The 11th of April


Tentang Sebuah Maaf

Langit masih cerah merona. Dengan matahari dan awan yang berarak tipis melengkapinya. Semua terlihat sempurna, tapi tidak untukku. Kamu tidak ada. Jadi, ada sebagian hal yang hilang pada hari itu. Menjelang ujian nasional adalah waktu yang aku benci. Bukan berarti aku takut menghadapinya, tapi itu artinya waktuku untuk melihatmu akan semakin tipis.

Jelas, aku menginginkan waktu lebih banyak dari ini. Kita bisa lihat apa yang akan terjadi setelah ujian nasional ini. Aku pasti akan sangat jarang berada di sekolah, bahkan sudah pasti ketika aku kembali ke tempat itu, kemungkinan kamu sudah pulang, meskipun aku tahu kamu selalu betah di sekolah.

Oke, aku tidak akan membahas ini terlebih dahulu. Aku akan membahas satu hal yang menurutku mampu membuatku merasa sedikit lega.

Derai air mata teman-teman tak mampu mempengaruhiku. Kepalaku pening, migraine dari beberapa hari yang lalu. Dan, meskipun aku terharu dengan situasi itu, aku tidak bisa menangis. Kau tahu, ini semua akibat janjiku yang dulu lagi. Aku tersenyum seraya menjabat tangan beberapa teman yang aku temui. Tentang permintaan maaf menjelang ujian nasional, ini ritual biasa. Tapi ada hal yang tidak biasa semenjak kau memilih gadis itu.


Aku melihatnya, terduduk di bawah pohon rindang bersama beberapa temannya. Sibuk memperhatikan layar ponselnya. Entah, aku tidak tahu apa yang ia lakukan dan aku tidak ingin tahu. Sungguh. Ada getaran halus yang menyuruhku untuk kesana. “Hanya meminta maaf, kan? Oke, akan aku lakukan,” pikirku.

Aku dengan segenap hati, menghampirinya. Ada rasa canggung saat memulai sebuah percakapan pendek dengannya.

“Aku minta maaf, ya.” Aku mengulurkan tangan dan tersenyum. Ia membalas sepersekian detik dan menyambut uluran tanganku, saling berjabat. Tidak sampai lima detik tapi cukup membuatku lega. Aku menahan nafas beberapa detik saat itu. Berharap aku akan kuat melakukannya, dan aku benar-benar melakukannya. Berdamai secara tidak langsung dnegan orang yang kaukasihi itu.


Lega. Itu perasaanku saat itu. Aku mulai mengerti tentang arti maaf, tapi untuk perasaan yang satu ini, aku tidak akan pernah bisa mengerti. Aku tahu, maafku waktu itu melambangkan perdamaian atas semua hal yang pernah kita permasalahkan. Tentang aku yang terlalu egois memaksa. Tentang aku yang terlalu tidak mengerti perasaanmu dan perasaannya. Tentang aku yang tidak tahu betapa besar rasa cinta dan kasih sayang kalian. Dan tentang aku yang terlalu menyayangimu.

Cileungsi , 11 April 2013

Comments

Popular posts from this blog

"My Green School" (Hortatory Exposition)