Thursday, April 25, 2013

The 23rd of April


Rahasia Hati

In this world, you need something called a feeling beside your rationality think. Without your feeling, you never know a thing called love. But, without your logical, you never know how to face the reality.


Dear Someone,

Dengarkah kau apa yang akan kuucap padamu semalam? Tahukah kau apa yang memenuhi pikiranku semalam? Atau, sudikah kau meluangkan sedikit waktumu hanya untuk membaca tulisanku ini? Ini tentang kamu. Tentang waktu yang membuat semua ini terasa berbeda. Tentang momen yang membuat keadaan ini terasa aneh, untukku.

Aku tahu, tidak mudah mengatakan ini. Semalam aku mencobanya. Memulai percakapan kita dengan basa-basi yang tidak pernah aku sukai. Hingga pada akhirnya kamu tahu bahwa aku membohongimu dari sekian banyak pesan tidak bermutu yang aku kirimkan.

Saat satu pesanmu datang, aku berniat membalasnya segera. Namun, aku berpikir apa respon yang aku dapat ketika aku membalas itu? Lama. “Just try to make a joke. You’re seriously person.” Dan itulah yang kau baca di layar ponselmu. Tapi itu hanya mampu menyembunyikan semuanya tak sampai lima menit. Kau tahu. Lebih cepat dari yang aku pikirkan.

Aku selalu berpikir panjang ketika dihadapkan pada keadaan ini. Apa ini hanya fantasi sesaat yang mungkin saja bisa hilang dalam beberapa waktu ke depan? Atau, aku sedang berusaha mengingkari dan menolak hal itu? Dan aku tidak pernah mengerti.

Mungkin sulit memaknai apa yang ada di balik ini. tapi aku berusaha mengenalinya. Mengenali setiap senti pikiranku sendiri. Memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku menemukannya. Aku yang salah. Aku yang terlalu perasa. Aku yang terlalu menganggap ini semua spesial. Aku yang terlalu berharap… dan aku mengerti sekarang.

Selama ini, aku selalu mengaitkan hal itu dengan pikiranku. Berharap aka nada hal lain yang menyambungnya dengan baik. Membuat simpul kebahagiaan di ujungnya. Tapi semua itu tidak pernah ada. Ya, tidak pernah. Sekalipun tidak pernah ada. Itu semua hanya bagian dari drama yang diputar dalam pikiranku. Semu. Maya. Tidak nyata. Bohong.

Kau bisa tertawa sekarang. Anggap ini sebuah lelucon dari kisah seorang gadis yang berteman sepi. Menganggap semua hal bisa direngkuhnya dengan keajaiban dunia dongeng seperti di alam mimpinya. Sulit membedakan mana yang nyata dan khayal. Atau bisa juga miris membaca ini. terserah kau pilih yang mana. Aku tidak memaksa.

Then, seperti yang aku bilang. Aku ingin memberitahumu sesuatu. Tapi semua tidak bisa terungkap saat aku ingin mengatakannya. Mungkin suatu saat. Ya, suatu saat nanti. Jika aku tidak sempat mengatakannya, maka catatan ini akan jadi pengantarnya. Tentang waktu yang menjadi rahasia. Tentang keadaan yang mungkin saja berubah. Seperti pikiranku, yang mungkin saja hanya sepintas memikirkan kamu.

Cileungsi, 24 April 2013

No comments:

Post a Comment