Saturday, June 29, 2013

Dear Saturday Night

Dear Saturday Night,

Kelabu. Ya, satu kata itu mampu membuatku malas untuk melakukan sesuatu di malam ini. Terlebih lagi, ada hal yang juga mengirimi sinyal ke otakku untuk terus terpusat padanya. Aku rindu Pangeran Matahari. Sampai saat ini aku belum bertemu dengannya lagi. Rindu? Ya, pasti. Akan selalu ada rasa rindu untuk sebuah rasa yang tidak terdefinisikan, juga untuk sosok sepertinya. Namun, aku tak sanggup mengatakannya layaknya sebuah hal yang sangat tabu. Hanya Tuhan yang akan menyampaikannya, lewat lantunan doa.

Selamat malam, Sabtu Malam. Semua hampa. Seperti ide tulisanku yang tersendat sampai hari ini. Setelah aku berhenti menggenggam untuk bagian tersulit yang selama ini tidak pernah bisa aku longgarkan sedikitpun, tapi kini aku mampu. Barisan nama itu sudah cukup menghiasi masa remajaku, jadi aku memutuskan untuk menyudahinya sebelum aku benar-benar terjebak lebih jauh. Dan ketika deretan nama baru muncul begitu saja, aku tak berani menyebutkan rasa apa yang hadir di hatiku dan di pikiranku. Terlalu rumit.


Aku takut rasa itu hanya sementara, bagian dari rasa nyaman yang aku rasakan saat ini, tapi tidak untuk nanti. Bagian kisah untuk masa sekarang tapi tidak untuk masa depan. Rasanya terlalu cepat bila aku langsung menyimpulkan itu sebuah… cinta. Aku suka, aku sayang, tapi dalam definisi yang berbeda. Aku suka saat ada bagian yang mengaitkan kita satu sama lain. Aku nyaman bila ada saat dimana kita tertawa untuk hal
apapun.

Aku menganggapnya teman baik, teman yang mampu membuatku tidak lagi mengingat semua masalah yang kuhadapi. Tetaplah jadi teman terbaikku!



Cileungsi, 29 Juni 2013.

No comments:

Post a Comment