya juga. Setelah hampir tiga tahun tanpa pembicaraan dan setelah satu tahun aku merasakan kembali posisi “bertepuk sebelah tangan”, aku mendapatkan respon lebih darinya.

Selama itu hari-hariku terisi olehnya, tapi aku tidak pernah memberinya sedikitpun kejelasan tentang hubungan macam apa yang aku dan dia jalani saat itu. Aku masih terikat pada seseorang lain. Seperti yang sudah aku duga, ia akhirnya pergi kembali. Tak tahan menunggu terlalu lama, mungkin.

Seminggu terakhir aku merindunya lagi. Entah bagaimana perasaan itu bisa datang kembali. Aku membuka profil akun social medianya, sekadar mengobati rasa rindu yang terlanjur memuncak. Dan kudapati satu hal, sebuah foto dirinya bersama seorang perempuan. Aku tahu, itu kekasih barunya. Sejak hari ini, semua akan terkubur lagi. Aku tidak perlu merindukannya lagi, aku tidak perlu tahu kabarnya lagi, dan aku tidak ingin mengulang memori ini lagi. Selesai sudah kisah ini.


“Dia datang tanpa kuminta dan dia pergi saat tidak kuminta.”

Cileungsi, 22 Juli 2013

2 comments:

  1. mbak minta URL tamplate blognya dong mbak? saya pengen punya kayak gini

    ReplyDelete