By Me For Me (Edisi Perguruan Tinggi)

A Letter by My Self

Dear myself,
Aku tahu saat ini kamu sedang dilanda kebingungan. Hal yang paling penting yang saat ini kau pikirkan adalah tentang Perguruan Tinggi. Ya, tepat tanggal 8 Juli lalu, namamu tercantum dalam website resmi SBMPTN sebagai salah satu siswa yang lolos dalam ujian SBMPTN. Aku tahu, hal itu membuatmu bahagia, tapi entah selanjutnya bagaimana. Banyak hal yang membuatmu berpikir tentang hal ini.



Pilihan pertamamu adalah Sastra Jepang UNPAD, yang sudah jelas kau gagal. Sejak hari kedua ujian SBMPTN selesai, mungkin kau masih berharap bisa tinggal di Bandung untuk melanjutkan studimu dengan jurusan itu, tapi ketika kau mendapat kunci jawaban dari tempat bimbelmu dan mengoreksinya, barulah kau tahu bahwa tidak sedikit yang salah dari jawaban yang kau isi pada LJK. Saat itu kau mulai yakin, bahwa pilihan kedua lah yang akan kau terima meski kau sendiri belum yakin 100% apakah bisa lolos atau tidak, melihat sainganmu yang begitu banyak pada pilihan jurusan keduamu, Ilmu Komunikasi UNSOED.

Namun, semenjak kau mendengar banyak orang yang bilang perihal prospek kerja lulusan Sastra Jepang, kau mulai ragu. Sedikit demi sedikit kau berharap agar tidak diterima pada jurusan itu meskipun sungguh kau sangat ingin tinggal di Bandung. Memang aku juga tahu kau hanya menyukainya, bukan mencintainya. Bahkan kau tak tahu pasti apa yang bisa kau kerjakan setelah lulus dari jurusan itu selain jadi penerjemah buku dan semacamnya. Yang kau pikirkan hanya kau sangat ingin bisa pergi ke Jepang, padahal impianmu adalah menjadi jurnalis dan bekerja pada salah satu stasiun TV ternama. Dan do’amu terkabul secara sempurna, kau tidak mendapatkannya pilihan jurusan pertamamu dan kau mendapatkan yang kedua. Betapa mimpimu akan jadi kenyataan. Ya, suatu hari nanti kau akan menjadi seorang jurnalis dan bisa pergi liputan ke Negara Sakura itu.


Saat itu kau bahagia juga kedua orangtuamu, kau berpikir inilah kesempatan untuk membanggakan mereka setelah kau dinyatakan gagal pada jalur SNMPTN beberapa bulan lalu. Kini kau mengerti betapa keberhasilan selalu dilalui oleh kegagalan terlebih dahulu dan kau juga tahu bahwa keberhasilan tidak hanya sebuah hal yang instan, tapi butuh perjuangan. Dan kau sudah bisa merasakannya.


Kau melihatnya, binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua orangtuamu, sama bahagianya seperti dirimu yang berhasil membuat mereka tersenyum bangga. Tapi kau melihat Mamamu yang hendak menangis, kau yakin ia bahagia hanya saja ia tidak ingin kau meninggalkannya dalam waktu yang lama. Ya, kau tahu jarak selalu membuat sulit keadaan, termasuk hubungan kekeluargaan. Mamamu hanya ingin yang terbaik untukmu meskipun ia sangat ingin kau menempuh kuliah di Perguruan Tinggi yang jaraknya tidak sejauh ini. Ia hanya menginginkanmu selalu ada di dekatnya. Tapi akhirnya ia mengalah, ia tahu bahwa ini adalah mimpimu yang juga mimpinya. Melihatmu sukses dengan prestasi yang cemerlang adalah kebahagiannya, dan kau tak boleh menghancurkan mimpinya. Tugasmu hanya membuatnya bahagia dengan caramu, belajar dan sukses. Itu cukup untuknya. Dan jangan pernah sia-siakan pengorbanan mereka, orangtuamu. Aku yakin apapun akan dilakukan untukmu, anak mereka.


“Tapakilah jejak diri, wujudkanlah mimpi, dan yakinlah kan kau raih…
Lakukanlah dari hati, beri yang terbaik, pasti kan kau raih…”
(BondanF2B – Waktu)

“Jangan menangis Bunda tercinta, anakmu baik di sini…
Tak perlu khawatir Ayah tersayang, do’akan aku di sini…
Ku akan melakukan yang terbaik
Semoga bahagia menantiku di ujung waktu…”
(Lyla – Baik Di Sini)

Dari dirimu yang penuh semangat,
Afrianti Eka Pratiwi

Cileungsi, 13 Juli 2013

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)