The 12th of April

Delapan Belas yang Bermakna

Nobody’s perfect. Pepatah tua yang selalu benar. Karena tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang sempurna terkecuali Rasullullah Saw. Sama seperti kisah di penjuru dunia manapun, tak sempurna.





Delapan belas tahun menjejakkan kaki di bumi. Menghirup oksigen hampir setiap detik. Tapi, semua ini masih jauh dari kata sempurna. Kembali lagi, apapun tidak ada yang sempurna. Sekalipun hidup bergelimang harta. Satu hal kesempurnaan yang ada di dunia, yang pernah aku miliki dan masih aku rengkuh hingga sekarang adalah keluarga. Mereka adalah tempat aku pulang, merekam adegan demi adegan kebahagiaan yang ada. Meski harus diselingin peristiwa perang kecil.

Delapan belas tahun menapaki diri. Menjadi pribadi yang sederhana, meski pada kenyataannya terlalu banyak godaan yang menjerumuskan. Tapi aku selalu bersyukur, aku masih dalam perlindungan Allah. Membuatku sedikit banyak mengerti, bahwa kehidupan tidak semudah merobek selembar kertas (ini pepatah baru).

Delapan belas tahun mencoba mengenali sebuah kata “dewasa”. Mental, cara berpikir, dan segala hal untuk bersikap seperti orang dewasa yang bijaksana, tidak lagi kekanak-kanakan, rasional, dan lebih menggunakan logika. Untuk yang terakhir itu, aku tidak yakin. Mengatakannya begitu mudah, tapi dalam praktik semua belum tentu bisa, termasuk orang yang berusia kepala 3 ke atas sekalipun. Terkadang, aku harus belajar banyak hal dari dunia luar. Dari seorang pengamen kecil di dalam bus, misalnya.

Dia teramat kecil untuk mengerti arti kehidupan yang sebenarnya, semua masa kanak-kanak yang terbalut oleh debu dan asap tak pernah membuatnya patah semangat. Pengamen kecil itu contoh kecil yang nyata dalam hidupku.



Delapan belas tahun menekuni kehidupan dan tidak mengerti apapun tentang cinta. Kisah picisan yang sering aku baca bahkan aku tulis sendiri adalah cermin bahwa sifat cinta hanya begitu-begitu saja. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan, memadu kasih di taman-taman, makan di restoran atau warung makan, pergi nonton bioskop. Itu semua hanya berdua, tidak ada yang lain.

Pada kenyataanya seperti itu. Padahal aku tahu, arti cinta yang sesungguhnya adalah mengasihi dengan tulus, seperti kasih Ibu yang tak pernah habis dimakan usia. Seperti kasih Ayah yang harus rela bekerja demi keluarganya. Seperti seseorang yang siap untuk jatuh dari awal untuk kebahagiaan orang lain. Itu yang aku tahu. Hanya sebagian kecil dari arti yang sebenarnya. Karena lebih banyak lagi definisi dan opini subjektif dari orang-orang.

Delapan belas tahun yang masih jadi pembelajaran. Tahun ini, aku berharap bisa lulus dengan nilai yang memuaskan di Ujian Nasional. Tiga hari sebelum ujian Nasional berlangsung adalah hari ini. dan hari ini hari terbaik yang pernah ada. Dari 18 tahun usiaku saat ini, aku belum pernah setegang ini menghadapi ujian. Dan harapanku hanya lulus, membanggakan orang tua. Itu saja. Mohon kabulkan, Ya Allah.


Delapan belas tahun yang bermakna. Rasanya sulit untuk tidak menceritakan bagian ini. Bagian memilukan yang akan menjelaskan betapa anehnya aku. Bagian menyedihkan yang akan menjelaskan betapa bodohnya aku membiarkan perasaan itu terus tumbuh tanpa bisa dihentikan. Bisa, tapi pikiranku selalu menolaknya. Sebuah pengingkaran yang maha dahsyat. Sebuah kebohongan besar yang selalu aku katakan.

Entah dengan pikiran apa aku masih membiarkan itu semua berlanjut. Memenuhi daftar tindakan bodoh yang pernah kulakukan. Dan dengan sadar, aku membiarkan diriku tergerus dan terhisap oleh angan-angan palsu yang selama ini mendekam di dasar hati. Sulit dijelaskan. Maka, akan kucukupkan sampai di sini.

Untuk delapan belas tahun yang begitu menyenangkan. Aku berterima kasih pada Allah yang masih berbaik hati dan selalu berbaik hati kepadaku. Memberiku kesempatan untuk bisa belajar lebih banyak di bumi milik-Nya.


Cileungsi, 19 April 2013

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)