The 4th of April

Adzan Zuhur


Zuhur memanggil saya dengan syahdu. Tidak ada yang aneh dengan zuhur ini, hanya saja ada yang berbeda. Ini tentang kamu. Lagi, lagi, dan lagi tentang kamu. Entah mengapa saya tidak pernah bosan membahas kamu. Untuk saya, cerita tentang kamu tidak akan pernah habis saya tuliskan. Termasuk untuk siang ini, zuhur yang menyejukkan.


Ini kisah kecil, dan saya tahu kamu bosan mendengarnya. Bahkan saya yakin kamu tidak ingin tahu tentang ini. Tapi, semua terserah kamu. Tahu atau tidaknya kamu, saya akan tetap menuliskan hal ini.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar….” Seruan untuk solat sudah datang. Lamat-lamat saya mendengarnya dan mengacuhkan siapa yang mengumandangkan adzan tersebut. Ini aneh. Tidak biasanya saya merasa gelisah. Bukan karena saya telat melaksanakan solat, tetapi saya mengetahui bahwa yang mengumandangkan adzan itu adalah… kamu. Saya baru mengenali suara kamu (lagi) ketika adzan hampir selesai.

Saya menundukkan kepala, bergumam suatu hal yang sampaikan pada Tuhan. Ini kedua kalinya saya mendengar kamu mengumandangkan adzan.

Putaran waktu menarik saya kembali tepat ketika kamu mengumandangkan adzan yang pertama kali, kira-kira hampir satu tahun yang lalu. Saya tersenyum saat itu. Setelah melaksanakan kewajibanmu, kamu keluar dengan tampangmu yang biasa, penuh tawa. Gerimis tidak membuatmu mundur untuk kembali ke kelas. Dan, saya tidak mengerti apa yang kau lakukan saat itu, mengelilingi tanaman hias yang ada di sana. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti. Waktu cepat berlalu, ya? Sebentar lagi kita berpisah.

Kesadaran saya kembali ke masa kini. Di tempat yang sama seperti dulu. Adzan zuhur itu terasa berbeda di telinga saya. Bukan karena saya membeda-bedakannya, tapi memang begitu adanya.


           

Saya sedang menatap matahari yang tertutup awan. Kamu ada di sana. Membawa tas ranselmu yang kira-kira dua atau tiga bulan ini terus aku lihat. Apa mungkin tasmu yang lama sudah rusak? Atau, saat ini kamu telah membawa banyak buku menjelang ujian? Saya kira kamu tidak pernah peduli dengan banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa. Tapi ternyata saya salah.

Kamu menghampiri temanmu di depan mushola. Duduk dan mulai mengeluarkan buku matematika milikmu. Saya mulai gelisah. Akhir-akhir ini saya selalu merasa gelisah ketika berada di dekatmu. Tanpa alasan yang jelas.

Saya tahu saya pernah berjanji bahwa saya akan tetap semangat bila ada kamu. Tapi keadaan ini lain. Keadaan ini serasa memaksa saya untuk menjadi yang lain, menjadi yang bukan diri saya. Saya tidak mengerti mengapa begini. A, saya hanya ingin kita sukses ujian. Selepas itu, biarkan saya pergi dengan sayap saya sendiri. Jangan pernah halangi saya lagi. Saya sayang kamu, A.




Cileungsi, 4 April 2013

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)